Di tengah maraknya film Indonesia yang berupaya mengangkat isu sosial, Surat Untuk Masa Mudaku hadir dengan pendekatan yang tampak menjanjikan: menggali luka masa kecil, kehidupan panti asuhan, serta proses berdamai dengan diri sendiri. Namun, di balik narasi yang emosional, film ini menyisakan persoalan mendasar ia cenderung mereduksi luka sosial menjadi sekadar persoalan individu.
Tokoh Kefas digambarkan sebagai anak panti yang “bermasalah”: keras, pemberontak, dan sulit diatur. Seiring perkembangan cerita, penonton diajak memahami bahwa perilaku tersebut berakar pada pengalaman kehilangan dan pengabaian. Di titik ini, film berhasil membuka ruang empati bahwa di balik label negatif, terdapat luka yang sering kali tidak terlihat.
Persoalan muncul ketika film mulai menawarkan penyelesaian. Relasi antara Kefas dan Pak Simon dijadikan sebagai kunci utama pemulihan. Kehadiran figur yang tegas sekaligus peduli digambarkan mampu mengurai trauma yang selama ini membentuk perilaku Kefas. Narasi ini terasa hangat, bahkan menyentuh, tetapi sekaligus problematis.
Sebab, realitas yang dihadapi anak-anak dalam situasi serupa jauh lebih kompleks. Data dari UNICEF menunjukkan bahwa jutaan anak di dunia tumbuh tanpa pengasuhan orang tua yang memadai, dengan risiko dampak psikologis jangka panjang akibat pengabaian atau kehilangan. Di Indonesia, laporan Kementerian Sosial Republik Indonesia juga mencatat bahwa puluhan ribu anak hidup dalam pengasuhan lembaga seperti panti asuhan, dengan latar belakang sosial dan ekonomi yang beragam.
Artinya, persoalan yang diangkat film ini tidak berhenti pada individu. Ia terkait dengan sistem pengasuhan alternatif yang masih menghadapi berbagai keterbatasan, mulai dari kurangnya tenaga pengasuh hingga minimnya dukungan psikososial. Dalam konteks ini, perilaku seperti yang ditunjukkan Kefas bukanlah penyimpangan semata, melainkan respons yang dapat dipahami dari kondisi yang dihadapi.
Namun, film ini tidak cukup jauh masuk ke wilayah tersebut. Panti asuhan hanya berfungsi sebagai latar emosional, bukan sebagai bagian dari sistem sosial yang perlu dikritisi. Akibatnya, narasi yang dibangun cenderung menggeser tanggung jawab dari struktur ke individu. Kefas harus berubah, harus berdamai, dan harus menemukan makna atas lukanya sendiri.
Pendekatan ini berisiko menciptakan ilusi bahwa penyembuhan cukup dilakukan secara personal. Padahal, kajian dalam psikologi perkembangan menunjukkan bahwa trauma masa kecil terutama yang berkaitan dengan kehilangan dan pengabaian membutuhkan dukungan jangka panjang yang melibatkan lingkungan sosial yang stabil. Tanpa itu, proses pemulihan tidak sesederhana yang ditampilkan.
Lebih jauh, tidak semua anak memiliki akses pada figur seperti Pak Simon. Dalam banyak kasus, anak-anak justru tumbuh dalam sistem yang minim perhatian individual. Ketika film memilih jalur penyelesaian yang terlalu personal, ia berisiko menyederhanakan realitas seolah-olah empati individu sudah cukup untuk menyelesaikan persoalan yang sebenarnya bersifat struktural.
Di titik ini, Surat Untuk Masa Mudaku mencerminkan kecenderungan yang lebih luas dalam industri film Indonesia: keberanian untuk mengangkat isu sosial, tetapi belum sepenuhnya berani menggugat akar masalahnya. Film sering kali berhenti pada eksplorasi emosi, tanpa melangkah ke kritik yang lebih dalam.
Padahal, justru di situlah peran penting karya budaya. Film tidak harus menawarkan solusi konkret, tetapi setidaknya mampu menunjukkan bahwa persoalan yang diangkat tidak berdiri sendiri. Ia bisa menjadi medium untuk memperluas cara pandang, bukan sekadar ruang katarsis emosional.
Secara sinematik, film ini tetap memiliki kekuatan. Pendekatannya yang tenang dan tidak berlebihan membuat cerita terasa dekat dengan realitas. Namun, pilihan gaya yang realistis seharusnya diiringi dengan keberanian untuk menampilkan kompleksitas realitas itu sendiri.
Pada akhirnya, Surat Untuk Masa Mudaku berhasil menyentuh sisi emosional penonton dan membuka ruang empati terhadap luka masa kecil. Namun, ia belum sepenuhnya berhasil mengangkat luka tersebut sebagai persoalan sosial yang lebih luas.
Dan mungkin di situlah letak kritik terpentingnya: tidak semua luka bisa selesai hanya dengan berdamai. Sebagian di antaranya menuntut kita untuk melihat lebih jauh bahwa ada sistem yang turut membentuknya, dan karenanya, tidak bisa diabaikan begitu saja.
Pada akhirnya, meskipun belum sepenuhnya menggali kompleksitas persoalan sosial yang diangkat, Surat Untuk Masa Mudaku tetap layak diapresiasi sebagai upaya menghadirkan cerita yang peka dan menyentuh. Film ini berhasil membuka ruang empati serta mengajak penonton untuk lebih memahami luka yang kerap tersembunyi di balik perilaku seseorang. Dengan pendekatan yang hangat dan manusiawi, film ini menjadi langkah awal yang penting dalam menghadirkan narasi yang lebih sadar akan isu-isu sosial di tengah perfilman Indonesia.
