Jumat, April 23, 2021

Tragedi Asmat dan Peran Aisyiyah Mewujudkan Indonesia Sehat

Islam dan Sejarah Politik Kekuasaan

Sejarah pada umumnya mencatat bahwa kekuasaan kaum Muslim atas dunia berakhir setelah Kesultanan Turki Utsmani dibubarkan pada 1 November 1922, lalu berubah haluan ke...

Demo Starter Pack Ala Joker

Pengaruh budaya pop pada aktivis pergerakan memang tak ada habisnya. Kalau dulu di Amerika Serikat poster "Make Love, Not War" dan ngedengerin musik Bob...

Saya, Azwar Anas, dan Rasa Curiga

Sehari setelah tulisan saya yang pertama tentang Azwar Anas dan Paha Putih terbit di sebuah media online di Jawa Timur. Telepon genggam saya menerima...

Pengangkatan PJ Kepala Daerah Jangan Lagi Melabrak UU

Pemilihan Gubernur Jawa Barat sudah berlangsung, hasil hitung cepat mendudukan pasangan Ridwan Kamil dan UU Ruzhanul Ulum sebagai pemenang. Sekalipun sudah berlangsung dengan aman...
Idham Choliq
Aktivis Muda Muhammadiyah Jawa Timur, Perawat dan Alumni Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Surabaya

Baru-baru ini Harian Kompas melaporkan kondisi kesehatan anak-anak di Kabupaten Asmat, Papua. Masalah kesehatan yang membelit di Asmat adalah wabah campak dan gizi buruk pada anak.

Dalam pantaun Harian Kompas, hingga Selasa (16/1), sebanyak 15 orang masih dirawat di RS Agats karena campak dan gizi buruk. Sudah 61 anak sejak bulan September 2017 hingga saat ini dikabarkan meninggal dunia.

Tentu kondisi tersebut sangat memprihatinkan. Jika dilihat, ada beberapa faktor yang menyebabkan wabah campak dan gizi buruk itu terjadi di Asmat; kurangnya ketersediaan tenaga kesehatan di daerah terpencil (termasuk Asmat), kesulitan menjangkau pelayanan kesehatan karena transportasi tidak memadai, kurangnya upaya kesehatan dalam hal promotif dan preventif, dan beberapa persoalan lain termasuk peran aktif masyarakat dalam upaya menjaga dan meningkatkan kesehatan.

Bukan tidak mungkin, kasus yang sedang terjadi di Asmat juga akan dialami oleh daerah-daerah terpencil di seluruh Indonesia, yang memiliki permasalahan yang sama, dan memicu terjadinya masalah kesehatan seperti yang dialami Asmat, atau masalah kesehatan yang berbeda.

Kita berhak bertanya, sudah maksimalkah pemerintah atau kementerian kesehatan untuk mewujudkan Indonesia Sehat? Komitmen Nawa Cita Presiden Joko Widodo poin ke 5 untuk program Indonesia Sehat adalah ntuk peningkatan layanan kesehatan masyarakat, serta program Indonesia Sehat dan Nusantara Sehat yang merupakan program kementerian kesehatan dalam menyelesaikan masalah kesehatan, dan pemerataan tenaga kesehatan di seluruh penjuru Indonesia, khususnya daerah terpecil.

Menuju Indonesia Sehat

Kementerian kesehatan sebenarnya telah memiliki program Indonesia sehat, yang kemudian ditopang oleh program terobosan kementerian kesehatan yang diinisiasi pada tahun 2015 yakni Nusantara Sehat.

Program Nusantara Sehat dimaksudkan dalam rangka penguatan pelayanan kesehatan di daerah terpencil, sangat terpencil dan perbatasan. Namun, jika kita lihat kasus baru-baru ini di Asmat, agaknya program itu hanya tinggal nama saja. Faktanya, daerah-daerah terpencil juga masih terbelit persoalan kesehatan.

Di Asmat, misalnya, masih mengeluh kekurangan tenaga kesehatan yang siap terjun ke masyarakat  untuk melakukan pendampingan, alih-alih berusaha membangun paradigma masyarakat untuk sehat sebagaimana tercantum dalam salah satu pilar program Indonesia Sehat.

Membangun paradigma sehat dalam kontek Keindonesiaan, seringkali terbentur dengan budaya setempat. Misalnya, mengenai Imunsasi, seringkali disalah pahami dan bertolak belakang dengan keyakinan yang di pegang teguh di beberapa masyarakat kita. Sehingga mereka memilih untuk tidak mengimunasasi anak mereka. Akibatnya terjadilah wabah yang akhir-akhir ini muncul seperti campak, rubella, difteri, dst.

Selain itu, kurang maksimalnya peran pelayanan kesehatan mulai dari bawah sampai atas juga belum terselesaikan sampai saat ini, termasuk di Asmat, Papua. Peran Puskesmas, misalnya, yang seharusnya lebih banyak berperan dalam upaya promotif dan pencegahan agar masyarakat tetap sehat dan meminimalisir orang sakit juga kurang maksimal.

Maka, perlu adanya jalan keluar dalam rangka mewujudkan Indonesia Sehat. Jalan keluarnya adalah Pemerintah harus segera memperbaiki peran unit pelayanan kesehatan yang ada mulai dari bawah sampai atas, melakukan pemerataan tenaga dan ketersediaan pelayanan kesehatan dan serius membangun paradigma masyarakt untuk sehat.

