Rabu, Juni 16, 2021

Utang, Literasi, dan Investasi

Tegakkan Spirit Demokrasi Pancasila

Peran pemuda sangat dibutuhkan dalam mengawal kejadian dan fenomena yang muncul di negara saat ini. Pemuda harus menegakkan keadilan di negara ini agar demokrasi...

Kegagalan Produksi Makna Kru Setnov

Ada hal yang menarik jika kita mengkaji teori ekonomi dan sosial. Apalagi ketika kita mengkaji teori marxisme. Dalam teori marxisme, ada dua hal yang...

Puan Maharani Itu Menteri yang Berprestasi

Sebuah kritik atas kinerja pemerintahan dan juga yang ditujukan kepada para menterinya, memang tiada henti-hentinya. Sebuah lembaga survey bernama Lembaga Klimatologi Politik (LKP) melakukan...

Yogyakarta Darurat “Klitih”

Jogja, yang disebut–sebut sebagai daerah istimewa, seperti penggalan lirik lagu dari Jogja Hip Hop Foundation “ Jogja jogja tetap istimewa, istimewa negerinya istimewa orangnya”,...
Ahmad Zacky Makarim
Mahasiswa S1 Finance, International Islamic University Malaysia. Wakil Kepala Pusat Kajian dan Gerakan PPI Dunia 19/20. Sekretaris Umum HMI Malaysia.

Belakangan ini, belantara media sosial diriuhkan oleh suatu kasus yang menarik perhatian publik. Yakni investasi saham dengan menggunakan uang hasil ngutang ke sejumlah kreditur.

Alih-alih untung, justru investor utang ini malah buntung. Mereka merasa tertipu oleh saham yang melantai di pasar modal. Keluhan mereka beredar luas di jagat media sosial. Banyak netizen yang ikut angkat bicara mengenai hal tersebut.

Dilansir dari akun instagram @ngertisaham beberapa waktu lalu, ada investor pemula yang berutang lewat 10 aplikasi pinjaman daring senilai Rp170 juta untuk bermain saham. Jumlah uang yang tentu tidak sedikit bagi investor newbie.

Hebatnya lagi, investor tersebut langsung hajar kanan (maksud: menaruh semua) hanya pada 1 jenis saham. Walhasil, Ia mengalami kerugian (capital loss) yang pada saat bersamaan sahamnya anjlok.

Selain itu, ada pula nasabah yang membeli saham dari uang titipan Ibu-Ibu PKK (Pendidikan Kesejahteraan Keluarga). Ironisnya, portofolio saham yang dibeli ternyata mengalami kontraksi sebesar minus 25 persen.

Di samping itu, ada juga investor pasar modal yang rela menggadaikan Buku Kepemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB) dan sebidang tanah untuk membeli saham perusahaan tertentu.

Cuplikan di atas menunjukkan betapa hebatnya investor tersebut. Berani berinvestasi di pasar saham dengan uang “panas” hasil ngutang. Ditambah modal nekat yang langsung hajar kanan dan kiri hasil rekomendasi para influencer. Yang sudah jelas sesat dan menyesatkan.

Tentu kita bisa membayangkan betapa pusingnya para investor itu. Sudah rugi kemudian utang dan cicilan menanti. Untuk dibayar ke kreditur. Dengan bunga dan waktu yang ditetapkan. Syukur-syukur bisa melunasi utangnya. Jika tidak, debt collector akan mendatangi mereka jika gagal bayar.

Apalagi saat ini kita masih berada di masa pandemi. Para debitur jelas membutuhkan uang untuk hidup. Sementara para kreditur tentu membutuhkan likuiditas yang baik untuk memutar uangnya.

Jika salah satu bermasalah, pastinya akan membentuk lingkaran setan (vicious circle) di antara mereka.

Jadi teringat apa yang dikatakan Abah Dahlan Iskan dalam Catatan Disway-nya berikut:

“Mereka boleh pintar, kita tidak boleh bodoh”

Para influencer di media sosial boleh saja mempengaruhi Anda dengan segudang bualan dan jualan yang mereka lakukan. Itu memang menjadi pekerjaan mereka. Namun, kita tidak boleh menjadi investor ad populum. yang hanya ikut-ikutan tanpa memiliki pendirian.

Berinvestasi sejatinya tidak boleh buru-buru. Apalagi ikut-ikutan tren di media sosial. Investasi sepatutnya dilakukan dengan hati-hati (prudent) dan menggunakan analisa yang mendalam. Jika tidak mampu, ikuti saran para manajer investasi yang bersertifikat.

 

Pun jangan melupakan arti diksi “ceroboh” dan “sabar”. Dua kata yang akan selalu menghampiri keputusan para investor. Barang siapa yang “ceroboh” pasti kehilangan kesabarannya.

