Notice: Undefined index: HTTP_REFERER in /home/geotimes/wordpress/wp-content/plugins/Plugin/plug.php on line 23
Starbucks dan Ketakutan-Ketakutan Kita | GEOTIMES
Jumat, April 16, 2021

Starbucks dan Ketakutan-Ketakutan Kita

Kurt Cobain, Grunge, dan Feminisme

Menikmati musik rock bagi sebagian orang dapat membangkitkan mood mereka pada saat bekerja bahkan mampu membelalakan mata saat mengantuk. Dentuman drum yang bertalu-talu dengan tempo yang...

China dan Kalahnya Corona di Indonesia

Suasana begitu mencekam melihat ribuan korban tersambar virus mematikan. Ada rasa khawatir, resah, serta gelisah jika sewaktu-waktu virus menyerang saat kita lemah. Semua orang...

Penyembah Presiden Itu Kanker dalam Demokrasi

Bisingnya Pemilu 2019 sungguh-sungguh memekakan gendang telingaku. Masing-masing pihak berlaku bak para bigot yang cap itu kerap mereka tempelkan ke para radikalis agama. Mereka membabi-buta...

“Kadeudeh” Oligarki dan Kapitalisme dalam Demokrasi Politik Pilkada

Pilkada di Indonesia ini sungguh istimewa, terutama pilkada Jabar. Selain menjadi salah satu point penting dan kawasan paling strategis dalam eskalasi poros ekonomi politik...
Rohmatul Izad
Alumni Pascasarjana Ilmu Filsafat Universitas Gadjah Mada.

Jika untuk mendapatkan Iphone X kita harus puasa enam bulan ngopi di Starbucks, maka ungkapan Tim Cook, COE Apple ini, sama sekali tidak berlaku di  khalayak masyarakat Indonesia. Di samping harga Iphone X yang terlampau melambung tinggi yang bahkan mencapai 18 juta/per-unit, mungkin mengharuskan kita puasa ngopi hingga sepuluh bulan di Starbucks, tetapi semua itu tidak berlaku ketika ada salah seorang ustadz kondang yang baru saja memberi fatwa haram dan tentunya akan masuk neraka jika meminum kopi itu.

Keputusan hukum ini mungkin penting bagi sebagian komunitas muslim tertentu, sebab perusahaan Starbucks dipengarai telah menyumbangkan sebagian penghasilannya untuk komunitas LGBT di seluruh dunia. Sikap hukum Islam dan konstitusi negara jelas bahwa LGBT tertolak dan tidak ada alasan apapun yang dapat melegalkannya.

Jika doktrin Islam dan hukum negara menganggap LGBT ilegal dan tak pantas hidup di negeri gemah ripah loh jinawi ini, tetapi tidak lantas fatwa ustadz kondang yang mengharamkan ngopi di Starbucks itu menjadi benar dan harus diikuti. Sebab tidak ada hubungan logis antara bergaya ngaffe di Starbucks sambil selfi-selfi dan tetek bengek LGBT, sangat tidak ada.

Kalau lah memang kedua hal itu terpaksa harus dan mengharuskan kita untuk mencarikan titik temu dan memutuskan hubungan logisnya, maka ngopi di Starbucks tak ubahnya menikmati fasilitas-falisitas lain yang diciptakan oleh orang-orang Barat dan tampaknya sudah menjadi semacam kebutuhan pokok yang tak bisa dihindari. Sebuah kebutuhan di mana membaca dan menulis status di medsos lebih penting daripada dua lembar bacaan kitab suci atau sekedar pengen tau perkembangan ilmu pengetahuan di jurnal-jurnal berbobot.

