OUR NETWORK
Rabu, Juli 28, 2021

Terorisme Anak Kandung Intoleransi

Akhmad Reza
Memiliki Background Jurnalistik, aktivis Aliansi Kerukunan Antar Umat Beragama (AKUR) (2005-2008), Aktivis Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (JAKATARUB) (2008-2013)

Aksi-aksi terorisme tidak berdiri sendiri. Jika Donny Gahral Adian dalam artikelnya “Bahaya Laten Intoleransi” menyebut jarak antara intoleransi dan terorisme hanya setarikan napas (Kompas, 2 Juni 2018), maka terorisme bisa dikatakan anak kandung intoleransi. Terorisme tidak muncul dari ruang hampa. Ia lahir, hidup dan berkembang biak dalam rahim intoleransi.

Pertumbuhan media sosial yang begitu cepat, menjadikan virus intoleransi menyebar ke semua lini tanpa kecuali. Penyemaian dan persebaran bibit intoleransi dan paham radikal mendapat panggungnya lewat komunikasi jejaring seperti Whatsapp dan Telegram. Secara gampang, tolok ukurnya bisa dilihat dari peristiwa di Mako Brimob dan bom bunuh diri yang meledak di 3 gereja di Surabaya beberapa waktu lalu. Komentar yang bernada miring dan menganggap kejadian tersebut sebagai rekayasa tidaklah sedikit.

Mereka datang dari beragam kalangan. Sebagian berhasil diungkap aparat kepolisian. Dan ternyata ada yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga, pilot, dosen perguruan tinggi hingga pegawai negeri sipil.

Pelajar dan Mahasiswa Terpapar intoleransi

Ironisnya, pelajar dan mahasiswa sebagai generasi masa depan bangsa pun ikut terpapar intoleransi. Survei Setara Institute pada 2016 lalu yang dilakukan di 171 sekolah di Jakarta dan Bandung membuktikan hal ini. Dari proses analisis atas 18 pertanyaan kunci, peneliti Setara Institute, Halili menemukan ada sekelompok siswa SMA negeri yang terpapar ideologi terorisme sebanyak 0,3 persen. Kemudian sebanyak 2,4 persen siswa mengalami intoleransi aktif (tempo.co, 20 Mei 2018).

Lebih lanjut Halili mengatakan terjadinya terorisme bermula dari intoleransi. “Terorisme itu bertingkat. Orang tidak bisa serta-merta menjadi teroris. Pasti ada tangga-tangga menuju itu, dan tangga pertama adalah intoleransi,” kata Halili dalam diskusi di Warung Daun, Jakarta, pada Sabtu, 19 Mei 2018 lalu.

Selanjutnya, dalam artikelnya Donny beranggapan bahwa argumen rasional tidak lagi mempan untuk menyadarkan mereka yang kadung terpapar paham radikal. Masalahnya, nalar dan rasionalitas tidak selalu berbanding lurus dengan moralitas seseorang.

Dalam buku “Batas Nalar : Rasionalitas Perilaku Manusia” Donald B. Calne mengambil contoh rezim Nazi. Rezim ini bisa berkembang sedemikian luas karena dipupuk oleh kebencian kepada kaum Yahudi. Para supporter Nazi bukanlah orang-orang bodoh. Tak sedikit dari mereka justru kaum intelektual dan cendekiawan terkemuka. Jerman yang menyumbangkan banyak pemikir kelas dunia, pada Perang Dunia 2 lalu berubah menjadi mesin genosida.

Keberagamaan Anjing Gila

Maka kemudian kata-kata Imam Ali bin Abi Thalib r.a. –sepupu dan menantu Nabi Muhammad Saw- di awal paragraf ini sungguh relevan dengan kondisi kekinian. Terkesan menohok, tapi itulah yang terjadi. Yang dimaksud Imam Ali dengan keberagamaan seperti anjing gila adalah sebuah bentuk keberagamaan yang fanatik buta, kaku, irrasional, merasa paling benar dan memandang selain dirinya sebagai pihak yang salah dan musuh yang harus dimusnahkan.

Imam Ali sendiri adalah korban dari orang dan kelompok yang menganut keberagamaan jenis ini. Orang tersebut bernama Abdurrahman bin Muljam dari kelompok sempalan, Khawarij. Kelompok yang disinyalir sudah punah, namun ciri-cirinya bisa kita ketemukan pada ormas-ormas Intoleran masa kini. Saat ini, duplikasi Abdurrahman bin Muljam kontemporer didapat dari gawai, pertemanan di Facebook serta grup-grup Whatsapp. 

Lewat pesan berantai dari satu gawai ke gawai lainnya, politik identitas kian ditonjolkan. Temanya beragam dari mulai keunggulan etnis, suku, ras bahkan agama yang dianut. Alih-alih menyebarkan konten keberagaman, yang justru disebarluaskan adalah konten keseragaman. Contohnya tentang keharusan memilih pemimpin seagama, tinggal di satu kompleks yang sama, hingga berobat ke rumah sakit yang mencantumkan nama agama tertentu. Segregasi sosial sengaja diciptakan untuk memisahkan antara “kita” dengan “mereka.”

Jika sudah begini, aksi intoleran seperti penyerangan terhadap Jema’ah Ahmadiyah di Lombok Timur, hingga bom bunuh yang terjadi di 3 Gereja di Surabaya bukanlah  aksi-aksi terakhir. Pemerintah dan aparat keamanan bisa saja melarang keberadaan ormas intoleran atau memberangus para teroris. Namun, selama ideologinya tetap eksis, maka ormas bisa bersalin rupa dan wajah serta mengganti namanya. Ibarat pepatah “old wine in the new bottles” jualan mereka itu-itu saja meski berubah merek dan namanya.

Maraknya fenomena intoleransi hingga terorisme adalah gejala pembajakan agama. Mereka selalu menisbahkan aksi yang mereka lakukan sebagai sebuah panggilan suci. Padahal, apa yang mereka pertontonkan bertolak belakang secara diametral dengan pesan otentik agama, yang mengajarkan kedamaian, cinta kasih dan toleransi. Masalahnya, siapapun bisa membajak agama demi keuntungannya sendiri atau seperti kata Shakespeare,  “bahkan setan pun bisa mengutip kitab suci untuk kepentingannya.”

Referensi 

Calne, Donald.B. 2005. Batas Nalar : Rasionalitas dan Perilaku Manusia. Jakarta : KPG

Akhmad Reza
Memiliki Background Jurnalistik, aktivis Aliansi Kerukunan Antar Umat Beragama (AKUR) (2005-2008), Aktivis Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (JAKATARUB) (2008-2013)
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.