Rabu, April 21, 2021

Sepak Bola: Antara Politik Identitas dan Nasionalisme

Mungkinkah Sistem Zonasi “Universitas” Dibuat

Dalam mempraktikkan format baru  Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tentu menuai banyak kritikan. Walupun sistem zonasi sudah berlaku tahun lalu, namun dengan adanya pengesahan...

Oligarki, Yang Disayang Yang Ditentang

Para golput ini emang nggak mikir kalau mereka semua harusnya menjalankan kewajiban dengan menjadi apa yang dimau para elite lewat undang-undang yang dibikin elite....

Sampah Plastik Wajib Lapor 24 Jam

Seperti di masyarakat kita, tamu wajib lapor 1 kali 24 jam, upaya tersebut sangat efektif untuk melacak keberadaan tamu yang akan singgah. Begitu juga...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...
zakie andiko ramadhani
Intellectualegacy.blogspot.com |

Pada hari Kamis, 9 Agustus 2019 lalu penulis sangat antusias dalam mengamati beberapa agenda yang ada di media televisi. Beberapa dari agenda tersebut adalah pertama adanya keputusan bakal capres-cawapres dari kubu Jokowi dan kubu Prabowo.

Agenda selanjutnya adalah semi-final sepak bola U 16 antara Indonesia dan Malaysia dimana agenda ini sangat seru untuk ditonton karena musuh bebuyutan saling bertanding. Antara Bagas dan Bagus melawan Ipin dan Upin (slogan salah satau suporter yang ada dan sempat disorot oleh kamera). Agenda ketiga adalah adanya musibah bencana alam gempa bumi yang terjadi di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Indonesia.

Politik Indonesia terasa sangat hingar bingar dengan segala permasalahan kehidupan berbangsa dan bernegara. Terutama akhir  akhir ini di media sosial, koran, portal berita online dipenuhi oleh berbagai trending topik antara isu sosial dan isu politik yaitu isu gempa bumi di Lombok, Nusa Tenggara Timur dan isu politik Cawapres Jokowi beserta kisruh kubu oposisi yang ramai dibicarakan orang tentang ruwetnya pemilihan cawapres untuk mendampingi Prabowo.

Tentu saja, para simpatisan sudah sejak lama berdebat, beradu gagasan, saling menghina dan menjelek  jelekan kubu lawan yang ada. Tak jarang beberapa hari yang lalu sempat heboh juga mengenai simpatisan salah satu kubu yang bentrokan dengan kubu yang lain. Harga politik di Indonesia ternyata selain mahal juga membahayakan.

Padahal, belum tentu yang mereka bela sampai mati-matian dapat memberikan jaminan kesejahteraan dan keamanan bagi mereka. Bisa jadi calon yang mereka bela dengan mati  matian, yang mereka harapkan jadi pahlawan di kemudian hari justru menjadi musuh yang nyata bagi mereka melalui kebijakan  kebijakan tidak pro rakyat.

Sudah secara jelas bahwa dalam road show menuju pemilu 2019, di  Indonesia sendiri setidaknya terbagi menjadi tiga identitas golongan ataupun kubu yang merepresentasikan identitas mereka masing  masing.

Kubu pertama adalah kubu juara bertahan (Jokowi), kubu kedua adalah kubu penantang (Prabowo), dan kubu ketiga adalah kubu tidak keduanya (swing voters) yang jarang disorot oleh media massa. Secara kasat mata kita dapat melihat mana kubu A, mana kubu B dan mana kubu C dengan cukup melihat tulisan ataupun komentar yang mereka berikan terhadap isu yang ada.

Namun, hal ini tidak dapat kita temui secara jelas dalam permainan sepakbola, terutama bagi para supporter timnas Indonesia di Stadion Sidoarjo pada  malam hari ini. Identitas menjadi penting ketika kita ingin mengetahui tentang siapa saya, mereka atau kita, tentang siapa lawan dan siapa kawan. Namun identitas seperti ini setidaknya telah dikaburkan melalui realitas pertandingan sepakbola pada malam hari ini. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Mari kita diskusikan bersama.

Supporter Bola Indonesia

Supporter adalah pemain ketiga belas dalam pertandingan sepak bola. Semangatnya dapat melebihi semangat para pemain yang bertanding di lapangan, kesedihannya bisa lebih mengenaskan daripada kesedihan para pemain ketika mengalami kekalahan dalam bertanding.

Teriakannya dapat lebih menggema daripada teriakan sang pelatih dalam memberi arahan. Setidaknya seperti itulah gambaran supporter sepak bola dan mungkin suporter dalam olah raga yang lain. Dalam pertandingan sepakbola domestik tentunya kita dapat membedakan mana supporter tim A dan mana supporter tim B.

Misal, kita dapat mengetahui dengan jelas mana supporter Persib Bandung ketika mereka menggunakan kostum supporter khas yang berwarna biru, sedangkan kita dapat mengidentifikasi identitas supporter Persija Jakarta ketika mereka menggunakan baju berwarna orange, atau supporter Persebaya Surabaya yang berwarna hijau.

Dengan konsep yang demikian tentunya kita dapat menarik kesimpulan bahwa supporter yang memakai baju  sewarna cenderung memiliki nilai, identitas dan symbol yang merepresentasikan identitas dari tim mana yang mereka dukung.

Lalu bagaimana ketika seluruh supporter dalam satu stadion memakai baju, dan atribut yang sama? Tentu kita dapat menjawab mereka memiliki nilai dan semangat yang sama terhadap tim yang mereka dukung. Hal tersebut merepresentasikan tidak ada perbedaan yang nyata dalam diri supporter itu dan realitas ini terjadi setiap kali timnas Indonesia melawan timnas dari negara lain.

