Minggu, April 18, 2021

Transportasi Online dan Indeks Kesejahteraan

Wajah-Wajah Kalah: Kisah Penyingkiran Masyarakat Tengger

Agaknya sulit untuk mencari periode sejarah yang pasti sebagai titik berangkat guna membedah proses-proses sosial-politik peminggiran kelompok-kelompok masyarakat adat penghayat agama leluhur. Alih-alih dari...

Dihadapi Bukan Menjauh dan Lari

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah sangat menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka,...

Kampanye Bermartabat, Agar Rakyat Berdaulat

Kontestasi Pilpres dan Pileg 2019 seharusnya mampu mendewasakan semua peserta pemilu untuk tidak lagi menggunakan cara-cara tidak bermartabat agar mendapat dukungan pemilih. Misalnya saja sentimen...

Membebaskan Bangsa Melalui Pemikiran Farid Esack

Sebagai Negara dengan kekayaan suku, ras budaya dan agama, Indonesia memiliki satu tanggung jawab besar yakni mempertahankan keutuhan, persatuan dan kesatuan bangsanya. Salah satunya dengan...
Rachman habib
Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Dari Data Sosial Ekonomi Agustus 2017 yang diturunkan BPS menunjukkan bahwa rasio ketergantungan penduduk Indonesia merendah. Artinya beban kelompok usia produktif berkurang dalam menanggung kelompok usia non-produktif. Itu disebabkan semakin banyak kelompok usia produktif (penduduk usia 15-64 tahun)  terserap sektor pekerjaan. Dengan begitu indeks kesejahteraan dilaporkan meningkat.

Salah satu lapangan pekerjaan yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah banyak adalah transportasi online, baik ojek maupun taksi, terutama di kota kota besar. Gojek misalnya pada 2016 menyerap 200.000 pekerja. Akan tetapi, yang perlu diperhatikan adalah apa yang membuat transportasi online menjadi magnet baru lapangan pekerjaan.

Jam kerja yang fleksibel adalah salah satu faktornya. Driver, sebutan bagi pekerja transportasi online itu, bebas memilih jam kerja. Driver tinggal menon-aktifkan akunnya jika sewaktu waktu dia ingin istirahat atau jeda kerja. Sementara di sektor pekerjaan lain mensyaratkan hitungan baku jam kerja yang tidak bisa semaunya untuk rehat.

Lain dari pada itu, transportasi online bisa mendapatkan pekerja yang melimpah karena persediaan tenaga kerja cadangan (TKC) juga melimpah. TKC dalam bahasa Marx adalah pekerja yang tidak terakomodasi oleh sektor produktif kapital. TKC berupa pekerja yang terjun di sektor informal perekonomian atau kelompok usia produktif yang menganggur. Populasi mereka diatas 60% dari total angkatan kerja di Indonesia, dan kota kota besar adalah penyumbang populasi terbanyak. Maka, transportasi online oleh sebab itu jadi tumpuan pekerjaan, karena mudah diakses dan tidak terlalu membutuhkan keterampilan tertentu.

Tentu faktor maraknya transportasi online di kota kota besar didukung oleh kondisi warga yang membutuhkan akses transportasi di tengah melesatnya laju kehidupan. Biaya transportasi online yang murah dan jalanan macet menjadikannya pilihan ketika harus menempuh tempat tujuan. Di kota kota besar ini komposisi warganya adalah mahasiswa, pekerja berbagai macam profesi, dan ditambah kunjungan orang-orang berlibur. Di kota kota kecil jarang bahkan tidak ada transportasi online.

Itulah beberapa faktor yang memungkinkan transportasi online jadi magnet baru lapangan pekerjaan terutama di kota kota besar. Akan tetapi, semakin banyak yang terserap oleh usaha transportasi tersebut tidak lantas menandakan bahwa indeks kesejahteraan kelompok usia produktif mengalami peningkatan.

Bagaimana pun, menjadi driver adalah pekerjaan rentan, yang harus bertarung dalam kompetisi tanpa ada jaminan sosial dan hukum seperti jaminan pensiun dan perlindungan bantuan hukum semisal mendapatkan masalah. Tidak adanya jamianan seperti itu merupakan ciri ciri pekerjaan di sektor informal perekonomian. Artinya seorang driver adalah seorang pekerja informal yang posisinya secara substansial tetap sebagai TKC.

