Bergadang sering dianggap kebiasaan yang wajar. Memang, banyak sekali faktor yang mengharuskan kita untuk bergadang. Mulai dari mengerjakan tugas kuliah, menyelesaikan deadline kerjaan, atau bahkan maraton drama favorit mulai dari episode pertama sampai terakhir. Tanpa disadari, kebiasaan ini sering dilakukan oleh banyak orang. Selain tidak baik untuk kesehatan tubuh, bergadang juga menggerogoti kesehatan mental. Sebagian orang mungkin mengalami sulit berkonsentrasi, memiliki rasa cemas yang tinggi atau anxiety? Nah, bisa jadi itu akibat sering bergadang.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Aulia dkk. (2025) dalam Jurnal Sains Farmasi dan Kesehatan tentang pengaruh bergadang terhadap tubuh dan mental, setidaknya ada tiga dampak bergadang terhadap kesehatan mental.
1. Peningkatan Stres
Ketika waktu tidur tidak terpenuhi, tubuh dan otak tidak sempat beristirahat dengan baik, sehingga seseorang menjadi lebih rentan mengalami stres. Hal ini juga berpengaruh pada sistem tubuh yang mengatur rasa stres, dan membuat seseorang lebih mudah tertekan, tegang dan kewalahan meskipun situasinya tidak seberat itu (Aulia dkk., 2025).
2. Kecemasan
Selain stres, dampak dari kurang tidur akibat bergadang adalah kecemasan atau anxiety. Penelitian oleh Aulia dkk. (2025) menunjukkan bahwa kurangnya tidur dan tingginya tingkat kecemasan itu saling berhubungan. Akibatnya, seseorang yang tidurnya kurang menjadi lebih mudah gelisah, khawatir berlebihan, dan sulit merasa tenang, meskipun tidak sedang menghadapi masalah besar.
3. Penurunan Kinerja Kognitif
Bergadang juga berdampak pada kemampuan berpikir (Aulia dkk., 2025), seperti menurunnya konsentrasi, kemampuan memahami informasi, hingga kemampuan dalam mengambil keputusan. Hal ini disebabkan oleh otak yang sudah lelah, sehingga aktivitas yang membutuhkan fokus terasa lebih berat.
Bergadang bukan sekadar kebiasaan tidur larut malam, melainkan pola hidup yang berisiko bagi kesehatan mental. Stres, kecemasan, dan penurunan kemampuan berpikir dapat muncul secara perlahan tanpa disadari. Oleh karena itu, memperbaiki pola tidur bukan hanya soal menjaga kebugaran fisik, tetapi juga bentuk kepedulian terhadap kesehatan mental diri sendiri dalam jangka panjang.
