Sabtu, Mei 8, 2021

Sisi Kelam Aladdin dan Agrabah

Ancaman Profesi Hukum di Era Digital

Perkembangan perdagangan internasional mulai bergeser dari kiblat perdagangan barang ke perdagangan jasa. Perubahan ini ditandai dengan bermunculannya start up di banyak negara. Cina dan...

Tragedi Rohingya dan penerimaan pada pengungsi lintas batas

Tragedi kekerasan yang menimpa suku minoritas Rohingya menyentak kemanusiaan kita. Banyak pihak mengecam tindakan brutal yang dilakukan junta militer Myanmar maupun diskriminasi yang dialami...

Toleransi Pemanis Acara

Seperti sedang menjadi tren, dalam acara-acara formal yang diikuti kalangan lintas agama, para pejabat publik dan tokoh-tokoh, gemar sekali memulai pidato dengan mengucap salam...

Gerak Bersama Melawan Pandemi Corona

Ada optimisme, ada pula pesimisme menyelimuti berbagai wacana mengenai perkembangan penyebaran virus corona. Bagaimana tidak, hingga Maret 2020, virus corona telah menyebar ke 108...
Raden Muhammad Wisnu Permana
Aku adalah aku. Tidak kurang dan tidak lebih

Aladdin adalah seorang karakter utama dari kisah fiksi yang merupakan adaptasi karya sastra Arab Abad Pertengahan Seribu Satu Malam denga judul yang sama. Aladdin pertama kali diadaptasi dalam animasi layar lebar oleh Disney tahun  1992. Dan tahun 2019, berselang 17 tahun dari penayangannya, Aladdin diadaptasi dalam bentuk live-action layar lebar.

Singkat cerita, baik animasinya di tahun 1992 maupun live-action tahun 2019 sama-sama menceritakan kisah happy ending Aladdin dan Putri Jasmine. Keduanya sama-sama memiliki formula sempurna musikalisasi “A Whole New World” dan menjual fantasi bagi anak-anak di seluruh dunia.

Namun, barangkali, hanya saya yang memikirkan hal yang berbeda saat menonton film ini. Aladdin yang merupakan adaptasi dari Sastra Legendaris Arab 1001 Malam ini tentu saja banyak bumbu fiksinya. Seperti nama kota, nama tokoh-tokohnya, hingga seting tahun yang tidak begitu jelas. Namun saya perkirakan ini terjadi pada rentang waktu beberapa adab sejak Nabi Muhammad wafat. Ada sisi kelam dari Aladdin dan Agrabah, yang tidak banyak dilihat orang.

Kesenjangan Sosial di Agrabah

Agrabah barangkali kota fiksi yang teradaptasi dari Kota Bagdad/kota besar lainnya di Timur Tengah beberapa abad setelah Nabi Muhammad wafat. Saat itu, kota-kota di Timur Tengah seperti Bagdad adalah salah satu jalur perdagangan dunia. Ratusan hingga ribuan kapal berniaga disini setiap harinya. Berbagai orang dari seluruh dunia berdagang, menuntut ilmu, bertukar budaya disini. Pusat perkonomian, pusat pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi serta kebudayaan terdapat disini.

Aladdin yang sehari-harinya hidup dari mencuri demi hanya bisa makan

Agrabah, dengan segala kemajuannya memiliki satu masalah layaknya kota besar lainnya di seluruh dunia. Yakni kesenjangan sosial. Ketika Sultan Agrabah hidup mewah-mewahan di Istana, banyak rakyatnya yang terpaksa mencuri hanya untuk makan! Mereka mencuri roti dan buah-buahan dari pedagang di pasar atau pelabuhan.

Banyak juga oknum aparat keamanan kerajaan yang bertindak semena-mena kepada rakyat. Mereka begitu arogan karena merasa kasta mereka di atas para rakyat miskin. Tidak jarang mereka bertindak kasar di luar kewenangan mereka sebagai aparat keamanan kerajaan.

Masalah di Istana

Di dalam istana, masalah juga tidak dapat dihindari. Putri Jasmine dilarang keluar istana oleh Sultan selepas mendiang ibunya tewas dibunuh oleh orang yang tidak puas dengan keputusan Sultan. Selain itu, Jafar, Perdana Menteri Agrabah, orang nomor dua di Agrabah berusaha menggulingkan pemerintahan Sultan.

