OUR NETWORK
Senin, Agustus 8, 2022

Transformasi Ruang Publik di Masa Covid-19

Avatar
Alvin Liasta Tarigan
Just an ordinary person. Ruang Publik Research Center #RPRC

Masyarakat saat ini memiliki kesamaan dengan masyarakat pada masa lampau. Yaitu menyisihkan waktunya untuk berkumpul bersama kelompok kerabat di suatu tempat seperti kafe, perpustakaan, warung kopi dan tempat lainnya. Dengan istilah “Nongkrong” pada masyarakat millenial, mereka melakukan berbagai hal dari bermain game, berdiskusi, hingga urusan pekerjaan. Dalam konteks ruang publik kegiatan ini tidak jauh berbeda dengan yang dicetuskan oleh Jurgen Habermas. Kegiatan dialog yang dilakukan di ruang – ruang umum seperti cafe atau tempat terbuka dengan maksud dan tujuan untuk mendiskusikan realitas politik yang sedang terjadi.

Dengan perkembangan zaman terciptanya sistem komunikasi digital  memudahkan untuk melakukan interaksi. Salah satunya ialah sosial media, beragam aplikasi sosial media diciptakan untuk berbagi informasi kepada kerabat dan melakukan diskusi tanpa adanya batas jarak. Dialog yang pada mulanya hanya dapat dilakukan melalui kontak langsung saat ini sudah dapat melalui peran teknologi.

Publik Virtual

Ruang siber atau cyberspace pada dasarnya menyediakan apa yang disebut Jones (1997:22) sebagai “new publik space” Secara digital, karakteristik publik space, atau dengan menyebutnya sebagai virtual space, bisa dimaknai sebagai sesuatu yang umum atau yang sifatnya pribadi, antarbudaya atau lintas bahasa, hingga pada publik yang terkontrol atau yang bebas.

Virtual space tidaklah sama dengan tipe media elektronik  seperti radio, televisi atau penerbitan dan juga tidak pula sejenis dengan pengertian publik spaces secara tradisional dalam kehidupan nyata. Ruang siber memberikan dan menyediakan fasilitas bagi pengguna untuk menemukan cara baru dalam berinteraksi baik dalam aspek ekonomi, politik, sosial, dan sebagainya (Camp and Chien, 2000).

Bagi Habermas (2006), keberadaan internet telah memperluas sekaligus mengfragmentasikan konteks komunikasi. Meski dalam kasus tertentu ia memiliki pengaruh terhadap kehidupan intelektual, namun di sisi lain keberadaan internet membangun komunikasi yang nonformal, saluran komunikasi yang terhubung secara horisontal antar entitas, dan bahkan menjadi alternatif dalam memperoleh informasi selain media tradisional.

Di tengah masa Covid- 19 sejak tahun 2020 , publik virtual digunakan sebagai langkah upaya memutus rantai penyebaran. Masyarakat dianjurkan untuk menghindari keramaian dan kerumunan sebagai salah satu cara untuk terhindar dari virus tersebut. Dengan adanya publik virtual membuat komunikasi dapat terus berjalan seperti biasanya dengan menggunakan medium internet dan aplikasi pendukungnya.

Ruang publik seperti yang dijelaskan oleh Habermas saat ini beralih tempat pada publik virtual dengan sosial media sebagai wadah untuk melakukan sebuah dialog dan diskusi. Kegiatan dialog yang dilakukan meliputi permasalahan politik, sosial, ekonomi, kesehatan dengan menggunakan aplikasi tatap muka seperti Zoom, Google Meet, Meta, Twitter dan semacamnya. Walaupun dengan kemudahan interaksi yang diberikan oleh aplikasi tersebut namun terdapat kelemahan yang terjadi dari public virtual.