Google dan Facebook misalnya, dua dari sekian banyak perusahan raksasa penyedia layanan aplikasi dan teknologi komunikasi terbarukan yang ternyata juga dipengarai telah mendukung LGBT dan semacamnya, dalam caranya sendiri-sendiri, lalu apakah kita (umat Islam) lantas juga diharamkan memakainya? Hubungan yang tampak logis ini, jika dipertautkan dengan persoalan pertama, akan terlihat sangat tidak masuk akal jika dikatakan bahwa para penggunanya juga akan masuk neraka dan merasakan betapa panasnya api itu.

Kita seringkali dihadapkan pada persoalan-persoalan pelik dalam arus perubahan zaman, yang pada akhirnya mengharuskan kita untuk secara cepat dapat memutuskan status hukum (istinbat hukm)-baik hukum agama maupun hukum negara-agar kita menjadi mengerti bahwa untuk mengikuti zaman kita tak boleh terbawa oleh zaman, dalam arti kebablasan.

Seorang ustadz atau imam dari agama tertentu, memang diharuskan untuk dapat merumuskan nilai-nilai instrumental dalam menghadapi tantangan, sebab mereka panutan dan pemberi arah dalam roda perputaran iman dalam masyarakat. Lantas, ustadz macam apa yang kita butuhkan? Logika-logika iman seperti apa yang seharusnya cocok untuk menghadapi tantangan-tantangan itu? Dalam menjawab pertanyaan ini, kita tak pernah tunggal dan selalu multi-tafsir.

Paling tidak, jika toh pertentangan pendapat begitu membingungkan dan tak lagi dapat menjadi panutan, maka kita masih memiliki akal sehat, rasio di mana semua orang merasa memilikinya dan dapat dijadikan instrumen untuk menentukan mana fatwa yang tampaknya benar tetapi salah dan mana yang tampaknya salah tetapi benar, akal sehat sangat berperan penting dalam menentukan mana kebajikan praktis yang dapat dikuti atau ditolak sama sekali.

Lalu mengapa pula LGBT dilarang dalam Islam atau hukum negara? Bukankah merupakan hak setiap individu untuk bebas memilih menjadi apa yang ia inginkan selama ia tak menganggu kebebasan orang lain. Bukankah HAM memastikan bahwa dalam terminologi kebebasan, setiap orang setara dan memiliki hak yang sama atas tanggungjawab dan kewajibannya serta kehendak bebasnya? Mari kita tuntaskan.

Ternyata, persis pada persoalan HAM inilah LGBT ditentang dan tertolak baik dalam Islam maupun hukum negara. Di Barat, HAM dipahami sebagai nilai dan pandangan hidup yang bersifat universal, meliputi segala arah dan tidak terikat oleh ruang dan waktu, pemahaman ini sangat logis dan orang-orang Barat mengimaninya sebagai hukum alam yang harus diterima dan dijaga sedemikian rupa.

Bagi mereka, HAM adalah sebuah ketetapan pasti yang tidak bisa ditolak, sebab ia karunia hidup dan tak elok jika kita menolaknya, menolak HAM berarti berkata tidak terhadap hidup, dalam arti mati saja kalau tak mampu memahami dan menerimanya. Jika anda menolak ketetapan bahwa makan dapat membuat hidup anda menjadi lebih panjang, maka tidak sulit untuk memutuskan apakah anda ingin hidup atau mati. Persis seperti itulah HAM yang dipahami oleh mereka yang kita persepsikan sebagai orang-orang Barat.

Di Indonesia, HAM dipahami sama sekali berbeda sebagaimana yang ada di Barat. Sebagai nilai dan pandangan hidup, HAM dipahami sebagai sesuatu yang bersifat partikular, terbatas dan kekuatan logisnya sama dengan nilai dan pandangan hidup lainnya, seperti hukum adat, nilai-nilai lokal bahkan ajaran agama sekalipun. Maka cara pandang umat Islam dan hukum negara melalui perspektif partikular itu.

