OUR NETWORK
Minggu, September 19, 2021

Revisionisme: Menggugat Sejarah Keselamatan

Avatar
Anick HT
Aktivis Pusat Studi Pesantren dan Direktur Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP)

Tahun 1985, berdiri sebuah kelompok yang menamakan diri “The Jesus Seminar” yang secara khusus melakukan penelitian otentisitas Injil. Mereka meneliti empat Injil resmi (Matius, Markus, Lukas, Yohanes) dengan pertanyaan: apakah Injil-injil itu mengandung pernyataan otentik Yesus? Hasilnya diterbitkan dalam buku The Five Gospels: The Search for the Authentic Words of Jesus (1993): Hanya 18% dari pernyataan yang dinisbatkan kepada Jesus dianggap otentik, dan sisanya (82%) dianggap tidak berasal dari Jesus.

Penelitian ini adalah bagian dari perdebatan panjang tentang apa yang disebut dengan “Yesus Historis”. Pertanyaan besarnya adalah: apakah sejarah agama yang ditulis dan dipercaya selama ini adalah sejarah apa adanya, atau sebenarnya itu adalah apa yang disebut dengan sejarah keselamatan (salvation history)?

Pertanyaan ini juga berlaku dalam penulisan sejarah Islam dan Muhammad. Sejauh yang diketahui, kitab-kitab sirah dan sejarah Islam mulai ditulis antara tahun 750-800 Masehi. Itu berarti empat atau lima generasi setelah wafatnya Nabi Muhammad. Lebih dari 100 tahun. Ibnu Ishaq adalah penulis biografi Nabi paling awal yang karyanya sampai kepada kita sekarang. Dan beliau wafat pada 150H/767M. Perlu juga dicatat di sini, karya Ibnu Ishaq yang sampai kepada kita sekarang itu dihimpun oleh Ibnu Hisyam yang wafat pada 218H/833M. Jauhnya rentang jarak penulisan sejarah ini memunculkan banyak keraguan atas otentisitas sejarah yang ditulis.

Masalah berikutnya adalah tidak adanya sumber lain yang menjadi rujukan kita, sehingga hingga kini sejarah Nabi Muhammad kita terima dari sumber penulisan sejarah yang sedikit itu, dan ditulis oleh orang muslim sendiri. Inilah yang memunculkan skeptisisme dan anggapan bahwa kitab-kitab sirah dan sejarah yang ditulis oleh kaum Muslim bukanlah “sejarah” dalam pengertian yang sebenarnya, melainkan “sejarah keselamatan” (salvation history), dalam arti menyuguhkan narasi atau kisah-kisah untuk mengidealkan pribadi Nabi dan komunitas pengikutnya.

Inilah yang memunculkan beberapa tipe pendekatan dalam penulisan sejarah asal usul dan pembentukan Islam awal (Islamic origins) yang memunculkan alternatif rujukan sumber sejarah Islam: penelitian arkeologis, dan sumber bacaan yang ditulis oleh non-muslim. Sayangnya, pemerintah Arab Saudi tidak mengijinkan penelitian arkeologis dilakukan di beberapa titik (ter)penting setting sejarah Muhammad.

Yang paling ekstrem adalah pendekatan skeptik yang salah satunya diwakili oleh John Wansbrough, antara lain lewat bukunya, Qur’anic Studies (1977). Pendekatan ini berdiri di atas asumsi bahwa sumber-sumber tradisional dari penulis muslim tersebut lebih merefleksikan apa yang para mereka bayangkan tentang Nabi dan periode awal ketimbang kenyataan yang sebenarnya telah terjadi. Jika demikian halnya, maka sumber-sumber tradisional tersebut tidak bisa dijadikan sumber untuk merekonstruksi atau memotret Islam awal.

Yang paling kontroversial dari ide-ide Wansbrough adalah pandangannya menyangkut asal-muasal Alquran. Baginya, Alquran merupakan produk dari situasi yang disebutnya “sectarian milieu”, yaitu suatu lingkungan konfrontasi polemis yang melibatkan sekte-sekte keagamaan yang sudah mapan seperti Yahudi dan Kristen.

