Jumat, April 23, 2021

Sepak Bola, Cara Gus Dur Menyederhanakan Politik

Persoalan Masa Depan, Lulusan SMA/K, dan Upaya-Upaya Solutif

 Setelah anak-anak mampu dalam membaca, menulis, dan menghitung, maka jenjang pendidikan yang ditempuh berikutnya akan memiliki standar kompetensi yang lebih tinggi; mereka meneruskan ke...

Lika-Liku Ganja Medis di Indonesia

Setiap manusia berhak sehat dan setiap yang tidak sehat berhak dapat pengobatan. Alam semesta telah menyediakan segala jenis obat untuk banyaknya penyakit di dunia...

Dari Pinggir, Catatan untuk PB. PMII

Lima hari yang lalu, minggu 1 Oktober malam, PB. PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) telah selesai dikukuhkan. Agus Mulyono Herlambang, Ketua Umum PB. PMII...

The End of Full Day School

BOOSTING students in the particular context would probably be destructing their mind. It has been happening today since Ministry of Education and Culture, Muhadjir...
Dodik Harnadi
Pemerhati isu-isu sosial, hukum dan agama & founder Aksara Institute Bondowoso

Tahun 1998 adalah masa pertama penulis mulai gemar menonton sepak bola. Kala itu, bersamaan dengan momentum Piala Dunia (World Cup) di Prancis. Ketika opening match mempertemukan tim yang digadang-gadang bakal menggila di negeri Napoleon, Brazil, berhadapan dengan Skotlandia, maka beberapa pundit saat itu memprediksi kemenangan akan menjadi milik tim Samba.

Saat itulah, seorang kiai tiba-tiba muncul menjadi pundit di salah satu stasiun televisi, berusaha ikut memprediksi hasil akhir pertandingan. Kiai itu adalah Ketua PBNU sekaligus Presiden ke-6 RI, KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Gus Dur saat itu memprediksi, Skotlandia memang akan takluk, namun tidak dengan mudah. 2-1 adalah skor kemenangan tipis yang akan diraih oleh Brazil.

Karuan saja, pada tanggal 10 Juni 1998, Stadion Stade de France menjadi saksi, bagaimana raksasa Samba yang diunggulkan tak jua mampu menjinakkan tim kurcaci Skotlandia. Menit 5, anak asuh Mario Zagallo saat itu memang sempat menunjukkan keperkasaannya dengan unggul cepat di menit 5 melalui gol Cesar Sampaio. Namun mereka salah memandang enteng Skotlandia setelah pada menit 38, Taffarel, kiper Brazil saat itu, dipaksa memungut bola di dalam gawang setelah Colin Hendry mencetak gol balasan melalui titik putih.

Hampir saja sang raksasa malu kalau saja Skotlandia tidak berbaik ‘hati’ menjaga reputasi mereka. Reputasi besar Brazil-pun terjaga pada laga awal ini, meski dengan bantuan pemain lawan Tom Boyd yang membuat gol bunuh diri pada babak kedua.

Akurat, bahkan presisi, begitu Gus Dur memprediksi. Bukan prediksi ‘pasaran’ mengutip konsep Idol of Market Francis Bacon, apalagi sekedar mengikuti opini gelombang ‘keriuhan sosial’ (social crowded) seperti gagasan sosiologi Emile Durkheim. Gus Dur memberikan prediksi yang genuine, hasil dari rangkaian proses analisis yang kuat dengan kekuatan orsinilitas sebagaimana yang khas dalam hampir seluruh produk pemikirannya.

Gus Dur paham bahwa sepak bola bukan sekadar kekuatan fisik. Mentalitas, kreativitas dan kecerdasan merupakan anasir yang tak bisa dilepaskan dari sepak bola. Desain strategi, rancang formulasi permainan serta ketepatan membaca formasi yang realiable dalam menundukkan lawan, adalah kemampuan yang tidak berada dalam domain kekuatan fisik. Butuh kecerdasan serta daya analisis yang tajam untuk melakukan tugas-tugas demikian

Di sinilah, Gus Dur memiliki semua yang berkaitan dengan anasir-anasir ‘halus’ ini. Dan itu dibuktikan dengan kemampuannya membaca dan menganalisis secara jeli prediksi suatu pertandingan. Satu hal yang pasti, kegemaran Gus Dur kepada sepak bola, menjadi faktor utama yang menentukan akurasi hasil prediksi yang dibuatnya.

