Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengumumkan KLB (Kejadian Luar Biasa) campak telah mengalami penurunan hingga 93% di minggu ke-12 tahun 2026. Sebuah kabar baik, mengingat tidak banyak masyarakat kita yang mengikuti informasi KLB campak yang sempat mencatat 8.224 kasus suspek campak, 572 terkonfirmasi, dan 5 kematian di awal tahun 2026 atau 23 Februari 2026.
Walaupun menurun, tingkat fatality rate KLB campak masih harus diwaspadai, dengan 10 kasus kematian akibat campak sepanjang 2026. Bahkan Salah satu kasus kematian tercatat oleh dokter internsip di Kabupaten Cianjur, berinisial AMW (25), yang meninggal dunia pada 26 Maret 2026 akibat komplikasi campak pada jantung dan otak.
Kabar baik tentang penurunan drastis angka kasus ini jangan sampai membuat kita terlena. Kemenkes pun menegaskan bahwa surveilans atau sistem kewaspadaan tetap harus berjalan ketat. Sebab, virus campak memiliki sifat sangat menular dan dapat mewabah lagi sewaktu-waktu jika cakupan imunisasi kendur atau jika ada klaster populasi yang tidak terlindungi.
Untuk itu penting untuk membahas KLB campak tahun ini dari sudut pandang masyarakat yang masih saja mempertanyakan mengapa anak-anak kita harus di vaksin? Dalam kasus KLB campak tahun ini, tidak banyak yang melihat bahaya tersembunyi KLB campak, salah satunya dikarenakan literasi rendah dan kerentanan terhadap mispersepsi di kalangan masyarakat itu sendiri terkait pentingnya vaksin campak.
Potret Rendahnya Literasi Vaksin Campak
Di Dusun Gang Asam, Desa Guluk-guluk, Sumenep, Jawa Timur, Zahrotut Taubah (35) menggenggam erat anaknya yang berusia empat tahun. Bocah itu belum pernah menerima imunisasi campak. Bukan karena tidak ada akses, tapi karena ketakutan yang mengakar.
“Karena orang banyak ngomong sama saya kalau divaksin itu anaknya nanti panas bisa meninggal. Katanya banyak anak-anak yang meninggal gara-gara divaksin. Jadi, takut. Kalau vaksin juga harus persetujuan suami. Kalau saya sendiri, terus nanti anak panas, saya yang dimarahi suami,” ujarnya kepada wartawan yang dikutip kanal BBC 9 Maret 2026.
Kisah Zahrotut adalah wajah dari rendahnya literasi vaksin. Ia bukan tidak peduli pada anaknya justru kepeduliannya yang salah arah membuatnya mengambil keputusan yang berisiko. Ketakutan pada efek samping ringan (demam pasca-vaksinasi) justru mengalahkan kesadaran akan bahaya campak yang nyata dan mematikan.
Fenomena ini persis seperti yang dijelaskan dalam jurnal Vaccines:
“Survei terhadap orang tua Inggris yang memiliki anak di bawah 5 tahun menunjukkan bahwa lebih dari 60% responden tidak menyadari bahwa campak bisa berakibat fatal, dan hampir 50% tidak mengetahui bahwa campak dapat menyebabkan komplikasi serius.”
Inilah complacency dalam bentuknya yang paling nyata. Ketika tidak ada kabar tentang campak bertahun-tahun, orang tua merasa aman dan mengabaikan vaksinasi. Mereka lupa bahwa tidak adanya kabar justru karena cakupan imunisasi yang baik selama ini berhasil membentuk kekebalan kelompok (herd immunity). Begitu celah terbuka, virus kembali menyerang.
Literasi Rendah dan Kerentanan terhadap Mispersepsi
Dalam artikel ilmiah American Journal of Public Health, memberikan peringatan keras tentang bahaya literasi yang rendah tentang kegunaan vaksin. Tantangan terbesar bagi upaya literasi vaksin adalah proliferasi misinformasi vaksin secara daring (online).
Selama bertahun-tahun, para ahli kesehatan masyarakat telah berusaha membalikkan kerusakan yang disebabkan oleh laporan tentang hubungan yang tidak berdasar antara autisme dan vaksin masa kanak-kanak, hanya untuk kemudian upaya ini dirusak oleh jumlah besar misinformasi vaksin yang beredar di internet.