Iklim polemik yang menjadi latar belakang lahirnya Alquran, menurut Wansbrough, bukanlah jazirah Arabia di mana komunitas Yahudi relatif sedikit, melainkan di Irak, pusat kekuasaan khilafah ‘Abbasiyah dan tempat bermukimnya kaum Yahudi dan sekolah-sekolah Rabi. Proses standardisasi teks Alquran, yang disebut Wansbrough dengan istilah “kanonisasi”, terjadi sekitar awal abad kesembilan Masehi, atau 150 tahun setelah wafatnya Nabi (bukan di zaman Abu Bakar dan Umar seperti yang kita pahami selama ini).

Kesimpulan Wansbrough ini juga mengkonfirmasi pendapat ahli literatur Suryani, Alphonse Mingana (1916), bahwa pengumpulan Alquran dan penulisannya secara resmi baru terjadi pada zaman ‘Abd al-Malik bin Marwan, khalifah Umayah kelima, yang berkuasa pada 65-86/685-705. Namun Wansbrough menariknya lebih ke belakang lagi, yakni bahwa stabilisasi teks Alquran baru terjadi pada awal pemerintahan ‘Abbasiyah di Irak.

Pandangan Wansbrough ini punya implikasi penting bagi studi Islam awal, karena mengandaikan bahwa Muhammad itu adalah figur fiktif yang sengaja dihembuskan untuk memisahkan agama baru (Islam) dari tradisi agama-agama sebelumnya. Itulah sebabnya, menurut Wansbrough, Muhammad dikonstruksi lahir di Mekah yang jauh dari tradisi Yahudi di Irak.

Tesis Wansbrough kemudian dikembangkan oleh Patricia Crone dan Michael Cook dalam karya mereka yang sangat provokatif berjudul Hagarism: The Making of the Islamic World (1977), yang mencoba merekonstruksi munculnya Islam dengan menggunakan sumber-sumber non-Muslim. Upaya mereka untuk merekonstruksi sejarah Islam awal dengan semata bersandar pada sumber-sumber non-Muslim menghasilkan potret Islam awal yang sama sekali berbeda dengan gambaran yang disajikan oleh sumber-sumber muslim.

Nah, paparan di atas adalah sekelumit cuplikan dari pembahasan dalam buku “Kemunculan Islam dalam Kesarjanaan Revisionis” karya Mun’im Sirry ini. Buku ini merangsang dan menantang kita untuk mempertanyakan kembali kesahihan narasi sejarah yang selama ini kita terima begitu saja sebagai sejarah awal pembentukan Islam sebagai agama.

Berdasarkan sumber-sumber yang sampai ke kita, Islam digambarkan sebagai agama yang sudah seperti sekarang ini ketika Nabi Muhammad wafat. Sudah final dalam segala aspeknya. Nah, buku Mun’im ini dengan canggih merangkum perkembangan mutakhir dalam kesarjanaan mengenai asal usul Islam: bagaimana sebetulnya bentuk dan watak Islam awal?

Sebagaimana dibahas oleh buku ini, kaum revisionis melihat Islam seperti halnya sejarah agama-agama lain, yakni berkembang secara bertahap, dan muncul sebagai implikasi dari kebutuhan sosial yang melingkupinya. Di samping itu, dalam beberapa aspek, narasi sejarah yang ditulis oleh kaum tradisionalis juga dianggap sangat dramatis, too good to be true. Terlepas apakah kita setuju atau tidak dengan kesimpulan para revisionis dalam merekonstruksi sejarah Islam, setidaknya sikap kritis terhadap sejarah yang sampai ke kita sangat penting untuk dikembangkan.

Sebagaimana kekristenan yang bertahan hingga kini meskipun banyak temuan sejarah yang menantang dan mengancam meruntuhkan keyakinan penganutnya, umat Islam juga perlu secara dewasa menyikapi kritik dan tesis-tesis yang sepertinya mengancam segala keyakinan yang kita terima secara taken for granted.

Avatar
Anick HT
Aktivis Pusat Studi Pesantren dan Direktur Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP)
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.