Senin, April 19, 2021

Tragedi Rohingya dan Babak Baru

Puan Maharani dan Capaian Prestatif Pembangunan Pendidikan

Soal kerja dan kinerja Puan Maharani, maka (lagi-lagi) kita harus berpatokan pada angka, data, dan fakta di lapangan. Tentu semuanya memerlukan proses untuk menuju...

Indonesia Tanpa Pacaran Bergaun Kapital

Era milenial dimana manusia mudah di doktrin tanpa harus terjun kelapangan membuat sebuah gerakan seperti layak aktivis 98  yang rela berkorban waktu dan tenaga...

Jauh dari Keluarga Saat Gema Takbir, Demi Pandemi Cepat Berakhir

Tahun ini Idul Fitri berbeda, karena bersamaan dengan situasi negeri yang sedang dilanda pandemi. Idul fitri adalah suatu hal yang sangat dinantikan oleh banyak...

Anak Muda dan Indonesia sebagai Rumah Bersama

Anak muda yang lebih sering diidentifikasi sebagai generasi millenial sering dilihat sebagai pihak yang sangat instan dalam beridentitas. Dengan kecenderungan seperti ini, mereka adalah...
Zaenal Arsyad Alimin
Jai Guru Deva Kader Muda NU

Oleh: Zaenal Arsyad Alimin*

Hampir sebulan lebih beranda media Sosial dipenuhi dengan kabar dan berita tragedi yang menimpa Etnis Rohingya. Seluruh lini masa sedang terserang Shock Culture dalam menyikapi tragedi di Rakhine ini. Mulai dari yang mendoakan, berempati, menjadi relawan sampai pengimpor konfliknya pun ada dan bahkan banyak. Sebagai manusia yang insyaf kita harus sepakat bahwa tragedi Etnis Rohingya adalah salah satu bentuk kebiadaban dalam deretan sejarah kemanusiaan. Terlepas dari nilai dan kepentingan apapun, tragedi Rohingya adalah murni kejahatan yang keji. Karena ditinjau dari aspek manapun, ini tidak bisa dibenarkan. Maka dari itu apresiasi yang sebesar-besarnya harus diberikan kepada mereka-mereka yang berempati atas tragedi ini dan memberikan bantuan kongkrit atas tragedi ini.Lalu bagaimana peran Indonesia dalam ikut serta menyelesaikan konflik tersebut ? Sebagai warga negara yang baik dan teratur penulis meyakini bahwa pemerintah Indonesia masih memegang erat amanat UUD 1945 “bahwa kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa” tanpa terkecuali, tanpa melihat ras, agama, suku etnis dan keyakinan. Dari beberapa sumber yang ada telah menyatakan bahwa pemerintah Indonesia sudah bergerak aktif untuk ikut serta dalam menghentikan dan meredam konflik tersebut. Aktifitas seperti penyaluran bantuan logistik, pembangunan sekolah, rumah sakit dan melakukan diplomasi dengan negara bersangkutan serta pihak eksternal lain seperti PBB dan Asean sudah dilakukan oleb pemerintah Indonesia. Selebihnya kita hanya menunggu hasil dan kehendak Tuhan dari usaha dan upaya pemerintah Indonesia. Sebagai komponen bangsa yang turut serta merespon konflik Rohingya yang dalam hal ini masuk dalam kategori yang mendo’akan, yang berempati, dan yang mengulurkan tangan melalui bantuan kongkrit dan riil, kita akan mengamini setiap gerak langkah positif yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia dan selalu memberikan support yang sebesar-besarnya, karena kita sadar upaya pemerintah Indonesia telah mewakili kegelisahan setiap warganya atas tragedi Etnis Rohingya ini.Akan tetapi akan lain hal dan ceritanya kalau peresponnya lahir dari kategori spesies pengangum konflik, provokator-provokator murahan, agen-agen penebar kebencian, dsb. Tragedi yg menimpa Etnis Rohingya seakan menjadi angin segar untuk memulai “babak baru” bagi mereka.Mari kita simak bersama beberapa asumsi dan analisis berikut. Menurut beberapa analisis mengungkapkan bahwa sumber utama konflik di Rakhine terhadap Etnis Rohingya adalah murni konflik yang lahir dari kepentingan para koorporat asing dari negara adidaya dalam menggeruk sumber daya alam disana. Akan tetapi untuk “menghilangkan jejak” kepentingan tersebut, tragedi di Rakhine dibalut dan diskenariokan oleh benturan SARA dalam hal ini adalah membenturkan agama Islam dan agama Budha seolah-olah murni adalah konflik agama. Padahal tanpa melihat agama atau apapun, kita tetap sepakat bahwa itu tidak boleh terjadi.Kemudian, tragedi ini akan menjadi babak baru bagi mereka menjelang percaturan dan perhelatan akbar politik di Indonesia. Sampai detik ini, kalangan oposisi pemerintah masih melakukan segala upaya dan agenda untuk memperburuk citra pemerintah. Yang terakhir adalah kasus pilkada DKI (diakui atau tidak) yang baru beberapa bulan selesai perhelatannya, akan tetapi konflik nya masih terasa sampai hari ini. Muatan SARA dalam Pilkada DKI yang dengan sengaja diperbesar spektrumnya oleh kelompok tersebut melahirkan dinamika yang belum berkesudahan. Namun harus kita akui, babak DKI hanya bisa menjinakan salah satu lawan dari pada kelompok oposisi, selebihnya kita masih menunggu. Sampai saat sebelum tragedi di Rakhine hampir tidak ada lagi ledakan konflik SARA yang diciptakan kecuali letupan-letupan yang dampaknya masih bisa terukur.Tragedi Rakhine bak angin segar bagi mereka saat isu-isu agama yang mulai “menipis”. Dengan dalih membela saudara seiman dan kemanusiaan (membelanya saya sangat sepakat), mereka melakukan gerakan membabi buta seakan kehilangan nalar logikanya. Sehingga konflik yang terjadi diseberang sana diimpor ke negara ini dengan membentur-benturkan agama Islam dan agama Budha di Indonesia. Mulai dari aksi media sosial dengan menyebarkan berita hoax, sampai kepada aksi dilapangan dengan tetap membawa nada kebencian terhadap umat Budha di Indonesia. Bahkan kalau tidak dilarang, Borobudur pun diluluh lantahkan dan dikepung oleh mereka (yang padahal apa urusannya Borobudur sama Etnis Rohingya), dengan dalih bahwa ini adalah pusat agama Budha di Indonesia. Tujuan dari semua itu hanya satu, yaitu membidik pemerintahan Indonesia dalam rangka menjelang perhelatan akbar politik 2019 nanti.Endingnya akan sama, yaitu pemerintah tidak pro terhadap muslim, pemerintah pro aseng, pemerintah tidak tegas tanggap dalam merespon kasus-kasus kemanusiaan yang menimpa muslim dan sebagainya. Dan perlu diingat, bila ada kelompok muslim lain yang tidak sejalan dan sefaham dengan mereka, bahkan melakukan antitesa dari gerakan mereka, maka stempel “tidak pro terhadap islam” dan bahkan “telah melawan Islam” sudah disiapkan untuk dihembuskan kepada masyarakat. Karena begitulah senjata yang dirasa ampuh untuk memperdaya masyarakat saat ini, yaitu membuat skenario seolah-olah pemerintah dan golongan lain yang tidak mendukungnya tidak pro Islam.Selebihnya, penulis sangat mengapresiasi gerakan moral yang mereka lakukan termasuk pengumpulan donasi untuk korban.Jadi mari kita berbela sungkawa terhadap apa yang terjadi kepada saudara kita disana dengan bermunajat kepada Allah SWT, tanpa harus melahirkan masalah dan konflik SARA baru di negeri ini dengan cara mengimpor konflik dan kebencian diseberang sana. Andai kita masih dengan pendirian bahwa dengan menebar kebencian dan konflik adalah jalan, maka mari kita menunggu waktu Indonesia menjadi Rakhine selanjutnya. Na’udzu Billahi Min Dzalik.Akhirnya semoga niat baik kita semua selalu mendapat tempat terbaik disisi Allah SWT.Tabik !!!!

