Kamis, Juni 20, 2024

Sepucuk Cerita Pengalaman dan Tips Menulis dari Seorang Difabel

Ismail Naharuddin
Ismail Naharuddin
Admin di www.coretanpartisipatif.web.id dan Sekretaris DPD PERTUNI Sulawesi Selatan

Nama saya Ismail Naharuddin. Saya difabel visual dan sekarang lagi kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Makassar.

Sebenarnya saya suka nulis. Apalagi tulis pake gaya jurnalistik. Sejak SMP saya sudah coba membuat tulisan acak lewat blog saya yang waktu itu masih sering ngopas, hehehe…

Awalnya saya terjun di dunia maya sejak tahun 2009. Saat itulah saya sering buka-buka informasi mulai dari artis, tutorial, berita unik, olahraga dll.

Tak jarang saya mendapati situs-situs pribadi yang ternyata merupakan sebuah blog. Nah, mulai saat itu saya dengan segudang penasarannya mau cari tau sebenarnya blog itu apa dan bagaimana caranya biar bisa nulis dan dibaca banyak orang. Maka carilah saya di waktu itu informasi tentang cara membuat blog.

Singkatnya saya berhasil buat blog dengan salah satu platform terkenal. Awalnya hanya kebanyakan ngopas disertai keterangan sumber berita yang saya ambil dari berbagai media. Tapi, lama kelamaan juga saya minat buat tulisan sesuai hobi saya yang waktu itu suka bongkar-bongkar komputer, desain web, pokoknya semua yang berhubungan dengan komputer dan internet.

Nah, dengan seluruh dinamika dan tantangan bagi seorang penulis, akhirnya saya menemui banyak pengalaman soal kepenulisan. Saya latihan nulis lewat blog, belajar teknik menulis berita ala-ala jurnalistik, dan baca-baca pengalaman para senior di portal kepenulisan popular lainnya yang bertebaran di om google.

Banyak yang bilang kalo menulis itu harus kreatif dalam menciptakan topik. Tapi, kalo menurut saya pribadi, menulis bisa dari hal-hal kecil kok. Dari kejadian-kejadian di sekeliling juga bisa. Nah, tinggal bagaimana cara kita untuk menuangkannya ke dalam tulisan.

Pertanyaannya, apakah menulis itu butuh pembendaharaan kata yang tinggi? Jawabannya yah tergantung. Kalo mau cerita politik yah harus banyak tau istilah-istilah politik. Kalo mau cerita teknologi yah harus tau banyak istilah tekno, gadget, dll. Pokoknya sesuaikan sama topik.

Contohnya, kata interpretasi itu lebih cocok untuk tulisan yang berbau ilmiah. Nah, sementara untuk beberapa topik, kata interpretasi bisa diganti dengan padanan katanya seperti penafsiran. Jadi, kalo benar-benar mau belajar menulis, jangan anggap bahwa menulis itu Hanya bagi mereka yang paham segudang istilah.

Lagipula, tulisan yang baik itu adalah tulisan yang komunikatif bagi pembacanya. Nah, apalagi dalam jurnalisme. Sebuah tulisan harus mudah dicerna. Dan untuk tulisan-tulisan di blog saya rasa yang paling penting adalah inti dari tulisan itu. Yah pembaca sih tidak mau tahu seberapa tinggi tingkat penguasaan istilah-istilah dari penulis dari artikel yang dibacanya. Tapi, mereka mau tau inti dari tulisan yang mereka baca itu apa.

Misalnya saya lagi browsing tentang tutorial menginstall komputer. Terkadang malahan kalo baca pengantar-pengatar artikel yang berbelit belit saya merasa bosan sendiri. Kepengennya langsung to the point saja.

Artinya adalah untuk beberapa kasus, tulisan yang panjang dan berbahasa tinggi terkadang justru tidak menarik untuk dibaca. Jadi, penyesuaian bahasa dengan pembaca itu juga perlu.

Untuk soal ide menulis, sebenarnya ada banyak hal yang bisa diangkat dan mungkin bisa dikomentari melalui tulisan. Kita ketahui ada beberapa jenis tulisan seperti deskriptif, argumentatif, dan persuasif. Nah, tinggal tentukan saja tulisan yang akan dibuat itu termasuk ke arah mana? Apakah lebih cenderung menjelaskan sesuatu, mengajak pembaca melakukan sesuatu, atau mengomentari dan memberikan argumentasi terhadap kejadian, kebijakan, dll.

Saya pernah ikut diskusi daring tentang kepenulisan. Menurut narasumber yang kebetulan juga adalah seorang jurnalis, ide itu sebenarnya bisa dari hal kecil. Dan hal-hal kecil itu malahan punya potensi untuk bisa jadi cerpen, puisi, ataupun essay.

Ingat bahwa dalam tulisan seperti essay atau artikel setidaknya memenuhi unsur pembuka, isi dan penutup. Dari ketiga unsur ini, alur tulisan yang baik akan konsisten di garis itu. Tulisan yang baik pasti jelas yang mana menjadi pembuka, isi dan penutup.

Tulisan juga tidak selamanya harus dibuat panjang-panjagn. Seperti yang saya bilang di awal kalo untuk beberapa kasus tertentu, tulisan panjang dan bahasa tinggi bisa menjadi tulisan yang membosankan. Jika memang sudah dirasa cukup, berikan kata-kata yang bisa menggambarkan kesimpulan atau paling tidak kata-kata yang bisa jadi penutup tulisan biar tidak menggantung.

Kesimpulannya, menulis itu mulai dari niat lalu mencoba. Ndak ada penulis pemula yang langsung tulisannya bagus. So pastilah semuanya bakalan butuh proses kawan! Selama kita mau belajar, pasti kita yang sekarang lebih baik daripada yang sebelumnya. Keep Spirit and Express Your Own Style…!

Ismail Naharuddin
Ismail Naharuddin
Admin di www.coretanpartisipatif.web.id dan Sekretaris DPD PERTUNI Sulawesi Selatan
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.