OUR NETWORK
Selasa, Desember 7, 2021

Soe Hok Gie dan Refleksi Idealisme Mahasiswa

Bahasa Slang dalam Game

Guru Honorer, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Lalik Kongkar
Pemerhati Bidang Pembangunan Desa

Karakter seseorang dapat menandakan jiwa zamannya, tetapi terkadang pemikiran seseorang melampaui zamannya. Badan boleh binasa, tetapi pemikiran seseorang tetap mengabdi sepanjang hayat. Salah satu golongan yang memilki peran vital dalam masyarakat adalah mahasiswa. Golongan kelas menengah ini dituntut untuk selalu melahirkan pemikiran yang baru dan segar. Selain itu mahasiswa juga dituntut untuk menjadi aktor perubahan baik evolusioner maupun revolusioner.

Periode tahun 1960-an, gerakan mahasiswa Indonesia terpolarisasi oleh berbagai kepentingan pribadi, kelompok, golongan, agama, bahkan kepentingan politik; politik aliran, politik sekelompok atau golongan, dan partai politik. Situasi pada saat itu tidak jauh berbeda dengan kondisi saat ini. Hal tersebut membuat saya teringat pada satu sosok yang turut ambil andil dalam gerakan perubahan pada periode akhir orde lama tersebut. Sosok tersebut yang saya ketahui dari berbagai literatur dengan nama Soe Hok Gie.

Soe Hok Gie lahir pada tanggal 17 Desember 1942. Ia lahir ketika perang tengah berkecamuk di Pasifik. Perjalanan hidupnya sangat singkat. Ia meninggal pada 16 Desember 1969, sehari sebelum usianya genap 27 tahun. Kematiannya yang mengejutkan membuat banyak orang menangis dan meratap dengan perasaan tak menentu. Semasa hidupnya, banyak orang yang tidak dapat tidur  nyenyak karena komentar pedasnya. Keberanian yang luar biasa dari seorang intelek yang independen dan idealis. Pemikirannya kritis, rasional dan terkadang melampaui zamannya.

Pada tahun 1961, Gie menuntut ilmu di Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia. Inilah awal dari kehidupan baru yang kemudian menghantarkan namanya melambung tinggi melampaui ketinggian Semeru, gunung tempatnya menghembuskan nafas terakhir bahkan melebihi tinggi pesawat Hercules yang mengudara menghantarkan jenasahnya kembali ke Jakarta. Ketajaman penanya mengisyaratkan bahwa ia seorang sejarahwan yang menulis apa adanya bukan ada apanya.

Sikap idealis yang dipertahankannya membuatnya berseberangan dan kemudian dikucikkan okeh teman-temannya. Tetapi hal tersebut bukanlah persoalan yang berarti untuknya. Baginya, ketika kita mempertahankan kebenaran, artinya kita telah siap kesepian. Idealis sejati hanya berkata, berbuat, dan bertindak atas nama kebenaran. Itulah Soe Hok Gie, intelektual yang selalu menjadi inspirasi mahasiswa Indonesia di segala zaman. Ketika kawan-kawan seperjuangannya telah duduk menjadi birokrat dan perlahan-lahan mulai kehilangan idealismenya, Gie tetap saja pada pendiriannya. Baginya, politik adalah lumpur yang kotor. Namun ketika kita tidak menghindar, maka terjunlah ke dalamnya.

Bagi Gie, lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan. Dalam entri catatan hariannya, ia mengutip seorang filsuf Yunani yang mengatakan bahwa nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan tersial adalah umur tua. Bagi Gie, orang yang mati muda tidak kehilangan idealismenya.

Dewasa ini, pergerakan mahasiswa kembali menuju jalur yang menanjak. Kesadaran akan statusnya sebagai agen of social control mendapat tantangan berat. Pilihan antara meneruskan perjuangan atau kuliah menjadi tanya besar yang menyesakkan dada. Seorang intelektual atau menurutnya intelegensia harus memiliki kemampuan berpikir yang baik dari menciptakan suatu terobosan baru. Itu memang tugas utamanya, tetapi kondisi politik negara dan kehidupan sosial yang biasanya memberikan ketidakadilan juga menuntut seseorang untuk bergerak sesuai fungsi sosialnya, alat kontrol sosial. Guna menjalankan fungsi sosialnya dengan baik, maka seorang mahasiswa wajib memiliki kepekaan, kepeduliaan, dan keberpihakan sosial kepada mereka yang tertindas oleh kekuasaan negara.

Soe selalu tampil ke depan untuk melawan dan menyuarakan ketidakadilan. Namun ia tak pernah menganjurkan anarkis saat mereka melakukan aktivias poitik ala mahasiswa. Saat ini anarkisme cenderung menjadi simbol dari pergerakan mahasiswa. Jarang kita dengar aksi mahasiswa berakhir dengan damai. Bahkan hampir setiap hari dari Sabang sampai Merauke media selalu memberitakan bagaimana posisi mahasiswa terlibat bentrok dengan pihak aparat. Itu semua sejatinya menjadi panggilan hidup bagi seorang mahasiswa atas nasib bangsa ini.

Sebuah pertanyaan muncul, masih adakah seorang mahasiswa Indonesia yang seperti Gie? Yang sama persis sukit ditemukan, tetapi saya yakin suatu saat pasti ada; jika ketidakadilan , korupsi, kolusi, kemiskinan, dan hal-hal sejenisnya masih ada. Hukum belum ditegakkan sebagaimana harapan masyarakat bangsa. Apalagi demokrasi ala Indonesia masih menjadi  masalah oleh negara. Dan negara hanya mementingkan citranya sebagai bangsa yang besar, tetapi melupakan masa lalunya.

Di tengah persoalan bangsa yang semakin pelik, bangsa ini membutuhkan generasi muda yang sadar akan nasib bangsanya. Generasi muda yang tidak hanya kritis tapi juga rasional. Generasi muda khususnya mahasiswa hendaknya bertindak sesuai dengan statusnya sebagai agen perubahan sosial. Tetapi saat ini, mahasiswa tidak cukup menjadi agen tetapi juga dituntut menjadi aktor dari perubahan itu sendiri. Ingat bahwa setiap generasi berhak menulis sejarahnya sendiri. Jangan sampai mahasiswa malah berubah menjadi leviathan, meminjam istilah Thomas Hobbes, yang malah menjadi aktor di balik carut-marutnya kondisi negara ini.

Bercermin pada masa lalu menjadikan kita lebih arif. Manusia dengan potensi jiwa yang selalu menyuarakan kebenaran dan berbuat benar, pasti peroleh ketenangan. Jika ia telah sampai di halte terakhir kehidupan, dirinya akan dikenang dan dikagumi sebagai generasi emas yang tak pernah lekang dalam ingatan kolektif masyarakat bangsanya. Itulah Soe Hok Gie lima puluh dua tahun yang lalu. Semoga masih ada lagi yang lain.

Lalik Kongkar
Pemerhati Bidang Pembangunan Desa
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.