Kamis, Juni 20, 2024

TGB, Dulu Dipuji Sekarang Dicaci

Taufani
Taufani
Pencinta buku dan tempe. Alumni Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan Ahmad Syafii Maarif

Nama Tuan Guru Bajang (TGB) beberapa tahun terakhir menjadi sangat familiar di telinga publik. Dr. TGH. Muhammad Zainul Majdi, Lc., M.A. atau yang akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB) adalah Gubernur Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dua periode, masa jabatan 2008-2013 dan 2013-2018.

Sebelum menjadi politisi, TGB telah lama mengabdikan diri dalam dunia dakwah di NTB. TGB adalah alumni Doktor Ilmu Tafsir dari Universitas Al Azhar Mesir. Saat ini, TGB dipercaya sebagai Ketua Ikatan Alumni Al Azhar Mesir Cabang Indonesia menggantikan Prof. Dr. Quraish Shihab.

Nama TGB menjadi populer secara nasional karena ia ikut mendukung dan mengambil bagian dalam Aksi Bela Islam 411 di Jakarta. Aksi ini dilakukan untuk menuntut agar Ahok dipenjara karena dianggap telah merendahkan al-Quran dan menistakan Islam. Sejak itu, TGB menjadi idola baru bagi umat Islam. Adanya dukungan TGB terhadap Aksi Bela Islam sering dimaknai oleh masyarakat bahwa TGB adalah oposisi Jokowi.

Di berbagai media,  para ulama seperti AA Gym, Ustad Abdul Somad, dan Bahtiar Nasir kerap memuji sosok TGB sebagai ulama yang kharismatik. TGB digadang-gadang dapat menjadi salah satu presiden alternatif untuk menantang Jokowi di Pilpres 2019 mendatang.

TGB dianggap sosok yang pas dan cakap sebagai presiden alternatif karena ia memiliki prestasi yang baik dalam memimpin dan memajukan Propinsi NTB. Ia juga dianggap dapat menjadi representasi umat Islam dalam statusnya sebagai seorang ulama.

TGB diharapkan dapat menjadi rival sepadan yang mampu mengimbangi dominasi Jokowi, presiden yang dianggap meminggirkan umat Islam, di pilpres 2019 mendatang. Di media sosial, para alumni dan simpatisan Aksi Bela Islam berlomba-lomba mempromosikan dan memviralkan segala hal yang terkait TGB agar ia menjadi dikenal luas oleh masyarakat.

Namun, pujian terhadap TGB sekejap berubah menjadi cacian tatkala ia memutuskan untuk mendukung Jokowi menjadi presiden dua periode. Di media sosial, TGB dicaci dan dicap sebagai  munafik, pembohong, penjilat, bukan ulama sejati, dan pendukung kecebong oleh para netizen.

Mengapa TGB mendukung Jokowi? Menurut hemat saya, Pertama, harus diketahui bahwa TGB adalah ulama politisi. Ia tentu memiliki kalkulasi politik untuk menaikkan kelasnya dalam dunia politik tanah air.

TGB sadar bahwa sebagai kader Partai Demokrat (PD), ia tak memiliki peluang yang besar untuk diorbitkan partainya, berhubung anak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) selaku Ketua Pembina PD, yakni Agus Harimurti Yudhoyono, memiliki syahwat politik untuk maju mengambil bagian dalam kontestasi di Pilpres 2019 mendatang. TGB sadar bahwa peluangnya untuk mewakili gerbong PD dalam kontestasi pilpres hampir mustahil.

Kedua, soliditas dan loyalitas kader PD terhadap partai cenderung menurun pasca berakhirnya masa jabatan SBY sebagai presiden. Karena itu, PD sampai saat ini belum memiliki posisi yang jelas dalam pilpres 2019 karena masih sibuk berkutat membangun dan memperkuat konsolidasi internal.

TGB sadar bahwa popularitas dan rekam jejaknya dapat menjadi modal bagi dirinya untuk dilamar dan direkrut partai lain sekiranya ia dipecat dari PD. TGB sendiri bukanlah kader murni dari PD. Sebelumnya, ia adalah kader Partai Bulan Bintang (PBB).

Ketiga, TGB sadar bahwa elektabilitas Jokowi hampir sulit tertandingi di pilpres mendatang. Di berbagai survei, nama Jokowi masih menduduki posisi teratas dan sampai saat ini, belum ada capres yang mampu menyaingi elektabilitas Jokowi.

TGB juga sadar bahwa peluang Jokowi untuk maju menjadi presiden dua periode semakin terbuka lebar pasca kemenangan beberapa kliennya di berbagai Pilkada, khususnya di propinsi dengan jumlah pemilih terbesar, seperti kemenangan Khofifah di Jawa Timur, Ganjar Pranowo di Jawa Tengah, dan Ridwan Kamil di Jawa Barat.

Kemenangan para klien Jokowi di berbagai pilkada memang tidak bisa menjadi ukuran bahwa Jokowi otomatis akan menang di atas kertas, tetapi paling tidak, mesin politik dan sokongan logistik Jokowi di Pilpres 2019 akan berjalan maksimal.

Keempat, dengan mendukung Jokowi, TGB berharap dapat diperhitungkan menjadi cawapres atau paling tidak menjadi menteri di Kabinet Jokowi di periode mendatang, mengingat TGB dalam posisinya sebagai ulama memiliki peran penting untuk melindungi Jokowi ke depan dari stigma sebagai anti Islam dari lawan politiknya.

Di kesempatan lain, TGB menyatakan dukungannya terhadap Jokowi karena memiliki visi untuk melaksanakan pembangunan bersama masyarakat, khususnya masyarakat di Indonesia bagian Timur. Hal ini dapat dibaca bahwa TGB memberi sinyal politik pada Jokowi agar keterwakilan Indonesia Timur harus dijadikan bahan pertimbangan oleh Jokowi dalam pemilihan cawapresnya. Dalam hal ini, TGB adalah salah satu sosok yang patut dipertimbangkan sebagai representasi dari Indonesia Timur.

Beberapa hari terakhir, TGB sibuk menjelaskan pada publik akan pendirian politiknya yang berbeda dengan kelompok Islam politik yang selama ini kerap mendukungnya. TGB mengingatkan bahwa perbedaan politik tidak harus dimaknai sebagai peperangan. Perbedaan politik adalah hal yang biasa.

TGB mengingatkan pada umat agar tidak mempolitisasi ayat-ayat perang dalam kontestasi politik karena Indonesia tidak berada dalam situasi perang. Lebih lanjut, TGB juga mengingatkan agar umat hendaknya mengedepankan prinsip “fastabiqul khairot” (berlomba-lomba dalam kebajikan) dan “lita’arafu” (saling mengenal) dalam menyikapi perbedaan agar dapat saling mengisi dan saling belajar satu sama lain.

Pelajaran penting yang dapat kita petik dari kasus TGB di atas adalah politik itu bersifat dinamis. Kita tidak boleh menggunakan kacamata hitam putih dalam berpolitik karena kita akan kecewa. Setiap keputusan yang diambil oleh para politisi pasti telah diperhitungkan untung ruginya. Karena lagi-lagi politik adalah siapa mendapatkan apa, kapan, dan bagaimana.

Taufani
Taufani
Pencinta buku dan tempe. Alumni Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan Ahmad Syafii Maarif
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.