Rabu, Juni 16, 2021

Tan Malaka Menjawab: Sosialisme dan Agama

Apakah Indonesia Siap Jika Covid-19 Berlangsung Permanen?

Kehadiran Covid-19 sejak akhir tahun 2019 telah menggemparkan dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Hampir semua aspek kehidupan menjadi terdampak karena Covid-19. Bahkan, tidak sedikit...

Memanusiakan Aplikasi Ojek Online

Ojek Online atau yang acap kali dibunyikan Ojol seketika menjadi primadona di Indonesia sejak kelahirannya beberapa tahun silam. Untuk wilayah Banjarmasin khususnya, kehadiran Ojol...

Sains, Pendidikan, dan Kekerasan Seksual

Sains dan teknologi dapat membuat hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Kira-kira itulah esensi dari pesan Presiden Joko Widodo dalam pembukaan Indonesia Science Expo...

Kampanye Digital di Indonesia, Berebut Suara Rakyat

Peter Thiel dalam bukunya Zero to One, menyebutkan adanya perbedaan yang tegas antara globalisasi dan inovasi. Inovasi adalah suatu hal yang sama sekali baru....
Muhammad Dudi Hari Saputra
Industrial Ministry Expert Staff

Tan Malaka Menjawab: Sosialisme dan Agama

Oleh Muhammad Dudi Hari Saputra (Penulis).

Tan Malaka atau Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka memang pernah memiliki aktifitas di Komintern (Komunis Internasional), namun bukan berarti ia menjadi komunis sebagaimana dituduhkan sebagai orang yang “anti-agama”.

Bahkan dalam banyak tulisannya ia menolak ide-ide komintern itu sendiri; yaitu Indonesia menjadi negara komunis seperti Cina/Tiongkok atau Korea Utara bahkan Uni Sovyet, yang membuatnya memisahkan diri dari gerakan PKI Sardjono-Alimin-Musso (Dari Penjara ke Penjara, Tan Malaka: 1970).

Menurut Tan Malaka, negara berpahamkan komunis tidak cocok untuk masyarakat Nusantara/Indonesia, malahan masyarakat Indonesia sudah mengenal dan bisa merasakan arti penting sosialisme itu dengan Islam nya (Madilog, Tan Malaka: 1948).

Penolakannya ini didasari bahwa masyarakat nusantara adalah masyarakat yang relijius, yang bakalan menimbulkan resistensi hebat jika menerapkan bentuk negara komunis itu, pandangan ini pula mencuat ketika ia melindungi ide Pan-Islamisme dari “apriori” kelompok komunis (Poeze: 2008).

Selain aktifitas lain yang menunjukkan keislaman nya, seperti bergabung ke dalam Sarekat Islam (bersama H.O.S. Tjokroaminoto, H. Agus Salim, Darsono, dan Semaun), serta keinginannya untuk mengajak elemen masyarakat muslim dalam gerakan sosialis yang kebanyakan ditentang oleh kubu komunis, dsb.

Dan Tan Malaka pula pada akhir masa politik menjelang meninggalnya, telah mendirikan partai Murba (Musyawarah Rakyat Banyak) bersama Chaerul Saleh, Adam Malik dan Sukarni, yang tentu telah menegaskan sikapnya yang berseberangan dan keluar dari ide komintern dan PKI.

Sebagaimana sudah dipaparkan diatas:

Maka sebenarnya Tan Malaka sendiri bukanlah seorang komunis sebagaimana dituduhkan “anti-agama” atau “anti-Islam”, melainkan memiliki kemiripan pemikiran dengan Soekarno dan Hatta yaitu berpahamkan Sosialisme namun berdasarkan karakteristik Nusantara/Nasionalis (Feith: 1958), sehingga ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional, karena jiwa Nasionalisme dan perjuangan nya didalam kemerdekaan Indonesia.

Untuk membantah tuduhan bahwa Tan Malaka seorang “komunis” yang “anti-agama” atau “anti-Islam”, maka ada baiknya kita mencermati tulisan karya Tan Malaka sendiri di Madilog, halaman 89:

Allah itu Maha Kuasa, Maha Suci, Maha Mulia, Maha Tahu, hadir pada semua Tempoh dan pada semua tempat. Jadi pada tiap-tiap detik dan tempat bisa betulkan hati dan laku mahluk-Nya dan terutama Dia Maha-Pengasih.

Jadi Tuhan Allah, sarwa sekalian Alam, yang Maha Pengasih itu akan sampai hati berabad-abad melihatkan ribu-jutaan hambanya yang lemah dan fana itu diazab dibakar api neraka, berkali-kali sesudah dijadikan sebesar gunung ! Allahu Akbar ! 

Adapun sikap Tan Malaka terkait agama Islam, sama halnya dengan sikap Nasionalis-Relijius muslim yang memisahkan agama dari politik/negara, namun tetap menjadikan Islam sebagai sumber nilai kehidupan (Madilog, Tan Malaka: 1948)

berikut salah satu kutipan dari Madilog, Hal. 187:

Berhubungan dengan ini maka Yang Maha Kuasa jiwa terpisah dari jasmani, surga atau neraka yang diluar Alam Raya ini tiadalah dikenal oleh ilmu bukti, semuanya ini adalah diluar daerahnya Madilog. Semuanya itu jatuh kearah kepercayaan semata-mata.

Ada atau tidaknya itu pada tingkat terakhir ditentukan oleh kecondongan persamaan masing-masing orang. Tiap-tiap manusia itu adalah merdeka menentukannya dalam kalbu sanubarinya sendiri.

Dalam hal ini saya mengetahui kebebasan pikiran orang lain sebagai pengesahan kebebasan yang saya tuntut buat diri saya sendiri buat menentukan paham yang saya junjung.

Wallahu a’lam.

Sekedar tambahan, di dalam tulisan nya, Tan Malaka pun menulis kalimat wallahu a’lam, yang menunjukkan pengakuan ketidaktahuan nya dari segi ilmu selain Allah sebagai yang maha mengetahui.

Orang yang menggunakan akal nya adalah yang berfikir sebelum menilai sesuatu, bukan yang menilai sesuatu tanpa berfikir (Al-Hadis).

Muhammad Dudi Hari Saputra
Industrial Ministry Expert Staff
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Koperasi, Keadilan Ekonomi, Pancasila

Setiap negara pada hakikatnya menganut sebuah ideologi yang menjadi dasar bagi bangsanya dalam kehidupan bernegara. Seandainya suatu negara tidak memiliki sebuah ideologi yang dianut,...

Karya, Nama, Media: Tentang Kehebohan A.S. Laksana

Tahun 2001 saya bertemu dengan seorang pelukis dari negeri Tiongkok yang namanya belum terlalu tenar. Karya-karyanya dapat digolongkan sebagai lukisan realistik, dalam arti mengambil...

Distribusi Resiko untuk Keadilan Iklim

Saat ini, daya dukung lingkungan hidup mengalami keterbatasan di tengah kondisi iklim yang menyebabkan peningkatan potensi dan intensitas kejadian bencana. Indonesia merupakan salah satu...

Tiga Tahun Zonasi, Sudahkah Memberi Solusi?

Sistem zonasi dalam perekrutan peserta didik baru untuk semua jenjang telah berlangsung selama tiga tahun. Dan jika untuk tahun ajaran baru kelak sistem ini...

Kepalsuan Gelar Duta

Salah satu karakteristik dari masyarakat modern yang paling menonjol adalah keinginannya untuk memperoleh nilai prestise. Tentu saja, keinginan tersebut bukan hal yang berlebihan. Saat...

ARTIKEL TERPOPULER