Gus Dur sejak anak-anak memang penggila bola. Bermain bola menjadi salah satu hobi yang paling dipeliharanya. Ketika dewasa, intensitas bermainnya mungkin sudah menurun, namun tidak dalam arti yang sesungguhnya. Sebab, fikiran-fikiran cerdasnya tak pernah alfa memainkan si kulit bundar. Komentar-komentar segarnya serta berbagai prediksi akuratnya, adalah produk dari kepiawaian pikirannya ‘memainkan’ bola.

Kegemaran Gus Dur terhadap sepak bola juga termanifestasikan dari kebiasaannya meminjam istilah-istilah sepak bola untuk menganalisis berbagai topik lain yang lebih serius, misalnya politik.  Tengoklah ketika budayawan Sindhunata mengkritik gaya kepemimpinan Gus Dur dengan menggunakan analisis sepak bola. Maklum pendiri Majalah basis ini dulunya adalah wartawan spesialis sepak bola. Tulisan Sindhunata kala itu berjudul Catenaccio Politik Gus Dur.

Gus Dur kemudian menjawab kritik ini dengan bahasa yang sama, bahasa sepak bola. Gus Dur menulis ‘Catenaccio Hanyalah Alat Berat’ dua hari setelah tulisan Sindhunata dimuat. Dalam tulisan itu,  Gus Dur menggunakan terminologi khas sepak bola, seperti Total Football, hit and run, dan tentu saja Catenaccio untuk menganalisis probelamatika politik dalam negeri.

Salah satu kalimat dalam tulisannya berbunyi, “bukan hanya gaya Catenaccio, tapi juga gaya hit and run. Ada defensi dan ofensi, namun senantiasa sebagai tim yang kompak” (Kompas, 18/12/2000). Begitulah, Gus Dur yang cerdas begitu piawai memainkan bahasa sepak bola untuk mencairkan topik politik yang begitu serius. Terdapat sisi humoris Gus Dur dalam kebiasaannya memakai bahasa sepak bola untuk persoalan yang serius. Namun tidak berarti Gus Dur tidak serius.

Orang bijak mengatakan, orang cerdas adalah mereka yang mampu menyederhanakan persoalan yang rumit. Mungkin dalam prinsip inilah kita bisa memaknai cara Gus Dur menderek terminologi sepak bola ke dalam aneka permasalahan pelik politik yang umumnya seringkali disikapi secara serius dan mengernyitkan alis.

Dodik Harnadi
Pemerhati isu-isu sosial, hukum dan agama & founder Aksara Institute Bondowoso
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Terorisme Lahir dari Watak yang Retak

Salah satu musuh terbesar kemanusiaan adalah terorisme. Ia lahir dari watak retak manusia yang dikendalikan hasrat untuk membunuh. Dalam aksinya yang agresif, teroris tak...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mencari Teman Masa Pandemi? Why Not, Berikut Tipsnya

Sudah Satu Tahun Pandemi Covid-19 Melanda Indonesia. sekolah-sekolah, kampus, tempat yang bahkan kantor sekalipun harus berkegiatan online. Mahasiswa baru, murid baru dan orang-orang yang baru memulai...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

ARTIKEL TERPOPULER

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Lobi Lebanon terhadap Rusia Upaya Keluar dari Krisis Ekonomi

Pada 15-16 April 2021, Perdana Menteri (PM) Lebanon Saad Hariri melakukan kunjungan ke Moskow dalam rangka meminta dukungan dan bantuan ekonomi kepada pemerintah Rusia....

Kartini, Tafsir Al-Fatihah, dan Al-Qur’an

Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari pemikiran Kartini yang hari lahirnya dirayakan bangsa ini. Ia dijadikan sebagai pahlawan penggerak emansipasi perempuan lewat kekuatan...

Kado Ulang Tahun ke-46, Taman Mini Mau Dibawa Kemana?

20 April 2021 merupakan hari ulang tahun ke-46 Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Momentum ulang tahun yang biasanya dirayakan secara meriah dan dikemas...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.