Jumat, Maret 1, 2024

Marinka dan Obsesi Memasak

Chef Marinka (Andrey Gromico?geotimes)
Chef Marinka/THE GEO TIMES/Andrey Gromico

 

Kini memasak tak lagi jadi kegiatan yang membosankan dan terkesan kotor. Memasak menjadi kegiatan yang seru dan layak tonton. Terutama sejak kegiatan memasak menjadi acara televisi. Bahkan kini menjadi seperti jamur di musim penghujan.

Master Chef Indonesia dan Master Chef Junior Indonesia salah satunya. Lewat ajang memasak ini talenta seseorang dari segala macam profesi benar-benar diadu. Sang juri menguji kemampuan masing-masing peserta yang lebih menonjolkan bakat dan kemampuan mereka dalam mengolah makanan.

Tidak hanya dalam mengolah makanan saja, tapi mereka juga harus kreatif membuat berbagai kreasi resep yang berbeda dengan bahan-bahan yang telah disediakan.

Yang membuat acara ini terlihat wah, karena dukungan peralatan memasak yang semuanya serba modern dan berkualitas, serta penyediaan berbagai bahan yang komplit layaknya kita berbelanja di pasar.

Selain itu yang menarik, peserta Master Chef Indonesia, terdiri dari berbagai kalangan, seperti pengusaha, perajin, ibu rumah tangga, mahasiswa, pelaku bisnis yang semuanya mempunyai kecintaan luar biasa mengolah bahan makanan atau memasak.

Menonton ajang memasak itu sama menariknya dengan berbincang dengan salah satu juri. Bertemu satu-satunya juri perempuan ajang adu kreatifitas memasak ini memang berbeda. Perempuan yang biasa disapa Chef Marinka mengaku memiliki pegalaman luar biasa menjadi salah satu juri Master Chef Indonesia dan Master Chef Junior Indonesia.

“Sudah lima kali saya menjadi juri ajang tersebut,” katanya saat ditemui di Mars Kitchen di Jakarta Selatan.

Melelahkan memang, tapi  perempuan yang lahir dengan nama Maria Irene Susanto ini merasa senang karena melihat banyak orang dan anak yang berhasrat besar menjadi chef. “Ibarat pedang bermata dua sebenarnya jika saat ini chef dianggap profesi bergengsi. Beda dengan dulu, memang. Di satu sisi saya bangga, di sisi lain, gampang banget orang menyebut dirinya chef. Padahal saya harus bersekolah selama dua tahun untuk bisa menjadi chef,” kata perempuan yang biasa disapa Rinrin Marinka.

geotimes_andreygromico_marrinka_2 copy
Chef Marinka/THE GEO TIMES/Andrey Gromico

 

“Saya tidak respek karena ba­nyak artis sekarang ini yang ter­jun ke dunia kuliner. Kalau buat saya, kalau dia sudah jadi artis, ya artis saja. Jangan ikut-ikut­an. Kan suatu profesi itu harus di­jalankan dengan serius,” kata perempuan kelahiran Jakarta 22 Maret 1980.

Menurut dia, yang layak disebut chef se­baiknya mereka yang memiliki latar belakang pendidikan dan penga­laman di dunia chef saja.

“Saya kecewa dengan hadirnya chef baru yang bermodalkan ketenaran saja. Sedangkan saya harus be­lajar lama dulu untuk men­jadi chef, ditambah pengalaman sa­ya di dunia kuliner,” ujarnya.

“Ada juga yang ha­nya bermodalkan keseksian me­reka, menonjolkan sesuatu yang bisa dilihat, bukan cara ia bereksperimen dalam ma­sakannya,” kata penyandang gelar Grand Dip­loma French Cuisine & Pa­ti­sserie Le Cordon Bleu, Syd­ney, Australia dengan spesialisasi French Cuisine and Patisserie ini.

Setelah lulus kuliah, Marinka sempat mengajar di Pantry Magic Cooking School di Kemang. Sebelum berkarier di bidang kuliner, cita-cita awal perempuan kelahiran 22 Maret 1980 itu adalah menjadi pelukis. Dia mengambil jurusan art & design di KvB Institute, Sydney, Australia.

Lalu ia melanjutkan studi ke jurusan fashion design di kampus yang sama. ’’Saya hobi menggambar. Kalau nggak jadi chef, mungkin saya jadi pelukis,’’ ucap perempuan yang pernah bercita-cita menjadi superhero atau agen rahasia ini. Setelah itu, dia mengambil sekolah French Cuisine & Patisserie di Le Cordon Bleu, Sydney.

