Sabtu, Mei 8, 2021

Setya Novanto dan Citra Buruk Pemimpin Muslim

Fantasi Komunal Tim Prabowo?

Beberapa pekan terakhir ini, negara kita banyak dirundung masalah. Dari hoax politik sampai rekapitulasi surat suara yang tak kunjung selesai. Yang paling fantastatis adalah...

Menjaga Kearifan Lokal yang Mulai Punah

Indonesia saat ini berada pada masa modernisasi dan globalisasi. Globalisasi terjadi melalui sistem jaringan informasi dan komunikasi, tidak ada batas teritorial, negara, bangsa, suku...

Menegakkan Keadilan Pemilu

Pemungutan suara yang telah dilaksanakan beberapa hari lalu ternyata tidak menyudahi terbaginya dua kubu masyarakat Indonesia yang disebabkan oleh perbedaan pilihan dalam Pemilihan Umum...

Perang Dominasi antar Angkot

Kasus pahit antar para sopir angkot baik yang umum maupun yang online sudah memadati alam pikiran kita akhir-akhir ini. Di Makassar sendiri, bahkan para...
Zaenal Arsyad Alimin
Jai Guru Deva Kader Muda NU

Oleh: Zaenal Arsyad Alimin

Kasus mega korupsi E-KTP yang menjerat Ketua DPR RI Setya Novanto (Red;SN) sebagai salah satu tersangka menjadi satu tamparan keras dalam perjalanan politik dan demokrasi di Negara Indonesia. Selain merugikan negara dalam jumlah yang fantastis, ini juga merugikan masyarakat secara luas karena susahnya untuk mendapatkan tanda identitas. Termasuk praktek pungli dalam proses pembuatan KTP merupakan salah satu dampak dari kasus ini.

Kita boleh dan dianjurkan untuk terpengangah, bagaimana mungkin seorang yang menjadi pimpinan tertinggi dalam institusi yang katanya mewakili kedaulatan rakyat tersebut melakukan tindakan yang begitu amoral, baik dalam kacamata agama maupun negara. Alih-alih menjadi wakil dari aspirasi dan kedaulatan rakyat, dia menjelma menjadi monster buas yang menghancurkan kedaulatan rakyat sendiri. Yang menjadi  sangat ironi adalah saat negara dengan pemerintahnya sedang getol-getolnya memberantas praktek “brengsek” itu, dia sebagai salah satu pimpinan negara malah menjadi pendukung dalam praktek-praktek biadab tersebut.

Maka atas nama kebenaran dan kedaulatan rakyat, apapun alasan dan pembelaannya, tindakan korupsi yang amoral tidak bisa dibenarkan dalam kacamata apapun.

Lebih menyakitkan lagi bagi kita sebagai masyarakat adalah drama yang disuguhkan oleh para pendukung tindakan koruptif tersebut dan para penegak hukum dalam skenario kasus SN ini. Bagaimana mungkin praperadilan bisa memenangkan dan meloloskan SN dengan alasan yang tidak masuk diakal sehat kita serta meminta KPK untuk menghentikan pemeriksaan terhadapnya. Alasan sakit yang “dibuat-buat” telah menjadi benteng SN dari jeratan hukum. Lebih teramat sangat menggelikan ketika praperadilan memutuskan SN sebagai pemenang dan pemeriksaan harus dihentikan, dan seketika itu sakitnya sembuh dan penyakitnya hilang entah dibawa kemana dan oleh siapa. Maka sebuah hal yang pantas ketika tanggal 29 September diabadikan sebagai Hari Kesaktian Setya Novanto oleh berbagai lini masa. Karena hanya dialah manusia sakti yang tidak bisa tersentuh hukum di era reformasi dan demokrasi negara kita.

Dalam benak yang masih heran saya berfikir bahwa penyakit apa yang berani-beraninya menyentuh tubuh SN yang menjadi raja dari segala penyakit ?

Lebih lanjut, dengan status agama SN sebagai seorang muslim, kasus yang menimpanya menjadi satu serangan telak dalam citra dan daftar hitam dalam kepemimpinan Islam masa kini.

Kasus sang Papa ini merupakan sekuel dari daftar hitam oknum pemimpin muslim yang berprilaku korup. Sebelumnya kita disuguhkan babak korupsi mega proyek Hambalang, impor daging sapi, dana haji, dan uang hantu di rekening sang tokoh reformasi dan sebagainya yang semua aktor utamanya adalah pemimpin yang berlatar belakang agama Islam. Hal ini merupakan ironi yang sangat tragis di sebuah negara yang mayoritas berpenduduk muslim terbesar se-dunia.

Bukankah Islam bahkan agama apapun sangat tegas melarang dan mengharamkan tindakan koruptif ? Lembaga keagamaan sekaliber MUI telah mengeluarkan fatwanya, bahkan tanpa harus MUI mengeluarkan fatwa, kita meyakini bahwa tindakan korupsi merupakan pelanggaran terhadap nilai-nilai keagamaan. Akhirnya wajar saat kepercayaan masyarakat terhadap pemimpin muslim pun berkurang dan citra pemimpin Islam selalu buruk oleh oknum-oknum bedebah tersebut. Ini menjadi satu bukti bahwa dalam persoalan kepemimpinan bukan status agama dia apa yang akan membawa maslahat bagi umat dan masyarakat. Tapi bagaimana pemimpin tersebut bisa berbuat seadil-adilnya dalam rangka membangun dan mensejahterakan masyarakat, bukan menumpuk harta untuk dibagi kepada sanak saudara sebagaimana yang dilakukan oleh sang Papa.

