Jumat, April 23, 2021

Teror di Masjid Christchurch, Sayap Kanan dan Islamofobia

Reunifikasi Korea

Institutional Liberalism menegaskan bahwa negara-negara akan membutuhkan sebuah institusi/lembaga sebagai pengatur jalannya hubungan antar-negara. Dengan demikian, diplomasi akan berjalan lebih terbuka sehingga permasalahan yang...

Mahasiswa sebagai “Juru Mudi” Negara Indonesia

Menurut KBBI, mahasiswa adalah orang orang yang belajar di perguruan tinggi. Secara sosiologis, manusia terdiri dari 4 struktur perkembangan hidup. Dari teori sosiologis di...

“Moderasi Beragama”–Sebuah Pleonasme yang Serius

Beberapa waktu lalu, seorang teman mengunggah foto tangkapan layar berita protes Gubernur Sumatera Barat atas Alkitab berbahasa Minang di akun Facebooknya. Pada foto tersebut...

Pentingnya Sistem Mitigasi Pra-Bencana di Indonesia

Dalam kurun waktu satu tahun, Indonesia mengalami ribuan kali bencana gempa bumi, baik skala besar maupun kecil. Karena Indonesia berada di jalur gempa teraktif...
Azizul Amri
Public Speaker, Content Writer, Researcher and Human Rights Activist | Student at Mechatronics Engineering PENS

Sebagai salah satu negara dengan indeks keamanan tertinggi di dunia, Selandia Baru baru saja mendapat teror yang mengejutkan. Tragedi penembakan di Masjid Al Noor, Christchurch, Selandia Baru yang menewaskan 49 orang dan puluhan lainnya luka-luka, Selandia Baru langsung mendapatkan status sebagai negara dengan ancaman terorisme yang tinggi.

Aksi teror ini kemudian mengundang pertanyaan. Mengapa memilih Selandia Baru sebagai negara untuk melancarkan aksi teror? Mengapa masjid yang disasar? Adakah kebencian yang dirasakan para pelaku kepada para muslim di negara ini?

Dalam keterangan kepolisian setempat, Brenton Tarrant, pelaku penembakan, mengunggah sebuah manifesto 74 halaman yang berisi tentang pandangannya terkait aksi teror yang dia lakukan. Dalam manifestonya, Brenton menyatakan bahwa dia sangat khawatir terkait dengan angka kelahiran ras kulit putih yang semakin menurun di seluruh dunia, namun penduduk dunia yang semakin banyak.

Brenton takut jika suatu saat, ras asli Eropa atau kulit putih akan punah di Benuanya sendiri, walaupun telah mendeportasi seluruh imigran dari Eropa.

Ia mengekspresikan kekecewaannya dengan menyalahkan imigrasi ras non-kulit putih dengan mengatakan bahwa jumlah kelahiran kulit putih tidak sebanding dengan kedatangan dan bertumbuhnya ras lain. Ia juga mengatakan bahwa kejadian ini adalah invasi besar-besaran yang dilakukan oleh orang-orang non-Eropa untuk pemusnahan ras kulit putih.

Walaupun dalam manifestonya, ia menolak disebut Islamofobik, namun secara terang-terangan ia mengatakan bahwa tujuan dari penyerangan ini tepat dan memang diarahkan ke masjid untuk membunuh orang-orang muslim yang sedang melaksanakan ibadah yang dianggap sebagai penjajah bangsanya.

Dalam manifestonya, awalnya ia tidak berencana untuk menyerang Selandia Baru, namun Brenton menyatakan bahwa Selandia Baru tidak ubahnya seperti Eropa, dan memiliki banyak “penjajah”. Dan yang paling utama, ia ingin menyebarkan pesan bahwa tidak ada tempat yang aman bagi para imigran, bahkan di negara paling aman sekalipun.

Meskipun teror terhadap muslim di Selandia Baru ini bersifat non-organisasional, tetapi jangan anggap bahwa kejadian ini tidak terstruktur. Konteks kejadian teror ini jelas tentang betapa Brenton dan kaumnya menginginkan supremasi kulit putih dan menyebarkan kebencian terhadap kaum minoritas lainnya.

Tentu ia tidak sendiri, dalam manifestonya, Brenton mengklaim bahwa ia mewakili jutaan etno-nasionalis dari Eropa. Tentu, ini merupakan jaringan besar yang perlu dibongkar secepatnya. Karena apabila dia melakukan live streaming pada facebooknya, maka sudah tentu ia memiliki pasar, orang-orang yang ingin melihat aksinya.

Meskipun kita tidak mengetahui jumlah pastinya, tetapi kita tidak bisa menampikkan bahwa golongan ekstremis sayap kanan ini tentu memiliki jumlah signifikan. Jika berkaca kepada gerakan Neo Nazi, mereka memiliki afiliasi internasional yang puluhan negara anggotanya memiliki berbagai macam organisasi dengan garis politik serupa. Jika melihat sejarah teror yang dilakukan oleh kelompok ekstrimis sayap kanan, melakukan teror seperti ini bukanlah hal yang sulit bagi mereka.

Keterkaitan Histori Antara Supremasi Kulit Putih dan Islamofobik

Jika menggunakan pendekatan historis terkait persebaran agama, Deepa Kumar dalam bukunya Islamophobia and the Politics of Empire menyebutkan bahwa ketegangan antara Barat dan Islam sudah terjadi sejak abad ke-8. Ketika itu, Dinasti Ummayah di Spanyol sedang ada di masa kejayaannya. Dimana karya para teolog dan filsuf Arab menjadi primadona saat itu. Masyarakat Yahudi, Kristen dan Islam hidup dengan saling berdampingan dengan menggunakan landasan filosofis dan sains dari cendekiawan-cendekiawan muslim.