Walau pewaris tahta Sultan satu-satunya, Putri Jasmine tidak berhak melanjutkan pemerintahan monarki ayahnya. Dia harus menerima pinangan Pangeran kerajaan lainnya apabila ingin menjadi Ratu. Putri Jasmine adalah korban sistem patriarki yang mengatur bagaimana perempuan harus bersikap dan bertindak. Perempuan adalah manusia kelas dua, apapun profesinya. Baik rakyat jelata maupun anak seorang Sultan.

Barangkali, di tahun 2019 ini, jarang ada yang melihatnya. Mereka lebih melihat bagaimana kisah cinta fantasi antara Aladdin dan Putri Jasmine tanpa memikirkan hal tersebut.

Mereka terlena dengan fantasi “A Whole New World” yang banyak diidam-idamkan gadis kecil pada tahun 90-an agar diwujudkan dalam pernikahan mereka kelak, tanpa memikirkan bagaimana kesenjangan sosial dan sistem patriarki bobrok yang ada di Agrabah ini. Tentu saja, ketika menonton animasinya di tahun 90-an, saya tidak memikirkannya.

Agrabah boleh bangga dengan tingginya pertumbuhan ekonomi, megahnya istana Sultan serta sejumlah indikator perekonomiannya yang sangat cemerlang.  Tapi, kesenjangan sosial yang semakin lebar menunjukkan pengelelolaan kerajaan ini kian jauh dari apa yang (barangkali) dicita-citakan pendirinya.

Agrabah boleh bangga, Sultan adalah seorang yang adil bijaksana. Pemerintahan dan hukum berjalan sebagaimana mestinya. Namun, Sultan sendiri tidak adil pada putri semata wayangnya sendiri. Dia tidak boleh keluar dari istana dan dituntut untuk bersikap dan berperilaku berdasarkan tradisi patriarki yang sudah bobrok selama berabad-abad. Tentu saja ini hanyalah film. Silakan dinikmati. Adaptasi live-action Aladdin ini sangat baik dilakukan oleh para punggawa film tersebut.

Raden Muhammad Wisnu Permana
Aku adalah aku. Tidak kurang dan tidak lebih
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Idealitas Tata Kelola Perpustakaan

Perpustakaan sebagai pusat informasi menjadi salah satu media yang dituju oleh masyarakat untuk mendapatkan informasi melalui literatur melalui bahan pustaka tercetak. Meskipun teknologi semakin...

Negara dan Usaha Pemajuan Kebudayaan

Indonesia dikenal dunia sebagai negara yang multikultural dengan pusparagam kebudayaannya yang sangat melipah ruah, dari ujung Sabang di Aceh sampai tanah Merauke di Papua...

Pembelajaran Jarak Jauh, Efektifkah?

Sejak ditetapkannya pandemi Covid-19 di Indonesia, banyak sektor yang terdampak, mulai dari ekonomi, pariwisata, sosial dan budaya termasuk sektor pendidikan. Pembelajaran tatap muka (offline) yang selama...

Memperkuat Proteksi Konstitusi

Akhir-akhir ini, diskursus mengenai perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode semakin menguat. Untuk masa sekarang, Pasal 7 UUD NRI 1945 menegaskan pembatasan masa...

Orientalisme, Prancis, dan Kita

Kita tentu masih ingat beberapa bulan lalu hebohnya sebuah kasus di Prancis mengenai gambar Nabi Muhammad yang dianggap melecehkan Islam, yang menuai reaksi keras. Dalam...

ARTIKEL TERPOPULER

Khotbah Idulfitri: Inikah Ramadan Terakhir Kita?

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا Ramadan berlalu dan kita masih duduk termangu. Apa saja yang telah kita lakukan...

Menjawab Ahmad Daryoko, Parasit 212

Sudah sejak lama orang ini kerap menyebarkan kabar bohong. Motif di balik itu sebenarnya karena sakit hati. Orang ini pernah jadi Ketua Serikat Pekerja...

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

Kartini-Kartini 4.0

“Habis bikin kopi, sachet nya jangan dibuang sembarangan, pilah ke tempat sampah plastik!” begitu kata istri. Alhasil, saya harus memungut ulang sachet plastik kopi...

Agility di Pertamina

Membaca berita mengenai pengangkatan direksi Pertamina dengan tagline lebih agile, fokus, dan cepat, menggoda penulis untuk kembali mengulas kebijakan-kebijakan pemerintah dari kacamata agile. Pertama kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.