OUR NETWORK
Selasa, Desember 7, 2021

Toxic Parenting Pencipta Anak Rantau

Bahasa Slang dalam Game

Guru Honorer, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Iara Rahma Dira
Mahasiswi Hukum Keluarga Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Anak merupakan titipan Tuhan kepada kedua orang tua yang sudah sepantasnya mendapatkan kasih sayang dan perlindungan. Namun bagaimana jika ternyata anak malah merasa lebih nyaman ketika dirinya jauh dari jangkaun kedua orang tuanya?

Hal tersebut tidak bisa sepenuhnya disalahkan kepada anak, melainkan bertanyalah kepada anak apa yang sesungguhnya ia rasakan. Pola pengasuhan kedua orang tua adalah faktor utama kenyamanan anak berada di rumah. Lalu pola pengasuhan seperti apa yang membuat anak tidak nyaman di rumah? Jawabannya adalah Toxic Parenting.

Apa itu Toxic Parenting?

Toxic Parenting diartikan sebagai pola pengasuhan yang beracun. Kata beracun disini bukan berarti orang tua meracuni makanan anaknya melainkan psiokologinya, karena toxic parenting dapat terjadi secara verbal maupun nonverbal. Dengan indikator yaitu membuat anak mudah marah, sedih dan cemas.

Pola asuh toxic ini menanamkan konsep ideal kepada anak yang menjadikan dirinya merasa dituntut atas kemauan orang tuanya, sehingga tak jarang anak merasa terbebani dan tidak bernilai lalu memutuskan untuk tinggal jauh dari kedua orang tuanya dengan harapannya sendiri.

Mengapa Bisa Tercipta Toxic Parenting?

Tentu tidak ada orang tua yang ingin menyakiti anaknya terutama meracuni psikologinya, namun Toxic Parenting ini ternyata tercipta karena penyaluran pola asuh yang tidak tepat kepada anak padahal bertujuan baik.

Selain itu, orang tua yang terlalu mencintai anaknya berlebihan pun ternyata dapat membawa dampak buruk bagi anak. Salah satunya dengan mengontrol anak pada seluruh aspek kehidupannya.

Ciri-Ciri Toxic Parenting

Studi yang dimuat di Journal of Family Medicine and Disease Prevention menyebutkan dampak terjadinya toxic parenting hingga anak dewasa sangat lah berbahaya yaitu dapat timbulnya perilaku destruktif seperti penyalahgunaan narkotika, krisis kepercayaan dalam menjalin hubungan, produktivitas kerja rendah, rasa cemas yang berlebih, dan hobi menyalahkan diri sendiri. Lantas apa saja ciri-ciri toxic parenting? Yuk, kita simak!

1. Ekpetasi Berlebih

Bisa dikatakan bahwa awal mula toxic parenting dimulai dari pengharapan tinggi orang tua kepada anaknya. Ketika anak tidak dapat memenuhi pengharapan tersebut, maka bagi toxic parents akan menjadi sebuah kesalahan si anak yang dianggap tidak dapat membahagiakan kedua orang tuanya.

2. Kelewat Kritis

Toxic Parents akan selalu mengkritik segala yang dilakukan anaknya, terutama jika itu suatu kesalahan. Bahkan kesalahan kecil yang dilakukan anak akan didramatisir berlebihan. Tidak jarang toxic parents mengkritik anaknya di depan orang lain bahkan di tempat umum. Padahal hal tersebut sangat lah tidak baik bagi mental-health si anak karena dapat menimbulkan rasa tidak percaya diri.

3. Membanding Anak Dengan Anak Lain

Tanpa orang tua sadari, mereka merupakan salah satu yang mengikis nilai-nilai di dalam diri anak. Ketika anak dibanding-bandingkan akan timbul di pemikirannya bahwa dirinya tidak lah berharga dan tanpa keistimewaan. Anak akan tumbuh tidak sehat mental nya karena merasa selalu tidak baik dan juga merasa tidak bisa menjadi apa yang orang tuanya inginkan.

4. Mengungkit-ungkit Biaya

Selain memberikan kasih sayang sudah sewajarnya orang tua membiayai segala kebutuhan anak untuk menunjang kesuksesannya. Namun bagi toxic parents, biaya tersebut dijadikan senjata untuk menuntut kesuksesan atau bahkan perilaku anak nya.

5. Mengatasnamakan Durhaka

Jika anak tidak dapat memenuhi keinginan orang tua atau mengecewakan orang tuanya, maka sang anak harus siap dengan kata durhaka. Padahal apa yang dilakukan anak tidak lah seburuk perlakuan malin kundang kepada ibunya, hanya karna anak pulang telat dari bermain pun toxic parents akan dengan mudah mengecap anaknya sendiri sebagai anak durhaka. Bahkan tak jarang toxic parents mengeluarkan doa-doa yang tidak pantas dilanturkan kepada anaknya sendiri.

6. Tidak Memiliki Empati

Ciri yang terakhir disini bermaksud orang tua yang hanya menuntut anak tanpa ada support darinya. Anak dituntut untuk mencapai target yang orang tua inginkan tanpa sebuah apresiasi, padahal apresiasi sangat dibutuhkan oleh anak agar dapat tumbuh dan berkembang di lingkungannya terutama apresiasi non-materi seperti pujian. Dan juga orang tua yang tidak memberikan motivasi ketika anak nya gagal melaikan malah menyalahkan si anak atas kegagalan tersebut.

Bagaimana Dealing dengan Toxic Parenting?

Satu hal yang tidak dapat kita pilih di dalam hidup ini, yaitu takdir memilih orang tua. Mungkin berat memang untuk dapat menerima keadaan di rumah dengan pola asuh toxic parenting, namun toxic parenting ini tidak dapat kita hindari karena bagaimana pun restu dunia dan akhirat berada di tangan orang tua. Lalu bagaimana agar bisa menerimanya?

  • Dengan menyadari bahwa setiap manusia mempunyai kekurangan. Disaat orang tua tidak bisa menerima kekurangan anak, jangan sampai anak mempunyai dendam terhadap orang tua. Melainkan anak harus mengambil pelajaran dari apa yang sudah ia alami, agar kelak anak terhindar dari pola toxic parenting di masa yang akan datang.
  • Memaafkan. Tetapi bukan berarti anak diam tanpa suara. Melainkan anak dapat memilah-milih kata yang menurut nya baik untuknya atau buruk baginya. Jika anak berani untuk berkomunikasi maka cobalah untuk menyampaikan apa yang ada di dalam isi hatinya dengan baik, agar orang tua tau bahwa anak sakit hati tanpa harus menyakiti hati orang tua.
  • Belajar Dewasa. Mengerti lah bahwa pada zaman orang tua muda dulu parenting merupakan hal yang asing dan tidak semua orang tua mempelajari pola asuh dengan baik seperti saat ini.
  • Mintalah Pertolongan. Jika anak tidak cukup berani untuk berkomunikasi, anak dapat menyimpan perasaan nya sendiri dan segeralah meminta bantuan professional seperti psikiater, jika menurut nya terlalu memakan biaya dan waktu berbagi cerita lah dengan teman sejawat atau orang terdekat. Dan jika anak merasa lebih nyaman dan aman ketika jauh dari rumah, maka pergi lah merantau, jika keluar dari zona nyaman akan menolong psikologi anak.

Referensi

https://www.lellyfitriana.com/2019/09/ketika-orang-tua-terlalu-toxic-harus-apa.html

https://www.prenagen.com/id/apa-itu-toxic-parenting

https://youtu.be/BNlaJqYcf8Qv

Iara Rahma Dira
Mahasiswi Hukum Keluarga Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.