Industri penerbangan merupakan sektor yang sangat dinamis, membutuhkan tenaga kerja dengan keterampilan khusus dan standar keselamatan tinggi. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, industri ini menghadapi tantangan besar, seperti pandemi COVID-19, yang menyebabkan gelombang PHK, pensiun dini, dan migrasi tenaga kerja ke sektor lain. Akibatnya, saat industri kembali pulih, terjadi kekurangan tenaga kerja terampil di berbagai bidang, mulai dari pilot, teknisi, pengawas lalu lintas udara, hingga tenaga manajerial.
Untuk mengatasi permasalahan ini, industri penerbangan global dan nasional mulai menerapkan dua strategi utama:
- Talent Return, yaitu upaya menarik kembali tenaga profesional yang telah meninggalkan industri agar dapat kembali berkontribusi.
- Dual Career System, yaitu sistem yang memungkinkan individu untuk memiliki dua jalur karier dalam satu perusahaan atau lintas industri guna meningkatkan fleksibilitas dan keberlanjutan karier tenaga profesional.
Kedua konsep ini bukan hanya solusi jangka pendek untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja, tetapi juga strategi jangka panjang untuk membangun tenaga kerja yang lebih fleksibel, berdaya saing, dan berkelanjutan.
- Talent Return dalam Industri Penerbangan
Talent Return adalah program yang dirancang untuk menarik kembali tenaga profesional yang telah keluar dari industri penerbangan karena berbagai alasan, seperti pensiun dini, PHK, transisi ke industri lain, atau cuti panjang (misalnya cuti melahirkan atau alasan kesehatan).
Berbagai maskapai dan penyedia layanan penerbangan telah menerapkan program Talent Return dengan pendekatan berikut:
a. Program Re-Entry & Retooling
FAA dan EASA menyediakan program sertifikasi ulang bagi pilot yang ingin kembali bekerja setelah hiatus.
Singapore Airlines meluncurkan program rekrutmen ulang untuk mantan awak kabin dan staf operasional dengan pelatihan tambahan.
Boeing dan Airbus menjalankan program pelatihan ulang bagi teknisi dan insinyur penerbangan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja terampil.
b. Flexible Work Arrangement
Maskapai seperti Qantas dan Emirates menawarkan skema kerja fleksibel bagi pilot dan teknisi yang ingin kembali dengan jadwal kerja yang lebih ringan.
Otoritas penerbangan di beberapa negara mulai menawarkan posisi konsultatif bagi profesional senior yang ingin kembali bekerja dalam kapasitas terbatas.
c. Reverse Mentorship & Knowledge Transfer
Lufthansa dan Delta Airlines menjalankan program mentorship, di mana mantan karyawan senior yang kembali bekerja diberikan peran sebagai mentor bagi karyawan baru untuk mempercepat pembelajaran.
d. Alumni Engagement Program
Beberapa maskapai, seperti British Airways dan Garuda Indonesia, mempertahankan hubungan dengan mantan karyawan melalui komunitas alumni dan memberikan kesempatan bagi mereka untuk kembali bekerja dengan jalur rekrutmen khusus.
- Dual Career System dalam Industri Penerbangan
Dual Career System memungkinkan tenaga kerja penerbangan untuk mengembangkan dua jalur karier secara paralel, baik dalam satu industri maupun lintas industri. Ini menjadi penting karena industri penerbangan memiliki tantangan besar dalam mempertahankan tenaga kerja, terutama akibat siklus ekonomi yang fluktuatif.
a. Career Mobility & Cross-Training
Qatar Airways dan Etihad Airways memiliki program pelatihan lintas fungsi, di mana pilot, awak kabin, dan teknisi dapat mengambil peran manajerial atau operasional lainnya.
Angkasa Pura II memberikan kesempatan bagi pegawai di bandara untuk beralih ke bidang pengelolaan operasi penerbangan dan layanan penumpang.
b. Education & Certification Support
Maskapai seperti Cathay Pacific dan Air France menawarkan beasiswa dan dukungan pendidikan bagi pilot dan teknisi yang ingin beralih ke peran manajerial atau akademik.
Garuda Indonesia Training Center (GITC) memberikan pelatihan bagi karyawan yang ingin berpindah dari peran operasional ke bidang pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia.
c. Hybrid Roles & Gig Economy in Aviation
Pilot dan Instruktur Penerbangan: Banyak pilot senior di United Airlines dan ANA yang juga berperan sebagai instruktur penerbangan atau konsultan keselamatan penerbangan.
Teknisi Penerbangan & Konsultan Industri: Banyak teknisi di industri penerbangan yang juga bekerja sebagai konsultan bagi startup di bidang teknologi aviasi.
d. Industry-Academia Collaboration
KLM dan MIT bekerja sama dalam riset dan pendidikan, memungkinkan profesional penerbangan untuk menjadi dosen tamu atau peneliti.
Indonesia Aviation Polytechnic (STPI Curug) bekerja sama dengan maskapai nasional untuk memberikan kesempatan bagi tenaga kerja industri menjadi pengajar di akademi penerbangan.
Contoh Talent Return dalam Penerbangan Global, antara lain:
- United Airlines meluncurkan program “Return to Flight” bagi mantan pilot yang sempat keluar dari industri, dengan pelatihan ulang dan resertifikasi.
- Singapore Airlines memanggil kembali ratusan awak kabin yang diberhentikan selama pandemi, memberikan mereka pelatihan adaptasi.
- Airbus menawarkan skema kerja kontrak bagi mantan insinyur penerbangan yang ingin kembali bekerja dalam proyek jangka pendek.
Contoh Talent Return dalam Penerbangan Indonesia, antara lain:
- Garuda Indonesia mengaktifkan kembali sejumlah awak kabin dan staf operasional setelah pemulihan industri pasca-pandemi.
- PT Angkasa Pura membuka rekrutmen kembali bagi mantan karyawan yang memiliki pengalaman dalam pengelolaan bandara.
- Lion Air Group menawarkan skema pelatihan ulang bagi mantan teknisi dan pilot yang ingin kembali bekerja.
Contoh Dual Career System dalam Penerbangan Global:
- Pilot Lufthansa yang juga bekerja sebagai konsultan keselamatan penerbangan.
- Insinyur Boeing yang juga menjadi dosen di universitas penerbangan.
- Manajer operasional Emirates yang juga menjalankan bisnis di bidang pariwisata.
Contoh Dual Career System dalam Penerbangan Indonesia:
- Instruktur penerbangan di STPI Curug yang juga bekerja sebagai pilot di maskapai nasional.
- Pegawai PT Angkasa Pura yang juga menjalankan bisnis di bidang layanan ground handling.
- Pilot senior di Garuda Indonesia yang juga menjadi penguji penerbangan di Direktorat Jenderal Perhubungan Udara.
Talent Return adalah strategi kunci untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja di industri penerbangan dengan membawa kembali tenaga profesional berpengalaman yang sebelumnya meninggalkan industri.
Dual Career System memberikan fleksibilitas dan keberlanjutan bagi tenaga kerja penerbangan, memungkinkan mereka untuk mengembangkan karier di lebih dari satu bidang tanpa kehilangan keahlian utama mereka.
Implementasi Talent Return dan Dual Career System telah terbukti efektif di berbagai maskapai dan otoritas penerbangan dunia, serta mulai diadopsi dalam industri penerbangan Indonesia.
Ke depan, industri penerbangan harus lebih proaktif dalam mengembangkan skema ini untuk memastikan keberlanjutan tenaga kerja, peningkatan kompetensi, dan ketahanan industri dalam menghadapi tantangan global.