*Penulis adalah Kader PMII dan Kader Muda NU

Zaenal Arsyad Alimin
Jai Guru Deva Kader Muda NU
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Terorisme Akan Selalu Dapat Tempat Jika Tokoh Islam Masih Ada yang Denial

Berkali-kali sudah esktremisme kekerasan dan kejahatan terorisme terjadi di negeri kita, sejak Bom Bali yang terjadi pada tahuan 2000an sampai tahun ini. Namun sikap...

Kubur Kosong (Refleksi Iman atas Banjir Bandang di Leuwayan)

Minggu, 04 April 2021, umat Katolik sejagat merayakan hari raya Paskah. Paskah adalah peristiwa kebangkitan. Karena itu merayakan Paskah berarti merayakan kemenangan Kristus atas...

Simbol Agama dalam Aksi Teroris

Di Indonesia dalam beberapa hari ini marak terjadi penyerangan oknum yang tidak bertanggung jawab pada wilayah agama dan kepolisian. Agama merupakan simbol kolektif dari...

Menanti Istana Ibu Kota Baru

Dalam pekan kemarin virtual rencana desain Istana di ibu kota baru di Kalimantan Timur. Rencana pemerintahan Joko Widdo memindahkan dari DKI Jakarta ke Kalimantan...

Upaya Normalisasi Hubungan Irak-Arab Saudi

Pada 2 April 2021, kantor berita Irak, INA, menyampaikan bahwa Perdana Menteri (PM) Irak, Mustafa Al-Kadhimi telah kembali ke tanah air setelah mengakhiri kunjungannya...

ARTIKEL TERPOPULER

Masa Depan Peradaban Islam dalam Pandangan Ziauddin Sardar

Masa depan peradaban Islam dalam banyak tulisan selalu dikaitkan dengan ide kebangkitan Islam yang telah dimulai sejak abad ke-18 yang lalu. Meskipun sudah kurang lebih...

Kegiatan Di Bulan Suci Ramadhan Sesuai Pancasila

Indahnya bulan suci ramadhan tahun ini disambut suka cita oleh seluruh umat Islam dari Indonesia, luar negeri dan seluruh dunia setiap tahun. Dari hasil...

Definisi Kekuatan: Hard Power dan Soft Power

Konsep Dasar Power Kekuatan atau power dalam ilmu Hubungan Internasional adalah elemen utama, terutama dalam kaca mata realisme, Morgenthau menjelaskan bahwa perilaku negara pada dasarnya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Banyak Baca Buku Jadi Pintar, Sedikit Baca Jadi Orba

Minggu lalu, akun twitter Presiden Jokowi @jokowi menggunggah kegiatan membagi-bagi buku. "Membagi buku untuk anak selepas Jumatan bersama masyarakat di Masjid Jami Annur, Johar...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.