OUR NETWORK
Selasa, Oktober 4, 2022

The Godfather: Ketika Mata Mengeluarkan Kata-Kata

Meicky Shoreamanis
Dosen Universitas Pelita Harapan Linkedin @Meicky Shoreamanis

If it’s a good movie, the sound could go off and the audience would still have a perfectly clear idea of what was going on, begitu kata Alfred Hitchcock, sutradara Inggris  yang  karyanya memperoleh Oscar hingga 6 kali.

Trilogi The Godfather adalah film berkualitas premium yang dirilis tahun 1972, 1974, dan 1990. Di sini yang akan diulas adalah seri I dan II karena  keduanya  diadaptasi dari novel Mario Puzo yang terbit pada 1969.  Namun, mengacu pada kalimat Hitchcock, bagaimana jika film ini ditonton tanpa ada bunyi atau suara? Mampukah kita mengerti ceritanya? Tetapkah layak disebut bagus?

Jawabannya: “Tidak.” The Godfather dibuat ketika Hollywood sudah melewati era film bisu. Namun, pernyataan Hitchcock jangan dimaknai secara literal, ambil saja substansinya: Film adalah medium visual. Penyampaian pesannya didominasi oleh gambar. Bukan oleh kata seperti puisi.

Dan, dengan demikian, jadi menarik jika kita membahas akting Al Pacino dalam  film ini.

Semua yang terlibat dalam pembuatan The Godfather, kecuali Francis Ford Coppola selaku sutradara, awalnya tak menginginkan Al Pacino ikut bermain. Mereka mengincar Robert Redford atau Ryan O’Neal untuk menjadi Michael Corleone, anak dari Vito yang diperankan Marlon Brando.

Paramount Pictures sempat sangat kesal. Copolla menuruti saran mereka untuk melakukan audisi terhadap siapapun  tapi  tetap saja ia  bolak-balik  menyebut nama Al Pacino. Untunglah, akhirnya Paramount mengalah.

And, the rest is history.

Tentu saja mereka yang diincar Paramount bukanlah aktor amatiran. Redford sebelum diaudisi pernah mendapat Golden Globe Award. O ‘Neal juga pernah masuk nominasi Oscar.

Bagaimanapun, rasanya sulit membayangkan mereka ketika berakting mampu untuk bertumpu kepada sorot mata sepiawai Al Pacino. Dan, tepat, inilah yang dilakukan Al Pacino, sosok yang ketika diincar Copolla sebenarnya juga sudah memiliki pencapaian:Memperoleh Tonny Award untuk aktingnya di teater Broadway.

Diskusi tentang The Godfather  tentu tak lengkap  tanpa  membahas betapa  jeniusnya Al Pacino, atau Michael, saat bicara lewat mata. Sebagai bos mafia, ia tampil dingin dan introvert. Sorot matanya tajam, beku, dan ia irit sekali  dalam bicara. Jika  tatapan bisa dikonversi jadi kata, kalimat yang ia keluarkan melalui mata  jauh lebih banyak daripada yang ia ucapkan lewat mulut.

Ketika tahu  bahwa kakaknya,  Fredo, mengkhianati keluarga, Michael  berkata kepada Al Neri, kepala keamanan bisnis Corleone,”Saya ingin ia baik-baik saja selama Ibu  masih hidup.” Saat ibu mereka akhirnya meninggal, sebelum pemakaman Michael memeluk Fredo lalu  menatap Al Neri.

Al Neri paham. Tak lama kemudian, Fredo pun mati.

Sorot mata yang lebih dingin Michael tunjukkan ketika ia hadir sebagai ayah baptis dalam  sakramen permandian  keponakannya. Di saat yang sama, anak-anak buahnya membunuh kepala 5 keluarga mafia saingan Corleone atas perintah Michael.

Di dalam gereja, sang pastor bertanya,”Michael, do  you renounce satan?” Michael menjawab,”Yes, I do renounce.” Jawaban itu dilanjutkan  dengan adegan-adegan yang menunjukkan keganasan anak buahnya  saat memberondong semua musuh Corleone dengan peluru.