Jika LGBT menurut hukum Islam dan Undang-undang dianggap ilegal, maka itu sah dan sama sekali tidak bertentangan dengan hak-hak asasi manusia. Ini soal moral, soal di mana perilaku masyarakat sangat ditentukan oleh nilai-nilai yang berkembang di masyarakat dan agama yang ia yakini. Ditambah, sistem demokrasi di negeri ini berlandaskan pada hukum, bukan pada ideologi sekuler di mana ketetapan agama tak boleh menyerobot ketetapan negara dalam konteks politik dan nilai-nilai universal yang diyakini.

Meski begitu, kita tak perlu menganggap LGBT sebagai sesuatu yang nadis, berdosa dan menjijikkan. Jika memang ada satu pandangan hidup yang mengakui bahwa LGBT itu sah dan merupakan hak asasi, maka kita tak perlu mencemooh dan menghakimi keyakinan mereka, biarlah kita hidup dengan nilai-nilai kita dan mereka dapat hidup harmonis dengan sesuatu yang mereka anggap benar. Agamaku ya agamaku, agamamu ya agamamu, inilah yang universal dan berlaku di mana-mana tanpa ada intervensi dari ruang dan waktu,

Waspada sangat boleh dan itu penting, tetapi tidak mungkin bersikap waspada dan pada saat yang sama kita menghakimi sesuatu yang memang diluar kontrol kita, diluar kapasitas kita, dan tidaklah logis apabila satu pandangan yang kita anggap keliru lalu menjadi benar-benar keliru. Kita hanya perlu membumbungi pikiran dengan keterbukaan pandangan, menghormati perbedaan dan biarlah perdamaian menjadi jawaban atas ketakutan-ketakutan kita.

Rohmatul Izad
Alumni Pascasarjana Ilmu Filsafat Universitas Gadjah Mada.
Berita sebelumnyaKenapa Hanung?
Berita berikutnyaMewujudkan Kembali KTT AS-Korut
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Daniel Dhakidae, Kekuasaan dan Pelanggaran HAM

“Kekuasaan yang tidak memiliki kehormatan, tidak akan pernah mampu menghadirkan keadilan.” Ungkapan yang keras, menohok hati itu diucapkan oleh Bung Daniel Dhakidae awal tahun 2020...

Generasi Z dan Radikalisme Beragama

Peristiwa ledakan bom di Gereja Katedral Kota Makassar pada 28 Maret 2021 lalu, menggegerkan masyarakat Indonesia. Bukan hanya karena jenis ledakan yang masuk kategori...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Peran Besar Generasi Milenial Menuju Indonesia Maju

Menurut data Badan Pusat Statistika (2020), Indonesia memiliki jumlah penduduk yang cukup tinggi yaitu sekitar 270 juta jiwa dengan tingkat pertumbuhan penduduknya sebesar 1,25%...

Dua Sisi Media Digital Terhadap Budaya Lokal

Mari kita mulai membaca dan sambil memperhatikan sekitar kita tentang Media,Budaya, dan Jati Diri. Mungkin kita sudah mengetahui istilah Globalisasi. Globalisasi itu ditandai dengan...

ARTIKEL TERPOPULER

Gagalnya Kudeta Terhadap Raja Yordania?

Pada 4 April 2021, Panglima Militer Yordania, Mayjen Yousef Huneiti menyatakan bahwa pihaknya telah meminta secara resmi Pangeran Hamzah untuk menghentikan semua kegiatan atau...

Eren Yeager, Kesadaran dan Kebebasan

Pemberitahuan: esai ini terdapat cuplikan cerita Attack on Titan (AoT) episode 73. Pada musim akhir seri AoT, Eren Yeager tampil dengan kondisi mental yang jauh lebih...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Daniel Dhakidae, Kekuasaan dan Pelanggaran HAM

“Kekuasaan yang tidak memiliki kehormatan, tidak akan pernah mampu menghadirkan keadilan.” Ungkapan yang keras, menohok hati itu diucapkan oleh Bung Daniel Dhakidae awal tahun 2020...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.