Minggu, Mei 19, 2024

Sistem Transisi Energi Bersih G20 Menghapuskan Bahan Bakar Fosil

Juniar Feni Rose Angelica
Juniar Feni Rose Angelica
Student from Parahyangan Catholic University

Kondisi bumi yang buruk akibat penggunaan bahan bakar fosil telah menjadi perhatian khusus G20 untuk membentuk transisi energi yang lebih bersih. Pertumbuhan penduduk yang pesat di dunia mengakibatkan peningkatan kebutuhan manusia yang bersumber dari bahan bakar fosil semakin tinggi.

Sarana transportasi dan pembangkit listrik menjadi penggunaan konsumsi terbanyak di dunia. Produksi minyak bumi dan batu bara yang terus meningkat tiap tahun membuat ketersediaan energi tersebut menipis. Sektor Industri juga berperan dalam penggunaan bahan bakar fosil yang tinggi.

Menteri Perindustrian, Mohamad Suleman Hidayat, menyatakan bahwa saat ini industri masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil. Padahal porsi industri dalam konsumsi energi nasional mencapai 49,4 persen (Kemenperin, 2013). Penggunaan energi fosil yang tinggi di dunia menjadi peran sektor energi yang membantu negara dalam perkembangan ekonominya. Hal ini membuat negara memiliki ketergantungan dalam produksi dan konsumsi energi fosil.

Pasokan energi di dunia yang didominasi oleh penggunaan energi fosil mengakibatkan dampak-dampak negatif yang telah menjadi permasalahan bagi negara, sehingga hal ini mendapat perhatian global. Masyarakat internasional menaruh perhatian pada permasalah lingkungan di dunia seperti pemanasan global. Emisi CO2 merupakan penyebab terbesar terjadinya pemanasan global.

Penghasil emisi CO2 terbesar merupakan negara anggota G20 (Group of Twenty) yaitu Amerika, Uni Eropa, dan China. Berdasarkan persentase tahun 1965-2016 Amerika menjadi penghasil emisi CO2 terbesar yaitu 25%, diikuti Uni Eropa 20%, dan China 16% (Alfisyahri,dkk, 2022). Dampak pemanasan global ini menyebabkan naiknya suhu lautan, perubahan pola cuaca, perubahan frekuensi dan intensitas badai, serta naiknya permukaan air laut akibat mencairnya es di kutub.

Penggunaan energi fosil yang meningkatkan emisi CO2 juga berdampak terhadap kesehatan masyarakat dan memiliki pengaruh pada pengeluaran pemerintah di sektor kesehatan. Jika tingkat emisi CO2 di udara meningkat, kualitas udara menjadi rendah dan bisa menimbulkan berbagai penyakit terutama pada pernapasan.

Semakin sering seseorang terpapar dengan kualitas udara yang buruk, semakin besar kemungkinan mereka untuk sakit. Itu sebabnya, permintaan untuk perawatan kesehatan semakin meningkat dan pada akhirnya akan meningkatkan pengeluaran negara untuk perawatan kesehatan. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya untuk mengurangi penggunaan energi fosil yaitu dengan melakukan transisi energi bersih menggunakan energi terbarukan yang ramah lingkungan.

Negara-negara G20 memiliki tanggung jawab besar dan peran strategis dalam memajukan penggunaan energi bersih karena G20 menyokong sekitar 75% dari permintaan energi dunia (ESDM, 2022). Transisi energi harus mampu menciptakan pembangunan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral telah mengambil berbagai langkah untuk membuka jalan menuju lingkungan hijau. Salah satunya adalah pengurangan dan penghapusan penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Langkah konkrit lainnya yang dilakukan G20 adalah mempercepat penutupan pembangkit listrik tenaga batu bara serta memperluas energi terbarukan secara adil dan berkelanjutan. Namun, hal ini bukanlah proses yang mudah untuk dapat tercapai dan transisi ini perlu dilakukan secara hati-hati.

Presiden Joko Widodo berhasil memimpin kepresidenan G20 Indonesia yang ditandai dengan tercapainya hasil nyata pada beberapa proyek dan topik strategis seperti transisi energi. Indonesia telah mengupayakan solusi terbaik di antara tantangan-tantangan baru yang muncul dan pencapaian ini dipuji oleh beberapa pemimpin dunia seperti Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Presiden Amerika Serikat (AS).

Presiden Amerika Serikat mengumumkan bahwa akan memobilisasi dana hingga 20 miliar dari hasil kerja sama Amerika Serikat, Jepang, institusi keuangan dunia dan pihak swasta untuk mendukung proyek transisi energi Indonesia. Selain itu, seluruh pimpinan negara G20 menyepakati dokumen Deklarasi Bali yang mencatat 52 poin kesepakatan antara pemimpin G20 untuk mendorong tercapainya tujuan komunitas global melalui peningkatan upaya dan keterlibatan di berbagai sektor (EBTKE, 2022). Para Pemimpin G20 menyepakati untuk mempercepat dan memastikan transisi energi yang berkelanjutan, adil, terjangkau, dan inklusif.

Juniar Feni Rose Angelica
Juniar Feni Rose Angelica
Student from Parahyangan Catholic University
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.