Taiwan jadi Tujuan Favorit PMI, ini Alasannya

Laudy Echy Suwandi
Laudy Echy Suwandi
Mahasiswa S1 Program Studi Hubungan Internasional Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur
- Advertisement -

Mereka yang disebut Pahlawan Devisa

Pekerja Migran Indonesia (PMI) acap kali dilekatkan dengan gelar pahlawan devisa. Kontribusi nyata peluh para pekerja migran ini dapat sedikit dijabarkan antara lain; penyumbang pemasukan negara, pergerakan roda ekonomi melalui remitansi, hingga pengurangan jumlah pengangguran.

Data Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) pada kuartal satu tahun 2026 membeberkan bahwa 65.813 WNI merupakan pekerja migran luar negeri dengan dominasi pekerjaan pada sektor informal seperti pekerja rumah tangga, pengasuh, dan pekerja perkebunan. Di sisi lain, Taiwan, Malaysia, Hongkong, Jepang, dan Singapura menduduki top lima negara dengan penempatan PMI terbanyak tahun ini. Dipimpin oleh Taiwan dengan proporsi sebaran mencapai 31,11% dari total keseluruhan penempatan pekerja migran Indonesia.

Taiwan menjadi negara dengan proporsi penempatan pekerja migran Indonesia paling tinggi dan peningkatan kuantitas paling tajam tiap bulannya dibandingkan negara-negara lain. Fenomena ini menjadikan Taiwan dikenal sebagai tempat “favorit” banyak migran untuk berangkat mencari nafkah di tanah asing. Fenomena sebaran penempatan pekerja migran asal Indonesia yang lebih condong terpusat di Taiwan tersebut sangat-sangat mungkin digali lebih lanjut alasan eksistensialnya.

Push and Pull Factors dalam Teori Migrasi

Dengan meminjam alat analisis berupa teori migrasi push and pull model yang dikemukakan oleh seorang demograf dan sosiolog asal Amerika Serikat bernama Everett S. Lee, penjelasan mengenai mengapa Taiwan begitu digemari dan acap kali menjadi tujuan utama para pekerja migran yakinnya bisa untuk dibedah satu persatu jawabannya.

Pengertian dasar dari teori ini adalah Lee menjelaskan bahwa migrasi dapat terjadi karena adanya faktor pendorong (push factors) dari negara asal dan faktor penarik (pull factors) dari negara lain atau negara tujuan. Jika diungkapkan secara sederhana, dapat dikatakan kalau negara tujuan migrasi memiliki banyak tarikan bermuatan hal positif dan menguntungkan yang bisa didapatkan untuk para calon tenaga kerja dibandingkan dengan negara asalnya sendiri.

Faktor pendorong (push factors) dalam teori migrasi ini biasanya mencakup negara-negara dengan upah kerja rendah, ketidakstabilan kondisi politik domestik, tingginya angka pengangguran, bencana alam, hingga tidak tersedianya lapangan dan kesempatan kerja bagi semua penduduk di dalamnya.

Berbanding terbalik, faktor penarik (pull factors) dari negara-negara tujuan para pekerja migran biasanya cenderung memiliki ekosistem politik dan ekonomi yang baik. Hal ini dapat meliputi upah kerja yang layak, stabilitas politik domestik, kesempatan kerja melimpah, hingga sistem kesejahteraan dan sosial yang memadai.

Daya Tarik Taiwan bagi Pekerja Migran Indonesia

Dalam fenomena banyaknya migran Indonesia yang berada di Taiwan dengan tujuan untuk bekerja, dapat dikatakan Taiwan memiliki daya tarik yang lebih super dibanding Indonesia dalam hal kesempatan kerja.

Pertama, upah minimum pekerja di Taiwan jelas lebih tinggi dibandingkan Indonesia, meski berada pada sektor pekerjaan yang sama. Gaji pokok pekerja migran di Taiwan per Januari 2026 berada di sekitar NT$29.500 – NT$40.000 per bulan atau 16,1 juta – 21,9 juta untuk sektor informal seperti asisten rumah tangga, pengasuh, dan perawat lansia. Sementara untuk tenaga kerja migran berbasis profesional, gaji pokok mereka mencapai angka NT$40.000 – NT$100.000 per bulan atau 21,9 juta – 54 juta.