Sebagaimana Imam Ibnu Taymiah pernah menerangkan “lebih baik pemimpin non muslim tapi adil, daripada pemimpin muslim yang dzhalim”. Walaupun adagium ini tidak proporsional, setidaknya ini menjadi satu landasan dalam kepemimpinan di negara demokrasi seperti Indonesia, bahwa tidak ada satu jaminan mutlak bahwa pemimpin selalu benar dan tidak bisa berbuat salah hanya dilihat dari agamanya saja (dalam hal ini Islam). Tentu kita sebagai Muslim sangat yakin dan berharap akan munculnya sosok pemimpin muslim yang adil dan amanah dalam menjaga amanah rakyat. Kasus SN ini harusnya menjadikan evaluasi yang mendasar khususnya bagi partai-partai Islam agar dalam mencetak pemimpin yang akan dipersembahkan kepada masyarakat adalah pemimpin yang memiliki integritas, adil, amanah dan tidak korup.

Kembali kepada SN, sang Papa termasuk dalam golongan manusia yang beruntung, karena dengan kesalahan dan dosanya yang teramat besar dia masih bisa bebas menghirup udara segar (walaupun beberapa hari sebelumnya harus menghirup gas LPG di Rumah Sakit). Tidak ada aksi angka-angka yang masif dan mengawal penegakan hukum dari yang katanya para pembela agama, pembela Islam dan pengawal fatwa MUI. Padahal ini jelas telah melanggar fatwa MUI sendiri. Sangat kontras dengan kasus pelanggaran fatwa MUI tahun lalu yang iklimnya masih terasa sampai detik ini. Tapi saya hanya bisa menghela nafas panjang sambil husnudzon mungkin mereka lelah.

Akhirnya, semoga kasus Papa segera diselesaikan dengan tuntas sebagaimana kasus-kasus korupsi lainnya dan kasus pelanggaran fatwa MUI yang lain demi terciptanya keadilan yang merata. Dan teruntuk partai politik, lahirkanlah pemimpin-pemimpin yang tidak berprilaku korup, adil dan berintegritas demi meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap peran dan fungsi partai politik dalam tatanan negara Indonesia.

Terakhir, untuk Papa segeralah bertaubat dan memohon ampun dari segala dosa sebelum dosa yang memohon ampun kepada Papa. Segeralah mengingat lahat sebelum lahat yang mengingat Papa

Tabik !!!

Penulis adalah Sekretaris Umum PC. PMII Kota Serang

Zaenal Arsyad Alimin
Jai Guru Deva Kader Muda NU
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Idealitas Tata Kelola Perpustakaan

Perpustakaan sebagai pusat informasi menjadi salah satu media yang dituju oleh masyarakat untuk mendapatkan informasi melalui literatur melalui bahan pustaka tercetak. Meskipun teknologi semakin...

Negara dan Usaha Pemajuan Kebudayaan

Indonesia dikenal dunia sebagai negara yang multikultural dengan pusparagam kebudayaannya yang sangat melipah ruah, dari ujung Sabang di Aceh sampai tanah Merauke di Papua...

Pembelajaran Jarak Jauh, Efektifkah?

Sejak ditetapkannya pandemi Covid-19 di Indonesia, banyak sektor yang terdampak, mulai dari ekonomi, pariwisata, sosial dan budaya termasuk sektor pendidikan. Pembelajaran tatap muka (offline) yang selama...

Memperkuat Proteksi Konstitusi

Akhir-akhir ini, diskursus mengenai perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode semakin menguat. Untuk masa sekarang, Pasal 7 UUD NRI 1945 menegaskan pembatasan masa...

Orientalisme, Prancis, dan Kita

Kita tentu masih ingat beberapa bulan lalu hebohnya sebuah kasus di Prancis mengenai gambar Nabi Muhammad yang dianggap melecehkan Islam, yang menuai reaksi keras. Dalam...

ARTIKEL TERPOPULER

Khotbah Idulfitri: Inikah Ramadan Terakhir Kita?

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا Ramadan berlalu dan kita masih duduk termangu. Apa saja yang telah kita lakukan...

Menjawab Ahmad Daryoko, Parasit 212

Sudah sejak lama orang ini kerap menyebarkan kabar bohong. Motif di balik itu sebenarnya karena sakit hati. Orang ini pernah jadi Ketua Serikat Pekerja...

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

Kartini-Kartini 4.0

“Habis bikin kopi, sachet nya jangan dibuang sembarangan, pilah ke tempat sampah plastik!” begitu kata istri. Alhasil, saya harus memungut ulang sachet plastik kopi...

Agility di Pertamina

Membaca berita mengenai pengangkatan direksi Pertamina dengan tagline lebih agile, fokus, dan cepat, menggoda penulis untuk kembali mengulas kebijakan-kebijakan pemerintah dari kacamata agile. Pertama kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.