Hal ini senada dengan komitmen Deklarasi Alma Ata yang dihadiri oleh 134 Negara di dunia pada 2008 bahwa setidaknya ada empat hal yang diperlukan untuk mereformasi kesehatan atau mencapai Kesehatan untuk Semua (Health for All); (a) akses universal terhadap perlindungan kesehatan masyarakat; (b) reformasi pemberian layanan untuk menata kembali layanan kesehatan sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat; (c) reformasi kebijakan publik; dan (d) reformasi kepemimpinan untuk mempromosikan kepemimpinan yang lebih inklusif dan partisipatif.

Sembari menunggu pemerintah menyelesaikan pekerjaan rumahnya, peran komunitas masyarakat sangat penting dalam rangka membantu menyelesaikan benang kusut (kesehatan) ini. Karena, menurut Linda Whiteford dan Lauraence G. Branch dalam buku Primary Health Care In Cuba : The Other Revolution (2008), yang mengutip Rojas Ochoa bahwa, salah satu keberhasilan Kuba menjadi salah satu negara yang sukses menjamin masyarakatnya sehat, adalah adanya partisipasi komunitasku masyarakat.

Partisipasi Aisyiyah

Peran komunitas masyarakat sangat penting dalam membantu pemerintah untuk mewujudkan Indonesia Sehat. Dalam hal ini, yang saya maksud komunitas masyarakat itu adalah Aisyiyah.

Aisyiyah merupakan salah satu organisasi perempuan tertua di Indonesia yang telah banyak memberikan kontribusi terhadap perubahan dan kemajuan bangsa Indonesia. Organisasi yang didirikan oleh Istri KH. Ahmad Dahlan, tokoh pendiri salah satu organisasi terbesar di Indonesia, Muhammadiyah ini, tidak hanya mengangkat harkat martabat perempuan di depan publik, namun juga berperan dalam bidang kesehatan.

Peran dalam bidang kesehatan tentunya juga berkaitan dengan apa yang dilakukan oleh organisasi Induknya Muhammadiyah, yang mana mulai awal berdirinya memiliki kepedulian terhadap kesehatan (healing).

Hingga saat ini, Aisyiyah tetap konsisten peduli terhadap kesehatan. Beberapa tahun terakhir, Aisyiyah sukses melakukan pendampingin untuk kesembuhan pasien  yang penyakit tuberculosis (TB), mendampingi pasien HIV/AIDS untuk bertahan hidup dan tidak mengalami stigmatisasi, dan pendampingan bagi Ibu dan Anak dalam mengurangi angka kematian Ibu dan Anak di Indonesia.

Pada tanggal 19 – 21 Januari 2018, organisasi Aisyiyah menyelenggarakan Tanwir di Universitas Muhammadiyah Surabaya yang dihadiri oleh seluruh kader  Aisyiyah se Indonesia. Saya pikir forum tertinggi di bawah Mukmatar ini sangat strategis untuk memusyawarahkan tentang isu-isu yang sedang terjadi di Indonesia mukhtahir;seperti kejadian wabah campak dan gizi buruk di Kabupaten Asmat, Papua.

Asiyiyah memiliki peran strategis, salah satunya adalah merespons isu tentang kesehatan. Berdasarkan data yang dilansir di www.aisyiyah.or.id, Aisyiyah memiliki Amal Usaha di bidang Kesehatan sebanyak 229, yang terdiri dari: RS Umum Aisyiyah (15), Rumah Bersalin (64), Rumah Sakit Ibu dan Anak (7), Balai Pengobatan (27), Balai Kesehatan Ibu dan Anak (44), Apotik (18), Posyandu Lansia (52) dan PPKS (17).

Melihat modal sosial yang dimiliki oleh Aisyiah, ia dapat hadir di tengah-tengah masyarakat sebagai agen dalam mengontrol kesehatan masyarakat. Wabah campak dan gizi buruk seperti yang terjadi di Asmat baru baru ini sangat mungkin dapat dicegah, jika modal sosial yang dimiliki Aisyiyah dapat dimaksimal. Tentu, akan menjadi tugas Aisyiah ke depan untuk memberikan perhatian pada isu tersebut. Ke depan, Aisyiyah perlu terjun ke daerah terpencil atau daerah yang rentan mengalami wabah penyakit.

Idham Choliq
Aktivis Muda Muhammadiyah Jawa Timur, Perawat dan Alumni Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Surabaya
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Toleransi, Kita Perlu Belajar dari Negeri Tolland

Sebelum mulai mendaratkan jemari diatas keyboard laptop, sejenak terlintas dalam pikiran saya sebuah kutipan yang menarik dari buku yang berjudul “Berjamaah (lagi) walau tak...

Terorisme Lahir dari Watak yang Retak

Salah satu musuh terbesar kemanusiaan adalah terorisme. Ia lahir dari watak retak manusia yang dikendalikan hasrat untuk membunuh. Dalam aksinya yang agresif, teroris tak...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mencari Teman Masa Pandemi? Why Not, Berikut Tipsnya

Sudah Satu Tahun Pandemi Covid-19 Melanda Indonesia. sekolah-sekolah, kampus, tempat yang bahkan kantor sekalipun harus berkegiatan online. Mahasiswa baru, murid baru dan orang-orang yang baru memulai...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

ARTIKEL TERPOPULER

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.