Kalau sudah ceroboh, banyak orang yang sering kepleset di lantai saham yang begitu licin (volatile) itu. Maka yang baik adalah menjadi investor yang sabar nan tidak ceroboh. Dengan cara meningkatkan kualitas literasi di bidang keuangan.

Literasi Keuangan

Ibarat buah simalakama, utang bisa menjadi berkah atau juga menjadi malapetaka.

Utang yang menjadi berkah manakala disalurkan pada sektor-sektor produktif. Utang menjadi darah segar untuk memperlancar bisnis dan usaha. Nantinya, pendapatan yang diraih bisa melunasi utang yang dipinjam.

Sebaliknya, utang yang menjadi malapetaka manakala ditempatkan pada sektor non-produktif. Akhirnya, utang yang digunakan tidak menambah pendapatan melainkan menaikkan beban bagi bisnisnya.

Contohnya adalah seperti investor di atas. Yang mana mereka asal saja menaruh uang tanpa mempertimbangkan risiko yang diterima. Kondisi tersebut menunjukkan minimnya literasi keuangan di kalangan masyarakat.

Survei literasi keuangan nasional OJK tahun 2019 menunjukan indeks literasi pasar modal Indonesia berada di level 4,92%. Meningkat dari survei sebelumnya pada tahun 2016 sebesar 4,4%.

Secara keseluruhan, indeks literasi keuangan nasional mencapai 38,03%. Angka tersebut membaik dari survei tahun 2016 yang mencatatkan angka 29,7%.

Meski ada peningkatan, namun kenaikan tersebut masih terbilang minim. Perlu ada usaha ekstra untuk mengedukasi masyarakat tentang keuangan.

Mungkin jasa influencer akan lebih tepat digunakan untuk hal ini. Daripada memberikan rekomendasi saham yang bukan porsinya.

Berinvestasi di pasar modal dengan utang sebenarnya sangat tidak dianjurkan. Ahli keuangan dimanapun akan berkata demikian.

Pahami skala prioritas keuangan yang ideal. Uang untuk investasi boleh digunakan setelah mengalokasikan dana untuk kebutuhan primer. Kebutuhan yang wajib harus didahulukan. Ketika masih ada sisa uang yang nganggur, barulah bisa digunakan untuk investasi.

Itupun belum cukup. Jenis instrumen investasi juga harus dipahami dengan baik. Sesuaikan dengan profil risiko masing-masing.

Konsepnya “high risk high return”. Semakin tinggi potensi return, semakin tinggi pula risikonya. Pilihannya tergantung pada kita semua.

Akhir kata, kita semua harus menjadi investor yang berpikir rasional dalam mengambil keputusan. Insiden di atas perlu dipetik pelajarannya agar tidak terulang kembali di masa mendatang. Kuncinya, tingkatkan literasi keuangan secara optimal.

Mudah-mudahan para investor di atas bisa membayar utang dan bunganya. Meskipun harus rela kehilangan uangnya secara cuma-cuma.

 

Ahmad Zacky Makarim
Mahasiswa S1 Finance, International Islamic University Malaysia. Wakil Kepala Pusat Kajian dan Gerakan PPI Dunia 19/20. Sekretaris Umum HMI Malaysia.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Koperasi, Keadilan Ekonomi, Pancasila

Setiap negara pada hakikatnya menganut sebuah ideologi yang menjadi dasar bagi bangsanya dalam kehidupan bernegara. Seandainya suatu negara tidak memiliki sebuah ideologi yang dianut,...

Karya, Nama, Media: Tentang Kehebohan A.S. Laksana

Tahun 2001 saya bertemu dengan seorang pelukis dari negeri Tiongkok yang namanya belum terlalu tenar. Karya-karyanya dapat digolongkan sebagai lukisan realistik, dalam arti mengambil...

Distribusi Resiko untuk Keadilan Iklim

Saat ini, daya dukung lingkungan hidup mengalami keterbatasan di tengah kondisi iklim yang menyebabkan peningkatan potensi dan intensitas kejadian bencana. Indonesia merupakan salah satu...

Tiga Tahun Zonasi, Sudahkah Memberi Solusi?

Sistem zonasi dalam perekrutan peserta didik baru untuk semua jenjang telah berlangsung selama tiga tahun. Dan jika untuk tahun ajaran baru kelak sistem ini...

Kepalsuan Gelar Duta

Salah satu karakteristik dari masyarakat modern yang paling menonjol adalah keinginannya untuk memperoleh nilai prestise. Tentu saja, keinginan tersebut bukan hal yang berlebihan. Saat...

ARTIKEL TERPOPULER