Yang lebih mengkhawatirkan, kelompok antivaksin memanfaatkan situasi ini untuk secara aktif menyesatkan publik dan terlibat dalam wacana memecah-belah di media sosial. Mereka menggunakan platform digital untuk menyebarkan retorika tentang kebebasan pribadi, mencoba mengantisipasi kemungkinan mandat vaksin, memperkuat ketakutan dan ketidakpercayaan terhadap vaksin, serta mendiskreditkan mereka yang terlibat dalam pengembangan vaksin.
Penelitian yang dikutip dalam editorial tersebut menunjukkan bahwa paparan terhadap misinformasi tidak dapat begitu saja diatasi melalui upaya pemeriksaan fakta, koreksi, atau debunking. Sebuah kumpulan besar penelitian telah menunjukkan bahwa koreksi jarang berhasil menghilangkan ketergantungan pada misinformasi. Fenomena ini biasa dikenal sebagai “efek pengaruh berkelanjutan” (continued influence effect).
Ini menjelaskan mengapa isu-isu seperti keterkaitan vaksin dengan autism yang sudah lama terbantahkan secara ilmiah, nyatanya masih terus dipercaya dan menjadi alasan penolakan vaksin hingga hari ini.
Radikalisme Terselubung, Isu Halal yang Menjebak
Di sinilah kita memasuki wilayah yang lebih kompleks. Sebuah isu yang terpotret menjadi ciri khas pemahaman masyarakat kita dibandingkan masyarakat di belahan bumi lainnya. Penolakan vaksin tidak hanya soal ketakutan pada efek samping, tapi juga menyangkut keyakinan, termasuk keyakinan agama yang dipahami secara radikal.
Perlu ditegaskan di sini, radikal tidak selalu berarti teroris. Radikal dalam konteks ini adalah cara berpikir yang memotong proses dialog, menolak kompleksitas, dan menyederhanakan persoalan menjadi hitam-putih. Halal atau haram menjadi justifikasi yang dilancarkan oknum-oknum yang justru tidak memiliki kredibilitas memahami ilmu agama yang baik. Tanpa mempertimbangkan konteks, tanpa merujuk pada otoritas yang kompeten, dan tanpa mau mendengar penjelasan ilmiah.
Jurnal Vaccines mencatat adanya hambatan berbasis keyakinan:
“Keyakinan agama atau budaya yang melarang penggunaan produk hewani dan pengujian hewan dalam pembuatan vaksin disebut sebagai alasan untuk tidak melakukan vaksinasi MMR. Virus campak dikultur dalam sel embrio ayam, dan salah satu dari dua merek vaksin MMR yang tersedia mengandung gelatin babi.”
Di Indonesia, isu kehalalan vaksin menjadi perdebatan yang tak pernah benar-benar reda. Padahal, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa yang membolehkan vaksinasi dalam kondisi darurat, terutama ketika belum ada vaksin alternatif yang halal. Namun, informasi ini seringkali tidak sampai atau sengaja diabaikan oleh mereka yang telah terpapar narasi penolakan.
Penutup: Menimbang Ulang Arti Radikal dan Literasi
Meningkatkan literasi vaksin bukan sekadar kampanye informasi, tapi upaya membangun jembatan antara keyakinan dan nalar kesehatan. Ini tentang mengembalikan kompleksitas pada tempatnya, mengajak semua pihak berdialog, dan pada akhirnya, melindungi mereka yang paling rentan, yakni anak-anak kita semua.
Literasi vaksin bukan sekadar tahu bahwa vaksin itu penting. Literasi vaksin yang sesungguhnya mencakup kemampuan publik untuk mengevaluasi informasi kesehatan secara kritis dan menghargai kompleksitas penelitian ilmiah. Karena pada akhirnya, tak ada fatwa yang bisa menghidupkan kembali anak yang telah tiada karena campak. Tapi ada banyak nyawa yang bisa diselamatkan dengan pemahaman yang utuh, dialog yang jernih, dan keputusan yang bijak.