Kalau demikian, apa ukuran kesejahteraan? Data statistik yang menunjukkan makin banyak yang terserap pekerjaan, justru tidak langsung menandakan peningkatan kesejahteraan. Tekanan di dunia kerja, persaingan, angka kebutuhan dan banyak hal lain yang bisa dijadikan variabel dalam mengukur kesejahteraan. Belum lagi kondisi rentan yang bisa menyebabkan hilangnya pekerjaan tanpa diduga duga.

Dengan kata lain, jika bicara kerja tidak lantas menjadikan “bekerja” sebagai variabel mengukur sejahtera atau tidak. Ini bisa diperdalam ke persoalan posisi kerja dalam menentukan eksistensi manusia. Apakah eksistensi manusia dipengaruhi oleh kerja? Jangan jangan kesejahteraan manusia dicapai ketika terbebas dari beban kerja, dan kerja hanya salah satu bagian dari sekian aktivitas manusia yang lain seperti mandi, tidur dan sebagainya.

Tentu tidak semudah itu bicara kerja hari ini di saat kapitalisme menyeluruh ke semua lini. Namun tidak ada salahnya bertanya apakah tujuan hidup itu kerja? Jika tidak, lalu apa tujuan hidup, dan bagaimana mengatasi kerja di dunia yang semakin terinklusi ke dalam sistem kapitalisme?  Dalam Islam kita juga bisa mencari dimana posisi kerja kaitannya dengan agama dan manusia. Maka, dari membahas kerja inilah persoalan kita yang sesungguhnya dimulai.

Rachman habib
Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Terorisme Akan Selalu Dapat Tempat Jika Tokoh Islam Masih Ada yang Denial

Berkali-kali sudah esktremisme kekerasan dan kejahatan terorisme terjadi di negeri kita, sejak Bom Bali yang terjadi pada tahuan 2000an sampai tahun ini. Namun sikap...

Kubur Kosong (Refleksi Iman atas Banjir Bandang di Leuwayan)

Minggu, 04 April 2021, umat Katolik sejagat merayakan hari raya Paskah. Paskah adalah peristiwa kebangkitan. Karena itu merayakan Paskah berarti merayakan kemenangan Kristus atas...

Simbol Agama dalam Aksi Teroris

Di Indonesia dalam beberapa hari ini marak terjadi penyerangan oknum yang tidak bertanggung jawab pada wilayah agama dan kepolisian. Agama merupakan simbol kolektif dari...

Menanti Istana Ibu Kota Baru

Dalam pekan kemarin virtual rencana desain Istana di ibu kota baru di Kalimantan Timur. Rencana pemerintahan Joko Widdo memindahkan dari DKI Jakarta ke Kalimantan...

Upaya Normalisasi Hubungan Irak-Arab Saudi

Pada 2 April 2021, kantor berita Irak, INA, menyampaikan bahwa Perdana Menteri (PM) Irak, Mustafa Al-Kadhimi telah kembali ke tanah air setelah mengakhiri kunjungannya...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Masa Depan Peradaban Islam dalam Pandangan Ziauddin Sardar

Masa depan peradaban Islam dalam banyak tulisan selalu dikaitkan dengan ide kebangkitan Islam yang telah dimulai sejak abad ke-18 yang lalu. Meskipun sudah kurang lebih...

Banyak Baca Buku Jadi Pintar, Sedikit Baca Jadi Orba

Minggu lalu, akun twitter Presiden Jokowi @jokowi menggunggah kegiatan membagi-bagi buku. "Membagi buku untuk anak selepas Jumatan bersama masyarakat di Masjid Jami Annur, Johar...

Perlukah Produk Riset Perguruan Tinggi Dipatenkan?

Salah satu tugas perguruan tinggi (PT) adalah melaksanakan penelitian atau riset sebagai bagian dari Tri Dharma PT. Produk-produk riset yang dihasilkan tentu saja berpotensi...

Gagalnya Kudeta Terhadap Raja Yordania?

Pada 4 April 2021, Panglima Militer Yordania, Mayjen Yousef Huneiti menyatakan bahwa pihaknya telah meminta secara resmi Pangeran Hamzah untuk menghentikan semua kegiatan atau...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.