Menurut Rinrin ada garis merah antara menggambar, fashion dan memasak. “Memasak adalah seni. Dan masakan adalah karya seni yang harus bisa dinikmati secara rasa dan fisual.”

Namun, dapur juga bukan tempat yang asing bagi Rinrin. ’’Sejak umur 7 tahun, saya suka di dapur. Bantuin mama bikin kue. Saya masih ingat kali pertama bikin bolu kukus, tapi bantat,’’ katanya.

Kembali ke tanah air, Marinka mendapat tawaran untuk menjadi presenter acara kuliner. Kiprah Rinrin di dunia kuliner di Tanah Air melejit saat ia membawakan acara Cooking in Paradise di Trans7. Sebelumnya, ia telah menjadi pembawa acara Sendok Garpu di JakTV.

Dalam acara di Trans7, Rinrin ditantang untuk membuat masakan dari bahan-bahan ala kadarnya yang ditemui selama berpetualang di daerah yang ia kunjungi. Karena kegiatan memasak lebih sering di alam terbuka, mau tak mau busana yang dikenakannya harus disesuaikan dengan cuaca yang panas.

Dari situlah Rinrin disebut sexy chef. Norak, kata Rinrin. “Kalau mau menyebut saya seksi ya sebagai pribadi aja. Kalau chef kan pekerjaan professional.”

Kemudian, dia dipercaya sebagai juri Master Chef Indonesia untuk kontestan dewasa maupun anak-anak. ’’Jadi, juri untuk kontestan dewasa sama yang junior perlakuannya pasti beda. Kalau ke kontestan anak-anak, cara mengkritiknya harus lebih hati-hati, nggak boleh terlalu pedas,’’ tuturnya.

Apakah Rinrin merasa terbebani menjadi juri yang notabene menentukan nasib orang bahkan anak-anak? “Nggaklah kalau terbebani. Sebisa mungkin saya jujur dan objektif saja. Jadi nggak ada penyesalan kemudian. Toh ada tiga juri. Jadi bukan keputusan saya pribadi tapi keputusan tiga orang. Jadi kadang satu juri melawan dua atau sebaliknya. Pada akhirnya yang menang benar-benar layak menjadi pemenang.”

Lantas apakah ada orang tua peserta Master Chef Junior yang tidak terima dengan penilaian juri?

“Rasanya nggak ada. Lagipula jika sudah mengijinkan anaknya ikut kompetisi harus rela anaknya dinilai dan siap jika anaknya kecewa hingga nangis.”

Setelah lima kali menjadi juri Junior Master Chef Indonesia, Marinka membagi konsentrasinya untuk proyek baru. Rinrin tengah menyiapkan sebuah kafe mungil yang disebutnya sebagai healthy place. Tempat yang diberi nama Mars Kitchen itu akan menyediakan cake, snack, dan dessert sehat.

Ada cerita haru di balik Mars Kitchen. “Kebetulan ayah saya meninggal karena penyakit komplikasi, jantung, diabetes dan kanker. Bisa dibilang papa adalah inspirasi saya menciptakan masakan enak tapi sehat,” kata Rinrin.

Menu-menu tersebut bisa dinikmati setiap orang, termasuk orang dengan masalah kesehatan seperti penderita diabetes. Sajian yang disiapkan gluten-free dan rendah gula. Bahkan, ada yang dibuat tanpa gula, diganti dengan madu atau agave.

Dia mengaku sudah lama ingin membuat makanan yang sehat tapi rasanya enak. Banyak orang mengeluh, makanan sehat sering rasanya tidak enak. ’’Kalau ini, rasanya enak. Setelah makan, nggak perlu merasa bersalah,’’ kata Rinrin.

Kafe tersebut baru dua bulan beroperasi. Ibaratnya Rinrin baru memiliki bayi. Rinrin mengaku repot karena menangani semua detil secara langsung mulai resep hingga pembuatan menunya.

Usut punya usut, bakat memasak menurun dari omanya. Sang oma dulu sempat membuka katering. “Itu juga saya baru tahu setahun lalu. Sedangkan mama tidak senang memasak.”

Ia mengaku sudah hobi berkecimpung di dapur sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Aneka bahan makanan yang ada biasa ia campur sekenanya. Hasilnya?

