Sabtu, Mei 25, 2024

Marissa Anita dan Cinta Pertamanya

 

Marissa Anita (Andrey Gromico/Geotimes)
Marissa Anita (Andrey Gromico/Geotimes)

Penampilannya sangat sederhana meski cantik. Lembut dan bersahabat. Sosok yang dengan mudah membuat Anda jatuh cinta. Namanya Marissa Anita. Jalannya menjadi seorang news anchor sangatlah panjang dan berliku. Kecintaannya terhadap seni dan film  membentuknya menjadi sosok menyenangkan, berwawasan, dan ramah.

Alih-alih menjadi jurnalis, Marissa justru mengawali kariernya sebagai seorang guru. Marissa tekun menempuh pendidikannya. Baginya, latar belakang dunia pendidikan berguna. Selepas menuntaskan S1 Bahasa Inggris, demi melanjutkan mimpinya, dia memutuskan melanjutkan studi jurnalistik.

Banyak hal menjadi pertimbangan Marissa. Alasan pertama, pendidikan dapat menjadi pijakan sikap. Kerja seorang jurnalis tak hanya mewartakan informasi, tapi lebih penting lagi untuk memberikan edukasi kepada masyarakat.

Alasan kedua, pendidikan menjadikan Marissa menjadi pribadi yang cepat belajar dan beradaptasi. Pendidikan ialah pijar pembangunan manusia. Itulah impresi pertemuan saya dengan Marissa.

Menjadi guru, lalu kerja lapangan sebagai penulis, reporter, dan news anchor wawasan Marissa berkembang. Sikap ramah terhadap lawan bicara adalah hasil proses panjang. Tak ada kesan terintimidasi dengan kepintaran dan wawasan yang dimilikinya ketika berbincang. Marissa justru begitu terbuka berdiskusi.

Saya menyebut Marissa sebagai Women of Process, menolak diam di satu titik nyaman, jangkauan kreatif Marissa mencapai kerja-kerja estetis macam drama dan film. Tak hanya itu, Marissa pun piawai bernyanyi.

Apakah memang sejak awal sudah jadi cita-cita terjun ke dunia jurnalisme televisi?

(Marissa tertawa kecil) Sebenarnya cita-cita terpendam jadi pramugari. Ya, salah satunya saya ingin jalan-jalan gratis. Tapi harapan itu pupus, karena saya ditolak salah satu maskapai terbesar Asia. Saat itu alasannya karena saya masih kuliah dan belum selesai. Sementara salah satu persyaratannya adalah bergelar S1.

 

Apa saja cita-cita sejak kecil? Mengingat biasanya anak kecil sering berubah-ubah mengenai cita-cita…

Hmm, saya konsisten sejak kecil. Saya selalu ingin menjadi pramugari karena hadir dari keluarga no privilege. Gak mudah mendapatkan akses jalan-jalan. Semasa liburan usai, saya hanya dapat mendengar cerita teman-teman yang pulang dari jalan-jalan.  So, the only way to get free ticket bus adalah menjadi pramugari. Tapi saya tak berkecil hati, Tuhan punya rencana lain. Akhirnya diberi kesempatan mendapat tiket gratis itu dengan pekerjaan saya sekarang, yakni wartawan.

Saat pertama kali terjun jadi reporter apakah Marissa merasakan enjoy?

Ya, kaya anak kebingungan. Meskipun paham teori, tapi di lapangan yang dinamis harus berhadapan dengan banyak orang banyak situasi. Tapi, ketika menjalaninya setiap hari akhirnya terbiasa. Saya suka diberi tantangan. Zaman dulu di Metro TV, jarang sekali produser membantu menyiapkan pertanyaan untuk saya ketika show. Saya harus riset sendiri untuk menghindari tampak bodoh di muka layar kaca. Tantangan demi tantangan tersebut justru tak menjadi beban bagi saya malah membantu saya berproses.

marissa anita_4

Menanggapi situasi saat ini, di media selalu ada kepentingan yang membuat seorang reporter tidak netral posisinya. Entah dengan alasan apapun selalu ada kepentingan…

Dulu, sebelum acara dimulai, ada seorang produser yang menuntut untuk tidak menyebutkan beberapa nama , tapi ketika acara dimulai, saya sebutkan nama-nama tersebut. Saya menjaga diri saya tetap independen. Fakta harus dilaporkan sebagai fakta. Tidak dilebihkan atau dikurangi. Dulu di Metro, banyak produser yang menghargai indepedensi saya. As long as it’s truth, it’s honesty, then should not be problem. Menurut saya, seorang wartawan harus jujur dan menjaga indepedensinya.

Tentang minat di seni dan film, lalu kiprah di dunia teater…

Seni adalah cinta pertama saya. Dari kecil saya dibiasakan nonton film. Because my dad loves movie, and my mom loves music. Suami saya pun sempat sekolah film.  Itu proses belajar saya. Jadi, came naturally. Saya juga sudah 8 tahun menekuni teater. Saya senang memainkan berbagai karakter. Sekarang saya menjadi produser eksekutif pementasan Jakarta Player berjudul Circle Mirror Transformation (karya Annie Baker, pentas 5 Juni lalu). Kemampuan akting datang dari menonton, then I did it. I need art in my life.