Kelemahan

Dalam publik virtual kita dapat tidak mengetahui siapa lawan diskusi ataupun pemberi saran yang terdapat dalam satu forum. Identitas yang tertera pada akun sosial media pribadi dapat disamarkan atau tidak sesuai dengan aslinya. Beberapa kelemahan yang terjadi apabila berdialog pada ruang (digital) publik ialah:

Pertama, Anonim person. Dalam beberapa ruang yang disediakan media sosial layaknya Facebook, Twitter dan sebagai terdapat ruang komentar yang dapat digunakan sebagai ruang diskusi. Tetapi dengan kebebasan dalam berkomentar seorang dapat dengan sesuka hatinya memberikan komentar dan meninggalkan komentar tersebut tanpa menyelesaikan perdebatan (diskusi) sehingga pernyataannya tidak tuntas dan stagnan begitu saja tanpa pertanggung jawaban.

Kedua, Buzzer. Terdapat buzzer yang difungsikan untuk menyerang opini beberapa orang yang tidak memiliki kesepahaman yang sama. Dengan banyaknya buzzer yang digunakan membuat brainstorming kepada para pembaca ruang diskusi tersebut. Sehingga terkadang dapat memutarbalikan fakta yang terjadi.

Ketiga, Hoaks. Kebebasan dalam memberikan pendapat di ruang diskusi virtual pada konteks media sosial dapat menimbulkan kesulitan dalam memilah informasi yang sesuai dengan fakta yang terjadi. Karena tidak memiliki penyaring dalam memberikan informasi yang benar dan dapat langsung disebarluaskan tanpa dianalisis kebenarannya.

Kelebihan

Selain terdapat kelemahan dalam publik virtual tetapi juga memiliki kelebihan dalam penggunaannya yaitu ; pertama aktivis online, dengan kemudahan mengakses sosial media atau media online masyarakat dapat mencari atau mengetahui informasi yang sedang hangat.

Pada publik virtual tidak memiliki structural antar pengaksesnya sehingga sifatnya egaliter sehingga memungkinkan semua orang untuk berpartisipasi dan berpendapat melalui jejaring daring. Salah satu sosial media yang memiliki Trendsetter yaitu, Twitter. Dengan banyaknya yang membahas atau men- Tweet kalimat tersebut sehingga menjadi pembahasan luas dan menjadi Trending Topic.

 Seperti yang hangat pada tahun 2019 yaitu, #TolakRUUOmnibusLaw dan #TolakRUUCiptaKerja menjadi sebuah kekuatan digital atau digital pressure yang menarik perhatian International. Hal ini menjadi sebuah gerakan digital yang menyatukan seluruh elemen masyarakat untuk berpartisipasi dan bersuara dalam menekan pemerintah.

Kedua, Solidaritas digital. Dalam menjalankan aktivitas di dunia maya terkadang dapat menyatukan dalam suatu permasalahan. Hal ini menciptakan sebuah perasaan solidaritas dan kesadaran politik. Seperti pada bencana alam yang terjadi di Kalimantan, longsor di Sumedang dan Gempa di Sulawesi Barat menciptakan sebuah tagar #PrayForIndonesia. Selain itu, dari munculnya solidaritas digital sehingga bermunculan platform digitial kemanusiaan sebagai bentuk kepeduluan

Ketiga, Aksesibilitas Informasi dan diskusi. Masyarakat dalam mencari informasi saat ini tidak perlu menunggu surat kabar tiap paginya. Dengan perkembangan teknologi informasi menciptakan media daring sebagai produsen berita terupdate yang dapat diakses 24 jam melalui perangkat seluler. Dengan adanya media daring kita bukan saja dapat mengakses informasi nasional melainkan juga International. Pada informasi mengenai berita pada media sosial juga sering kali terjadinya dialog dalam membahas permasalahan yang disajikan.

Di tengah era Covid–19, dengan peraturan protokol kesehatan yaitu, menghindari tempat keramaian, membuat ruang – ruang publik konvensional dihindari. Dengan terdapatnya aplikasi tatap muka daring atau media sosial menjadi salah satu cara untuk melakukan aktif melakukan dialog atau diskusi bersama kelompok kerabat ataupun masyarakat lainnya. Sehingga ruang public ber-transfromasi menjadi public virtual sebagai langkah untuk tetap eksis tanpa menggerus ciri mahluk hidup yaitu berinteraksi.

Avatar
Alvin Liasta Tarigan
Just an ordinary person. Ruang Publik Research Center #RPRC
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.