Melalui tatapan matanya,  Michael seolah-olah memberi saran kepada sang pastor untuk bertanya kepada setan,”Satan, do you renounce Michael?”

***

Semua orang punya gestur khas yang demikian melekat dalam diri  sehingga tak ada yang  bisa berlama-lama menggunakannya untuk menipu. Gerak tubuh dan raut muka bisa dijadikan alat manipulasi tapi hanya sebentar. Namun, Al Pacino menunjukkan bahwa  ada satu hal yang  sangat sulit digunakan untuk memperdaya walau hanya sesaat: Mata.

Al Pacino dengan cemerlang menunjukkannya berkali-kali. Hanya dengan melihat sorot mata Michael, kita paham bahwa saat ia menutup pintu dan membiarkan istrinya berdiri di luar rumah, ia berencana untuk mengasingkan istrinya untuk selama-lamanya.

Salah satu adegan terbaik bisa jadi adalah ketika Michael ngamuk sesudah rumahnya diberondong peluru musuh. Saat menumpahkan murkanya kepada Frank Pentangeli, ia tetap hemat bicara dan juga irit gerak. Kalimat yang ia ucapkan tak lebih dari lima dan itu pun jika hanya dibaca, bukan diungkapkan, terkesan agak puitik. Ia hanya main sorot mata dan intonasi.

Tapi, penonton pasti paham bahwa ia siap membunuh siapapun yang mengganggu keluarganya.

Tatapan Michael yang paling intimidatif mungkin terjadi sesaat sebelum Frank Pentangeli bersaksi melawan Michael di depan senat. Sebelum acara dimulai, Michael memasuki ruangan bersama kakak dari Frank, Vincenzo. Michael sedang menjadi pusat perhatian media  sehingga keinginannya untuk membunuh Frank ia batalkan karena pasti ketahuan bahwa ia adalah dalangnya. Akhirnya, ia mengajak Vincenzo hadir.

Sebelum duduk, Michael menatap Vincenzo sebentar lalu  mengalihkan matanya kepada Frank. Hanya sekilas namun  tajam, dingin, dengan kadar emosi nihil.

Frank pun batal bersaksi dan malah memfitnah FBI.

Patti Wood adalah ahli body language yang telah bertahun-tahun melakukan penelitian mengenai bahasa non-verbal. Ia mengatakan bahwa  mata bisa mengkomunikasikan lebih dari 50 kondisi jiwa termasuk rasa bosan, keingintahuan, kekecewaan, dan lain-lain.

Dengan brilian, Al Pacino menunjukkan kebenaran kalimat di atas puluhan tahun sebelum  riset dijalankan. Ia tak hanya mahir berbahasa Inggris dan Italia, ia juga menguasai eye language.  Dengan apik, ia bermetamorfosa  dari sosok pria  berwajah kekanakan  dengan mata berbinar yang enggan masuk ke dunia kriminal hingga menjadi laki-laki yang punya sorot mata bagai es  lalu mengepalai gank mafia terbesar di Amerika.

Dinginnya tatapan mata Michael, selain pencahayaan yang makin gelap dan warna kulitnya yang dibuat tak secerah sebelumnya, adalah aspek penting yang menunjukkan metamorfosa  tersebut.  Pesan tanpa kata yang  Michael sampaikan membuat The Godfather mampu memenuhi kriteria film bagus versi Hitchcock.

Pada kenyataannya dua sekuel ini, bersamaan dengan yang ketiga,  bukan hanya memenuhi kriteria Hitchcock namun juga memenangkan 9 Oscar.  Ia bahkan dinilai sebagai salah satu film  terbaik dalam sejarah oleh banyak pihak  termasuk Directors Guild of America (DGA), IMDb, American Film Institute, dan Hollywood Reporters

The Godfather has made an offer that movie  critics can’t refuse.

 

Meicky Shoreamanis
Dosen Universitas Pelita Harapan Linkedin @Meicky Shoreamanis
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.