Peran seni di hidup…

Saya butuh seni untuk  tetap waras. Kaya tempo minggu, saya sedang membaca sesuatu. Tiba-tiba menangis. Saya ini tipe orang yang ketika membaca sesuatu benar-benar terpikir terus di kepala. Suami saya bertanya. Kontan saya menjawab, my country is so messy… Banyak hal yang rumit dan berantakan. Politik, perang, pengungsi, ketidak pedulian atas nama ambisi. It drive me crazy. Suka kebawa perasaan, dan isi kepala saya berantakan (ketika riset). Seni menghibur saya.

Tentang film di tanah air…

Banyak sekali karya bagus luput tayang di bioskop. Saya suka sekali beberapa film pendek yang saya tonton akhir-akhir ini The Fox Exploit The Tiger Might, Kisah Cinta Yang Asu, atau film karya Teddy Soeriatmadja. Mereka keren. Berhasil menangkap permasalahan yang dekat. Membicara seks (sebagai gejala sosial), isu rasial, bahkan isu dominasi satu dengan yang lain. Tema-tema yang dekat tersebut justru yang dapat membangun. Contohnya, di negara tanpa represi sensor, keterbukaan dan tidak munafik, justru angka pemerkosaan rendah.  Harapannya, film maker-film maker independen harus dapat perhatian lebih.

Perhatian pemerintah yang minim di sektor pendanaan tidak berbanding lurus dengan peran negara asing dalam menyokong pertumbuhan film independen…

Ya, karena mereka (barisan negara penyokong dana dari Eropa) merupakan first world country. Sementara kita third world country terlalu banyak yang dipikirkan. Sehingga film hanya jadi urusan ke sekian. Masih memikirkan perut orang dan korupsi, jadi sangat mengganggu. Industri kreatif dapat menjadi salah satu penyokong perekonomian, seharusnya. Mempromosikan kebudayaan Indonesia sangat potensial karena keberagaman kultur.

Film favorit seperti apa? Yang memberikan kesan selepas menonton…

Saya suka film bertema human interest. Beberapa film yang menampilkan hubungan manusia. Drama yang masuk akal (dan memperlihatkan wajah manusia dengan kejujuran). Saya suka horor. Saya suka film horor ketika sosok hantu tidak tampak baik-buruk (secara polos, secara hitam-putih). Karena manusia itu tidak ada yang jahat betul dan baik betul. Setiap orang punya sisi gelap masing-masing. Film-film dengan karakter yang bulat dan penuh.

Musik sebagai warisan kultural masa lalu dan pelipur. Kesukaan Mbak Marissa terhadap Jazz…

Dulu ada masa ketika jarang mendengarkan musik. Sangat frustasi. Ketika setiap hari mendengarkan musik itu rasanya banyak sekali kebahagiaan. Saya sering mendengar Jazz  jaman lawas, lagi nyaman mendengarkan Natalie Cole. Banyak juga sih kesukaan saya. Jazz lawas ditulis dengan bagus dan diaransemen penuh penjiwaan. Kurang mendengarkan musik membuat saya depresi (dan pikiran keruh). Saya terlalu banyak mengonsumsi masalah dunia dalam pekerjaan.

Kenapa memilih bergabung dengan Jakarta Player?

Waktu itu saya sedang bermain teater di Atmajaya. Kemudian ditawari. Karena ada charity di situ. Hasil penjualan tiket pertunjukan dialokasikan ke akses pendidikan. Ada taman bacaan Taman Pelangi yang jadi prioritas. Saya benar-benar concern dengan pendidikan. Indonesia akan semakin maju kalau pembibitannya berkualitas. Pemerataan akses yang belum merata jadi salah satu kegundahan. Dapat membantu banyak orang lewat hasil pementasan jadi kebahagiaan tersendiri.

Suami dan mbak Marissa punya “kecanduan” terhadap seni. Sejauh mana seni mempengaruhi kehidupan rumah tangga?

Seni itu mempengaruhi dalam bentuk diskusi. Kebanyakan selepas menikmati seni, kami membicarakannya. Terciptalah sebuah koneksi. An Intellectual Ping Pong. Itulah yang membuat pasangan itu selalu menarik. Cara kita saling memandang satu sama lain jadi sangat menarik. Diskusi itu tidak pernah berakhir, karena melalui diskusi tentang seni dapat membuka banyak sisi masing-masing. Sebuah proses tanpa ujung. Saya mengagumi suami saya karena sangat pintar. Menurut saya di situlah keseksian seorang pria, ketika sedang berbicara. Kita setara. Suami saya mengajarkan feminism, kesetaraan gender. Art very important in our relationships, it creates discussion, and discussion is good.[*]

Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.