OUR NETWORK
From Korea With Love Concert
Jumat, Desember 9, 2022
From Korea With Love Concert

Toxic Parents: Anak Jadi Pemalas dan Mudah Emosi

Miftahul Islah
Mahasiswi Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
From Korea With Love Concert

Sebagai orang tua, apa anda sudah benar dalam mengasuh anak? Nah, pola asuh orang tua sangat penting lho dan berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Ada orang tua yang mengasuh, membimbing, dan mendidik anaknya dengan penuh kasih sayang dan perhatian.

Ada juga orang tua yang mengasuh, membimbing, dan mendidik anak dengan baik. Tapi terlalu mengatur anak, membentak anak, mengkritik segala perbuatan anak, bahkan sampai melakukan kekerasan verbal pada anak. Nah, perilaku orang tua yang seperti itu biasanya disebut dengan toxic parents. Gimana Nih, Apa anda sudah jadi orang tua yang baik atau malah anda jadi toxic parents?

Jadi Apa Sih Toxic Parents Itu?

Toxic Parents adalah perilaku pola asuh orang tua yang salah dalam mendidik anak. Kenapa dikatakan salah? Karena pola pengasuhannya yang tidak sehat.

Seperti overprotektif atau terlalu melindungi anak sampai mencurigai segala sesuatu yang anak lakukan, selalu mengkritik apa yang dilakukan oleh anak, menentang segala kemauan anak, melakukan kekerasan fisik bila anak tidak mematuhi perintahnya, mengabaikan pendapat dan masukan dari anak.

Hati-hati loh! Perilaku orang tua seperti itu bisa menimbulkan gangguan kesehatan mental dan psikologis anak. Gimana nih apa sudah jelas yang dimaksud toxic parents? Kalo belum ayo kita bahas lebih dalam dengan mengenali ciri-ciri toxic parents.

Apa Saja Sih Ciri-Ciri Toxic Parents?

Banyak orang tua yang kadang tidak sadar bahwa perlakuan mereka pada anak salah. Nah, maka dari itu mari kita kenali ciri-ciri dari toxic parents ini. Menurut Putu dalam Skripsi Chairunnisa, SR (2021:17) pada penelitiannya memberitahu bahwa toxic parents mempunyai beberapa ciri-ciri seperti berikut:

  1. Terlalu Menaruh Harapan Pada Pencapaian Anak

Nah, terkadang orang tua ingin anaknya bisa mencapai segala hal yang mereka mau. Tapi, orang tua suka lupa bahwa setiap anak punya kemampuan yang berbeda-beda tidak bisa disamaratakan.

Nah, orang tua bisa dikatakan toxic parents jika mereka terlalu memaksakan kemampuan anak, jadi anak harus bisa melakukan segala hal yang mereka mau tanpa perdulikan apa anaknya mampu atau tidak. Mereka hanya mementingkan gengsi mereka agar anaknya dipandang paling pintar diantara yang lain, tapi tidak memperhatikan psikologis anaknya.

2. Tidak Bisa Mengontrol Emosi Pada Anak

Orang tua yang toxic suka melampiaskan kekesalan pada anaknya. Saat mereka punya masalah yang anaknya tidak ikut dalam masalah tersebut dan kebetulan anaknya melakukan masalah sepele. Maka orang tua toxic ini akan meluapkan masalahnya  pada anak, dengan melebih-lebihkan masalah sepele itu menjadi masalah yang serius. Mereka tidak bisa mengkontrol emosi sampai terkadang mencaci-maki anak bahkan melakukan kekerasan fisik pada anak.

3. Suka Mengatur Apa Yang Anak Lakukan

Toxic parents selalu beranggapan segala hal yang dilakukan anak salah, apabila tidak sesuai kemauanya. Mereka tidak memberi anak ruang pribadi untuk memilih keputusannya. Orang tua yang toxic akan selalu merasa semua keputusan yang berasal darinya adalah keputusanya yang paling benar. Ketika keputusan dari anak sendiri adalah keputusan yang salah mereka akan menghakimi anaknya, sedangkan jika keputusan darinya salah mereka akan menyalahkan anak dengan beranggapan anak tidak serius dalam melakukannya.

4. Tidak Menghargai Usaha Anak

Ketika anak mencapai suatu penghargaan orang tua yang toxic tidak akan memberi apresiasi. karena menurutnya mencapaian itu hal yang biasa saja, padahal anak tersebut berusaha keras untuk mencapainya. Mereka tidak menghargainya karena merasa kurang dan tidak sesuai dengan pencapaian yang mereka mau.

5. Mengungkit kesalahan Pada Anak

Orang tua yang toxic juga kadang saat bertengkar dengan anak, dan anak lah yang menang. Toxic parents, mereka tidak ingin kalah dalam pertengkaran itu  maka mereka tidak segan-segan mengungkit kesalahan anaknya sampai anak merasa bersalah atas kejadian tersebut. Sehingga anak tidak berani lagi untuk beradu argument dan mengkoreksi perlakuan orang tuanya yang salah.

Nah, gimana apa anda melakukan salah satu ciri-ciri diatas? Wah kalo benar harusnya sebagai orang tua anda harus bisa menjadi rumah bagi anak-anak anda. Anak sangat butuh orang tua yang bisa dijadikan tempat untuk berkeluh kesah dan bertukar pikiran.

Jika orang tua tidak bisa menjadi rumah untuk anaknya. Anak pasti akan memendam segala masalah yang dia punya dan melampiaskannya dengan mengurung diri, karena dia malas untuk menceritakan masalahnya pada orang tuanya sebab tidak pernah didengar bahkan malah menyalahkannya. Dengan begitu anak menjadi malas dan mudah emosi karena selalu disalahkan.

Terus Kenapa Anak Jadi Pemalas Dan Mudah Emosi?

Anak yang memiliki toxic parents jadi pemalas dan mudah emosi sebab pola pengasuhan orang tuanya yang sedari kecil tidak memperhatikan anaknya. Anak jadi pemalas karena dari kecil dia tidak pernah didukung dan diapresiasi oleh orang tuanya atas pencapaian, pemikiran, dan pendapatnya. Sehingga seiring jalannya waktu timbul lah rasa malas dalam melakukan sesuatu, karena takut tidak ada yang menghargai atas pencapaian, pemikiran, dan pendapatnya.

Sedangkan anak jadi mudah emosi sebab dari kecil dia selalu disalahkan, jadi bahan pelampiasan kekesalan orang tua, dan selalu dikasari. Sehingga anak tumbuh menjadi peribadi yang emosional dan pemberontak. Peribadi tersebut dia contoh dari perlakuan orang tuanya pada dia. Anak menjadi pemberontak agar dilingkungan luar dia tidak diremehkan orang lain.

Wah kita udah diakhir pembahasan nih, jadi sebagai orang tua dan calon orang tua kita harus menerapkan pola pengasuhan pada anak yang terbaik, boleh saja memarahi anak jika melakukan kesalahan, tapi jangan sampai mencaci-maki bahkan melakukan kekerasan pada anak.

Sebagai orang tua anda harus mendukung segala hal yang anak inginkan selagi itu dijalan yang benar. Bagi calon orang tua, anda harus memperhatikan pola asuh pada anak sedari dia kecil, apalagi pada masa golden age, dimana anak sedeng membutuhkan arahan dari orang tuanya. Maka dari itu perhatikan tumbuh kembang anak agar  tumbuh menjadi peribadi yang baik dan tidak memiliki gangguan psikologis.

Miftahul Islah
Mahasiswi Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.