Nasionalisme atau nilai cinta tanah air selalu direpresentasikan oleh suporter sepakbola entah itu Indonesia atau negara lain. Sadarkah bahwa hari ini di Stadion Sidoarjo, Jawa Timur terkumpul semua golongan atau kubu yang merepresentasikan pilihan politik mereka masing  masing, dari kubu pro Jokowi, Pro Prabowo, Pro tak keduanya kumpul menjadi satu tanpa adanya kekerasan dan diskriminasi, justru mereka terbuai dalam gegap gempita semangat persatuan dalam mendukung timnas Indonesia.

Identitas yang tadinya dianggap sebagai musuh, rival, atau teman dalam preferensi politik, sekarang tidak tampak secara jelas lagi, yang tampak hanyalah satu identitas yaitu supporter indonesia atau masyarakat Indonesia satu bangsa, satu tanah air Indonesia. Tidak dapat dibayangkan apabila identitas politik yang melekat dalam setiap inidividu di stadion ditampakkan, pasti jelas yang ada hanyalah perpecahan.

Dan sepakbola menyatukan itu semua menjadi satu kesatuan identitas, membawa perdamaian. Lebih menarik lagi hal ini terjadi dalam satu kesatuan waktu yang sama ketika beberapa agenda terjadi, maksudnya dalam satu waktu yang sama terjadi yaitu pertama, adanya peseteruan preferensi politik yang menyebabkan perbedaan, kedua terjadi bencana alam yang membawa duka di Lombok, NTB, dan ketiga terjadi gegap gempita semangat persatuan dalam pertandingan sepakbola antara Indonesia vs Malaysia U16.

Realitas hari ini terjadi seperti yang telah penulis jelaskan diatas, telah lama terjadi di dalam kehidupan bernegara kita, salah satunya hal yang demikian pernah dijelaskan oleh Yasraf Amir Piliang dalam bukunya yang berjudul Dunia yang Dilipat tahun 1998, dimana ia pernah mengatakan bahwa: “Tidak ada kegiatan di dalam masyarakat kotemporer yang dapat membangkitkan gelora ekstasi massa selain dari olahraga. Kegairahan olahraga dalam bentuknya yang sekarang  disebabkan sifat tontonannya yang melibatkan massa baik secara langsung maupun lewat media (televisi) telah menjadikannya seakan  akan sebuah gravitasi baru yang semua mata, jiwa, bahkan totaitas hidup berpusat dan patuh terhadap hukum  hukumnya“Lantas olahraga seperti sepakbola tak khayal lagi menjadi ekstasi yang melamunkan masyarakat dari perbedaan menjadi persamaan, dari permusuhan menjadi persaudaraan, dari perpecahaan menjadi persatuan.

Lebih lanjut lagi, sebagai kesimpulannya Christopher Lasch, seorang penulis Amerika pernah menjelaskan bahwa olahraga merupakan candu masyarakat konsumer yang mana dapat mengalihkan massa dari masalah  masalah nyata mereka menuju dunia mimpi glamour dan kegairahan ekstasi. Sepakbola misalnya dapat melupakan orang sejenak dari kemiskinan, kesusahan,kelaparan, bencana alam bahkan perpecahan dan perang!

zakie andiko ramadhani
Intellectualegacy.blogspot.com |
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apa yang Menanti Setelah Animal Symbolicum?

“Alam semesta aslinya tunggal, diam, dan seragam. Hanya tampak luarnya saja yang mengesankan perbedaan atau perubahan”, Zeno dari Elea yang juga diamini Parmenides (Dowden,...

Kado Ulang Tahun ke-46, Taman Mini Mau Dibawa Kemana?

20 April 2021 merupakan hari ulang tahun ke-46 Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Momentum ulang tahun yang biasanya dirayakan secara meriah dan dikemas...

Enigma dalam Bukit Algoritma

Narasi 4.0 telah membawa kita semua ke sebuah era di mana digitalisasi semakin menjamah di segala aspek kehidupan. Hal ini membuat terdorongnya beragam inovasi-inovasi...

Memikirkan Ulang Sistem Parlementer

Setelah lima pemilihan umum berjalan demokratis, saatnya kita bicara tentang bagaimana cara memperkuat demokrasi dan melahirkan stabilitas kebijakan dan politik jangka panjang. Inilah saat paling...

Kesadaran Komunikasi Antarbudaya di Era Digital

Membangun diskursus mengenai komunikasi antarbudaya (intercultural communication) selalu menjadi hal yang menarik untuk dikaji dan bukan pula fenomena baru. Terlebih,  di tengah pesatnya perkembangan...

ARTIKEL TERPOPULER

Malam yang Panjang di LBH dan Dendam Imajiner yang Lebih Panjang

Minggu, 17 September 2017. Hari itu, saya kira saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan bersama orang terkasih. Seperti hari-hari Minggu pada wajarnya, romantis...

Memikirkan Ulang Sistem Parlementer

Setelah lima pemilihan umum berjalan demokratis, saatnya kita bicara tentang bagaimana cara memperkuat demokrasi dan melahirkan stabilitas kebijakan dan politik jangka panjang. Inilah saat paling...

Menyambut Bulan Ramadhan dengan Penerapan Nilai-Nilai Pancasila

Bulan suci ramadhan tinggal menghitung hari. Pemerintah akan segera menetapkan awal puasa 1 Ramadhan 1440 H. Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia...

Kartini Masa Kini

Setiap tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini oleh bangsa Indonesia. Tanggal tersebut merupakan tanggal lahir R.A. Kartini pahlawan yang berjuang untuk emansipasi wanita....

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.