“Kalau tidak gosong, ya, kuenya jadi bantat,” kata dara kelahiran 22 Maret 1980 itu diiringi derai tawa.

Tapi Rinrin tak pernah kapok. Kelak, hobi memasak itu amat berguna saat ia melanjutkan sekolah di Australia. Di sela mempelajari bidang desain di Jurusan Art & Design KvB Institute di Sydney, ia biasa mengisi waktunya dengan memasak. Bahkan, ketika sekolahnya di bidang desain telah rampung, ia memperpanjang tinggal di Negeri Kanguru dengan bersekolah di Le Cordon Bleu Sydney selama hampir dua tahun. Banyak orang menganggap ini sekolah terbaik di dunia untuk belajar masak-memasak.

Rinrin merasa tak ada yang salah dengan keputusannya itu. Memasak baginya merupakan salah satu bentuk seni. Sebagai seniman, kata penyuka parfum Lovely dari Jessica Sarah Parker itu, seorang koki atau chef harus mampu mengeksplorasi untuk membuat makanan yang lengkap sehingga bisa dinikmati secara rasa dan visual.

geotimes_andreygromico_marrinka_4
Chef Marinka/THE GEO TIMES/Andrey Gromico

 

“Kepribadian seseorang bisa dilihat dari cara masak dan menyajikan makanan di piring dan meja,” ujarnya.

Selain memasak ada hal unik yang digemari Rinrin. Jika dilihat sekilas dari keahlian memasak dan tubuhnya yang mungil, orang akan mengira ia pribadi yang feminin. Siapa sangka dengan tinggi badannya 158 sentimeter dan berat 48 kilogram, Rinrin adalah penggemar olahraga ekstrim.

Berbagai macam olahraga yang biasa digeluti kaum lelaki, seperti menyelam, arung jeram, paralayang, panjat dinding, hingga tinju, sudah pernah dicobanya.

Banyak orang penasaran. Cantik, seksi dan jago memasak adalah nilai plus seorang perempuan. Tapi kenapa hingga kini Rinrin masih melajang? Apakah Rinrin sengaja melajang agar fokus pada kariernya?

“Nggaklah. Belum ketemu jodoh aja,” katanya kalem. “Saya tipe santai tapi nggak going with the flow juga. Jadi mungkin belum saatnya saja.”

Teror pertanyaan kapan kawin sudah dilaluinya di usia 20-an. Kini pertanyaan itu sudah mereda. Selalu ada sisi positif dan negatif menjadi lajang. “Banyak teman sudah menikah bahkan memiliki anak. Sehingga kalau akhir pekan mereka banyak menghabiskan waktu dengan keluarga. Jadi kalau lagi nggak punya pacar, saya lebih banyak di rumah. Tapi saya bisa fokus ke keluarga, banyak me time, fokus ke kerjaan dan merawat diri.”

Lantas bagaimana jika akhirnya Rinrin harus memilih, menikah dan harus berhenti berkarier?

“Saya akan memilih pasangan meski disuruh berhenti bekerja. Karena dia akan menjadi suami saya yang notabene keluarga. Buat saya keluarga nomor satu.”

Lelaki ideal di mata Marinka, adalah lelaki berintegritas. “Banyak lelaki baik tapi sedikit yang benar. Baik belum tentu benar. Benar pasti baik. Kalau benar pasti bisa membedakan benar atau salah. Bukan bohong demi kebaikan…nah itu yang nggak bener.”

Di akhir perbincangan Rinrin berbagi tips bagi orang yang ingin ter­jun ke dunia kuliner, baik itu chef, bisnis restoran dan seba­gainya.

“Persaingan semakin ketat. Untuk bertahan, ciri khas, originalitas, konsistensi, dan smart marketing yang bisa membantu,” kata Rinrin.

Rinrin masih memiliki mimpi. Suatu hari nanti bisa membawa dan mempopulerkan masakan Indoensia ke mancanegara. Rinrin punya obsesi suatu hari nanti bisa menciptakan modifikasi menu Nusantara dan membawanya ke dunia internasional sebagai ciri khas Indonesia. “Misalnya, hasil eksperimen saya, oncom bebek atau mi abon dengan kualitas rasa internasional,” tuturnya.

Karena itu, cita-cita lainnya untuk membuka culinary school juga harus ditunda.[*]

Facebook Comment

1 KOMENTAR

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.