Selasa, Juni 15, 2021

Trotoar dan Kemalasan kita

Kemah Bahasa ALIF 9 Wadah Pembentukan Mahasiswa BSA Progresif

Arabic Language In Focus merupakan badan semi otonom Himpunan Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Arab UIN Sunan Kalijaga sebagai wadah pengembangan potensi akademik serta...

Menjadi Muslim yang Radikal

Dalam kamus politik Indonesia kontemporer, ‘radikalisme’ adalah satu dari sekian istilah yang paling sering disalahpahami dan disalahgunakan. Terminologi yang sebetulnya telah lama digunakan di...

Alam Semesta: Diciptakan atau Selalu Ada?

Andai Aristoteles, Al Ghazali, Ibn Rusyd, Immanuel Kant, Einstein dan Hawking sedang ngopi di alam sana, apa kiranya yang akan mereka bincangkan? Saya kira...

Kesaktian Pancasila dan Politik Memori

Peristiwa berdarah G30S/PKI atau Gestok (Gerakan Satu Oktober) adalah misteri kelam yang membawa implikasi sangat luas bagi sejarah nasional Indonesia. Sebuah peristiwa yang bukan...
Dede Kurnia
Pemuda Tasikmalaya. Senang mengamati. Mahasiswa Pascasarjana di UPI Bandung. Bergiat di Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Priangan Timur (LPMP) dan Komunitas RSBS ometlit

Selain sebagai kelengkapan jalan raya, jalur pedestrian sejatinya merupakan ruang vital di kota, pasalnya tempat tersebut menjadi tempat sosialisasi antar warga sehingga dapat meningkatkan kepekaan sosial itu sendiri. Semakin banyaknya pejalan kaki, maka akan semakin banyak eyes on the street yang diyakini oleh banyak pihak dapat mengurangi risiko kriminalitas.

Ihwal trotoar ini, warga Tasikmalaya perlu berbahagia, pasalnya trotoar di kota ini sedang dibenahi. Penulis lupa kapan tepatnya perbaikan trotoar itu di mulai, yang jelas perbaikan trotoar tersebut hampir selesai sepenuhnya. Perbaikan trotoar di kota ini, sejatinya perlu disyukuri. Penulis berasumsi; langkah ini sebagai bentuk kepedulian Pemerintah Kota. Tidak hanya peduli terhadap hak-hak para pejalan kaki, tapi mungkin hal ini juga sebagai langkah untuk mempercantik Tasikmalaya yang konon sudah tak resik lagi.

Trotoar merupakan salah satu persoalan yang njelimet tidak hanya di Tasikmalaya, tapi di seluruh Indonesia. Persoalan trotoar ini, tidak hanya mengenai fisik trotoarnya, namun juga prilaku pengguna trotoar itu sendiri. Kita semua mafhum bahwa selain masalah kuantitas yang belum sepenuhnya memadai, di Indonesia dan secara khusus di Tasikmalaya trotoar banyak dialihfungsikan menjadi lapak pedagang kaki lima, tempat parkir, bahkan jalur alternatif ketika macet.

Di dalam beberapa hal mungkin kita adalah bagian dari pelakunya atau paling tidak berkontribusi dalam prilaku-prilaku demikian, sehingga kebiasaan-kebiasaan semacam itu tetap langgeng serta menjadi hal yang dimaklumi.

Jika diidentifikasi lebih jauh, permasalahan trotoar sebagaimana penulis telah sebutkan di atas, bisa jadi merupakan sebuah persoalan yang rumit. Kadangkala, kita senantiasa mengutuk para pedagang kaki lima yang menjajakan dagangnnya di jalur pedestrian kota, atau memaki pengendara yang melaju di jalur yang semestinya steril.

Di sisi lain, tanpa rasa bersalah dan dengan santainya kita berbelanja atau duduk manis menikmati kuliner yang jual di tenda kaki lima dengan mengambil ruang berjalan orang lain. Kita mengutuk, tapi tanpa disadari kita juga menikmati apa yang kita kutuk.

Hal Menarik

Tahun 2017 lalu, periset dari Stanford University mempublikasikan hasil penelitian yang menunjukkan Hong Kong menempati urutan teratas sebagai negara yang paling rajin berjalan kaki dengan rata-rata 6.880 langkah per hari, sementara Indonesia menempati poisisi juru kunci.