Disini, Kumar mengatakan bahwa secara tidak langsung, peradaban Islam merupakan peradaban yang lebih maju dari Barat yang masih berkubang dengan keterbelakangan dan stagnansi. Namun, pada abad ke-8 sampai dengan 11, Barat kemudian memandang Islam sebagai musuh yang menginvasi tanah Eropa, sama halnya seperti kelompok pagan lainnya yang berkembang di tanah Eropa. Tetapi, permusuhan tidak langsung ini ternyata belum dipandang sebagai musuh “relijius” sampai pada abad 11 ketika Perang Salib dikumandangkan.

Dengan perkembangan budaya yang tinggi, Eropa membutuhkaan aturan-aturan hukum yang pasti dan mengikat. Termasuk peraturan tentang keyakinan. Disini, terjadi banyak konflik antar keyakinan. Termasuk konflik antara Kristen dengan Pagan. Namun, Pagan berhasil ditaklukkan dan dikonversi menjadi penganut Kristen, sehingga musuh utama dari Kristen Romawi tinggalah Islam.

Pertahanan Islam di bawah Dinasti Umayyah kemudian tidak bertahan lama. Kekuasaan Islam di Spanyol menemui akhirnya pada abad 13 dan memilih untuk tunduk dibawah Kerajaan Katolik Kastila. Dan diikuti oleh Portugal di abad yang sama yang tunduk pada Kerajaan Portugal.

Memasuki Abad ke-15, kekuatan Islam kembali menguat dengan bangkitnya Dinasti Ottoman Turki dibawah pimpinan Sultan Mehmed II. Barat mulai menemui alasan untuk kembali memusuhi Islam.

Terutama sejak kebijakan politik tangan besi yang dijalankan oleh Gereja Roma. Saat itu, agama-agama minoritas seperti Kristen Ortodoks memilih untuk berlindung di bawah kekuasaan Turki yang mau mengakomodir otonomi bagi rumah-rumah ibadah kaum minoritas, sehingga Ottoman dicintai oleh kebanyakan rakyat Eropa.

Dalam perkembangannya, tetap saja Romawi sebagai penguasa yang unggul. Walaupun citra Islam yang melekat pada Dinasti Ottoman adalah citra yang dicintai rakyat Eropa, bukan berarti Roma bisa berdamai dengan hal tersebut. Tujuan mereka jelas adalah kekuasaan tunggal di bawah satu agama, dengan paket kebijakan politik dan hukum yang komplit dengan corak keagamaan khas Romawi.

Namun, perselisihan yang terjadi antara Ottoman Turki dengan Kerajaan Romawi bukanlah sebagai musuh dalam makna relijius, namun sebagai musuh politik dan militer dalam upaya merebut pengaruh dan kekuasaan di dalam tanah Eropa sendiri.

Di abad ke-16, kekuasaan Turki mulai melemah di hadapan penguasa-penguasa Eropa, sehingga pada permulaan abad ke-18, mulailah muncul polarisasi Barat dan Timur. Studi ini sebagai konsekuensi atas kalahnya Timur –khususnya Islam- dalam mengambil tempat strategis dalam sejarah peradaban manusia.

Namun, Barat juga mulai melihat Islam dari lensa ‘keilmuan/scientific’ yang membagi manusia berdasarkan kategori ras atau spesies: misalnya ras kulit putih Eropa menyimpulkan bahwa mereka adalah superior sehingga pantas untuk menaklukkan orang kulit hitam dan coklat yang ‘buruk’ dan ‘semi-beradab’. Berkat kapitalisme Barat, Stereotip ini semakin hidup. Kemajuan teknologi militer, ilmu pengetahuan dan komunikasi, membuat Barat semakin menguatkan klaim superioritas itu.

Dari sini, mulailah invasi-invasi oleh negara Barat ke Timur untuk melakukan eksploitasi sumber daya alam dan manusia serta kolonialisasi dan persebaran agama. Konflik Israel-Palestina, Inggris, Portugis, Belanda menginvasi Asia Tenggara, bahkan Australia dan Oseania, hingga Amerika yang campur tangan dalam konflik Irak-Iran, adalah bukti betapa superioritas kulit putih benar-benar menemui realisasinya.

Azizul Amri
Public Speaker, Content Writer, Researcher and Human Rights Activist | Student at Mechatronics Engineering PENS
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Toleransi, Kita Perlu Belajar dari Negeri Tolland

Sebelum mulai mendaratkan jemari diatas keyboard laptop, sejenak terlintas dalam pikiran saya sebuah kutipan yang menarik dari buku yang berjudul “Berjamaah (lagi) walau tak...

Terorisme Lahir dari Watak yang Retak

Salah satu musuh terbesar kemanusiaan adalah terorisme. Ia lahir dari watak retak manusia yang dikendalikan hasrat untuk membunuh. Dalam aksinya yang agresif, teroris tak...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mencari Teman Masa Pandemi? Why Not, Berikut Tipsnya

Sudah Satu Tahun Pandemi Covid-19 Melanda Indonesia. sekolah-sekolah, kampus, tempat yang bahkan kantor sekalipun harus berkegiatan online. Mahasiswa baru, murid baru dan orang-orang yang baru memulai...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

ARTIKEL TERPOPULER

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.