Keunggulan lain yang masih linier dengan gaji layak yang disuguhkan oleh Taiwan adalah biaya hidup yang relatif lebih rendah dan terjangkau daripada negara-negara tujuan pekerja migran lain seperti Singapura dan Australia. Sektor manufaktur dan semikonduktor mendominasi industri domestik negara, menjadikan peluang permintaan tenaga kerja dan lembur berbayar semakin meninggi pada sektor ini.

- Advertisement -

Kedua, kondisi politik dan ekonomi Taiwan yang terkontrol dengan baik. Alasan selanjutnya Taiwan menjadi negara yang menarik bagi para pejuang nafkah adalah sistem tata kelola pemerintahan dan ekonomi domestik yang terkendali.

Taiwan tidak lagi bisa dipandang hanya sebagai negara agraris kecil yang banyak bergantung pada bantuan asing. Pada tahun 1960, menurut survei langsung dari World Bank pendapatan per kapita Taiwan saat itu hanya US$146 dengan lebih dari 80% penduduk bekerja di sektor pertanian. Jauh melesat di dasawarsa-dasawarsa selanjutnya, kini pendapatan PDB per kapita Taiwan hampir menyentuh US$41.586 dengan 70% didominasi aktivitas ekspor.

Saat ini, Taiwan menjadi salah satu pemain utama rantai pasok produk berteknologi tinggi seperti semikonduktor dan chip yang didistribusikan ke mancanegara. Kebangkitan ekonomi Taiwan ini ibarat menjadi gawang kosong bagi para pekerja migran untuk mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang lebih layak di sana. Meskipun sedikit banyaknya kondisi politik Taiwan masih bergejolak dengan China, namun agaknya dengan kerjasama dan dukungan erat dari Amerika Serikat, Taiwan akan mampu menghadapi setiap dinamika yang terjadi. Kestabilan kondisi dalam negeri juga merupakan faktor kunci para pekerja migran berbondong-bondong datang ke Taiwan.

Ketiga, Kesempatan kerja yang terbuka lebar. Di mulai pada periode 2024, mekanisme Program SP2T (Special Placement Program to Taiwan) yang dikomandoi oleh Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KemenP2MI/BP2MI) resmi dijalankan.

Program ini meliputi sektor-sektor utama seperti manufaktur dan industri, perawat dan caregiver, serta perhotelan dan jasa. Dengan mekanisme program seperti ini dari pemerintah Indonesia, kesempatan bekerja di Taiwan menjadi lebih mudah dan transparan. Pelaksanaannya pun menjadi lebih terintegrasi secara digital dengan pengawasan langsung oleh pemerintah sehingga menghindarkan dari segala bentuk penipuan seperti scam dan calo.

Kemudian disisi lain, pada sektor informal (non-high skill jobs), permintaan tenaga kerja semakin meninggi. Dapat diketahui bersama jika Taiwan sedang mengalami aging population atau penurunan populasi dengan mayoritas lansia. Angka penuaan penduduk yang semakin bertambah membuat tawaran pekerjaan pada bidang pengasuh dan perawat lansia di Taiwan naik drastis. Tak berhenti di situ, sebagian besar pendapatan keluarga di Taiwan berarus dua arah. Artinya, baik ayah atau ibu dalam suatu keluarga sama-sama bekerja dan berpendapatan, sehingga kesempatan untuk mengasuh anak dan mengurus urusan rumah tangga secara bersamaan agaknya kurang fleksibel.

Indonesia sebagai Negara Penyumbang Pekerja Migran

Tak dapat ditepis, Indonesia saat ini sedang mengalami banyak dilema dalam negeri. Banyaknya tenaga kerja yang memutuskan untuk pergi ke luar negeri membuktikkan jika Indonesia memiliki faktor pendorong (push factors) yang mengakibatkan masifnya fenomena migrasi tenaga kerja. Jumlah pengangguran meningkat, lapangan dan kesempatan kerja semakin sempit, saingan sesama pekerja semakin ketat, hingga kondisi ekonomi dan perpolitikan Indonesia yang rancu menjadi tekanan tersendiri bagi calon tenaga kerja. Keputusan bekerja di luar negeri, maklumnya bisa dipahami sebagai upaya survival menghadapi gejolak-gejolak tersebut.

Laudy Echy Suwandi
Laudy Echy Suwandi
Mahasiswa S1 Program Studi Hubungan Internasional Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur
Facebook Comment
- Advertisement -