Mengindikasikan bahwa kita merupakan negara paling malas berjalan kaki, dengan hanya 3.513 langkah per hari. Hasil penelitian ini semakin menegaskan bahwa masyarakat Indonesia bahkan tak mampu melewati rata-rata langkah kaki penduduk dunia, yaitu sebanyak 4.961 langkah per hari.

Hasil riset tersebut dengan sangat jelas menunjukkan bahwa kebiasaan berjalan kaki kita begitu rendah, tentu sangat wajar apabila apabila penyerobotan trotoar masih terus berjalan. Hal ini tentu aneh, kita kerap menuntut trotoar agar stertil dari pengendara dan oknum pedagang nakal, namun pada realitanya kita termasuk sekumpulan orang yang malas berjalan kaki.

Trotoar di Tasikmalaya

Ihwal perbaikan trotoar di Tasikmalaya, semoga tujuan utamanya bukan “asal cantik”, namun dapat benar-benar memfungsikan trotoar sebagaimana awal pembuatannya oleh Haussman di Paris, Prancis, yakni sebagai simbol moralitas dan higienitas. Hal yang tak kalah penting, perbaikan trotoar ini bisa menyentuh eleman dasar, yaitu mempengaruhi prilaku berjalan kaki dan menggunakan public transit itu sendiri.

Di dalam hal ini, kita perlu mengapresiasi langkah pemerintah kota dengan merevitalisasi trotoar di Tasikmalaya. Hal lain yang perlu ditunggu adalah keberanian pemerintah menertibkan tenda-tenda kaki lima agar tidak menempati jalur-jalur yang tidak semestinya. Penertiban pedagang liar merupakan langkah substantif yang harus sesegera mungkin dilakukan agar trotoar dapat kembali dinikmati oleh oleh individu yang benar-benar berhak menikmatinya, yakni para pejalan kaki.

Apabila pemerintah sudah berani melakukan hal yang sebelumnya telah dipaparkan, maka hal tersebut pun perlu diimbangi dengan kultur berjalan kaki yang ditumbuhkan oleh masyarakat itu sendiri.

Sangat disayangkan apabila trotoar yang sudah dibangun dengan memakan biaya besar, oknum pedagang kaki lima telah ditertibkan dengan segala dinamikanya, namun masyarakat masih enggan dan kurang memiliki kesadaran untuk berjalan kaki menggunakan fasilitas yang terlah disediakan. Benar-benar sangat disayangkan.

Dede Kurnia
Pemuda Tasikmalaya. Senang mengamati. Mahasiswa Pascasarjana di UPI Bandung. Bergiat di Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Priangan Timur (LPMP) dan Komunitas RSBS ometlit
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

McDonalds dan “The BTS Meal”

Belum lama ini, perusahaan ternama di dunia yaitu McDonalds (Mcd) mengeluarkan menu terbarunya, yakni “The BTS Meal” yang terdiri dari Mc Chicken Nugget, French...

Kenapa Kuliah Gratis?

Buku dan pena adalah senjata terbaik melawan kemiskinan ~ Malala Yousafzai Memberi bekal dalam bentuk pengetahuan dan keterampilan adalah cara terbaik menolong orang untuk keluar...

Buya Syafii Maarif, Harapan Terus Ada

Siapa yang tidak tahu Buya Ahmad Syafii Maarif ini. Tokoh Muhammadiyah dan tokoh nasional penting yang masih tersisa pada zaman ini. Mestinya, orang seperti...

Menakar Komunikasi Persuasi Pemerintah dalam Menghadapi Pandemi

Pada awal tahun 2020, pemerintah Indonesia secara resmi mengumumkan bahwa virus baru yaitu coronavirus jenis baru (SARS-CoV-2) dan penyakitnya disebut coronavirus disease 2019 (Covid-19) masuk...

BTS Meals dan Cerita Kuatnya Soft Power

BTS Meal merupakan sebuah menu paket makanan hasil kolaborasi antara salah satu franchise makanan cepat saji besar di dunia yakni McDonald's atau biasa dikenal...

ARTIKEL TERPOPULER