Pernah nggak sih, lagi asik scrolling X (Twitter) atau Instagram jam dua malam, tiba-tiba linimasa kamu dipenuhi tagar yang sama? Isinya seragam banget. Influencer centang biru ngomongin hal yang senada, infografis warna-warni estetik berseliweran, sampai kolom komentar isinya orang-orang yang kayaknya kompak setuju, sepakat, sependapat. Di momen itu, otak kita biasanya ngomong gini: “Wah, ini mah netizen udah satu suara. Fix, ini no hoax!”
Eits, tunggu dulu. Jangan keburu merasa bangga karena jadi bagian dari “mayoritas yang kritis”. Kalau kita mau berpikir jujur dan agak skeptis, opini yang mati-matian kamu belain di kolom komentar itu murni hasil olah pikir kamu sendiri, atau jangan-jangan cuma “titipan” dari orang yang punya modal dan kuasa?
Biar nggak gampang digiring kayak bebek, mari kita bedah fenomena buzzer politik ini pakai kacamata dua bapak filsafat: Lev Vygotsky dan Michel Foucault.
Mbah Lev Vygotsky, seorang ahli psikologi dan filsuf, punya teori simpel: manusia itu nggak pernah pintar atau goblok sendirian di dalam kamar hampa. Kita ngebentuk pemahaman dari interaksi sosial, bahasa, dan budaya di sekitar kita.
Bayangin analogi gampangnya gini: kamu datang ke pameran seni abstrak dan bingung ngeliat satu lukisan yang bentuknya cuma coretan hitam pudar. Tiba-tiba pengunjung di sebelah kamu berbisik, “Wah, dalam banget ya, ini gambaran keputusasaan.” Terus kurator pamerannya ngangguk-ngangguk khusyuk. Tanpa sadar, kamu bakal ikut-ikutan manggut-manggut sambil mikir, “Oh iya betul, ini tentang keputusasaan.” Kamu merasa menemukan arti itu sendiri, padahal pikiran itu cuma hasil ‘gorengan’ orang-orang di sekitar kamu.
Hasilnya? Kamu merasa lagi berargumen secara independen, padahal kamu cuma lagi ngadopsi cara mikir komunal yang udah diatur jalurnya.
Siapa yang Membayar “Skenario” Ini? (Versi Foucault)
Kalau Mbah Vygotsky ngejelasin gimana cara kita nyerap opini dari lingkungan, Mbah Michel Foucault justru nanya hal yang lebih bikin ketar-ketir: Siapa yang ngerancang isi narasi itu, dan buat kepentingan siapa?
Kata Foucault, bahasa dan kata-kata yang kita pakai sehari-hari itu nggak pernah netral. Itu adalah diskursus—alat sistematis untuk membentuk realitas. Foucault punya jargon legendaris: Power/Knowledge. Barang siapa yang punya kuasa atau modal, dialah yang berhak nentuin apa yang boleh dinamakan “kebenaran” (regime of truth).
Dalam arena buzzer politik, Foucault bekerja sangat rapi:
Bikin Batas Permainan: Elit politik bayar influencer dan pasukan buzzer buat mematok mana hal yang boleh disebut “nasionalis” dan mana yang langsung dicap “pengkhianat”.
Ngedisiplinin Netizen yang “Bandel”: Kalau kamu berani punya pandangan beda dari narasi utama yang lagi viral, siap-siap aja kena sanksi sosial. Mulai dari di-doxxing, diserbu akun-akun bodong berfoto profil anime, sampai di-bully berjemaah. Itu cara sistem ngedisiplinin perilaku kamu biar balik ke barisan.
Kombinasi Vygotsky dan Foucault ngasih kita tamparan yang lumayan keras: kita sering kali cuma mengalami ilusi bebas berpikir.
Saat kamu jempolnya lincah nge-retweet atau ngetik komentar pedas sambil merasa paling berani membela kebenaran, dari kacamata Foucault, kamu sebenarnya cuma lagi jadi prajurit gratisan. Kamu ngebantu nyebarin pengaruh para elit tanpa dibayar sepeser pun. Kamu menyerap konstruksi sosial itu (Vygotsky) tanpa sadar kalau bahan bakunya udah diracik dari awal di ruang rapat para pemegang modal.
Stop Jadi Netizen yang Mudah Diatur
Kebenaran di media sosial zaman sekarang sering kali bukan fakta yang murni, melainkan hasil racikan antara manipulasi psikologi massa dan kepentingan politik penguasa. Biar kita nggak terus-terusan jadi korban “gorengan” narasi, literasi digital kita nggak boleh cuma sebatas bisa membedakan berita hoaks dan asli. Kita butuh sedikit rasa curiga yang sehat.
Mulai sekarang, tiap kali nemu narasi yang mendadak viral atau disetujui sama semua orang di linimasa, jangan cuma nanya:
“Ini masuk akal nggak, ya?”
Tapi tanyakanlah dengan lebih tajam dan agak curiga:
“Gimana narasi ini dikonstruksi di medsos, dan siapa pihak yang paling untung kalau aku percaya terus ikut-ikutan nyebarin narasi ini?”
