Tidak ada yang lebih menggelikan dari pada melihat manusia yang berdiri diatas mimbar ibadah atau podium ruang kuliah sembari mengkhotbahkan tentang keluhuran budi, sementara jemari dan mulutnya bersiap untuk mencabik orang-orang yang mempercayainya. Kita terkejut? Pastinya. Tapi, secara tidak langsung kita sendiri yang menciptakan monster-monster itu. Kita menciptakan sistem sosial yang feodal. Dimana gelar akademis dan jubah keagamaan dianggap sesuatu yang suci secara mutlak. Kita menolak bahwa dibalik dogma dan teori-teori rumit itu mereka tetap manusia dengan ego yang rapuh dan hastrat yang korup.
Ketika seorang dosen atau pemuka agama berperan sebagai pelaku pelecehan seksual, mereka tidak sedang khilaf. Tapi, mereka mengeksploitasi kepatuhan dan kepercayaan yang kita serahkan secara sukarela pada mereka. Secara sadar mereka melakukannya dan ketika ketahuan mereka akan bersembunyi dibalik kata “khilaf”.
Yang paling tragis adalah ketika para korban menjerit, tidak sedikit dari masyarakat yang memilih untuk membela monster-monster ini daripada menyembuhkan jiwa yang mereka hancurkan. Karena masih banyak dimasyarakat kita yang beranggapan dan takut akibat adanya dogma yang beredar bahwa guru atau para penjaga moral itu wajib dihormati bahkan dipercayai. Apakah masyarakat bisa disalahkan? Tidak. Yang salah adalah mereka yang melakukan gaslighting spiritual dan gaslighting akademik.
Bagaimana mungkin mereka yang mempelajari teori kemanusiaan bahkan melafalkan ayat-ayat tuhan setiap harinya, mampu melakukan tindakan sekejam dan se-primitif ini? Ini bukan kegilaan sesaat tapi kemunafikan yang telah terstruktur dalam kepala mereka. Para predator ini merupakan arsitek kejahatan yang ulung. Mereka tahu dan paham bahwa perbuatan mereka salah. Tapi, mereka tidak berhenti dan memilih senam otak, dengan mencari pembenaran palsu agar kebejatan mereka terasa halal. Mereka tidak hanya menyerang fisik, mereka bahkan melakukan pembunuhan karakter dan psikologis. Mereka melakukan taktik gaslighting di ranah spiritual dan akademik.
Dalam ranah religius tindakan mereka telah mencapai bentuk yang paling mengerikan. Ketika seorang pemuka agama melakukan pelecehan, ia menggunakan jubah kesuciannya untuk menjinakkan rasa bersalahnya sendiri. Dia tahu bahwa tidakannya adalah perbuatan dosa.
Tapi, dia menciptakan rasionalisasi palsu dengan menyeret nama tuhan ke dalam ruang kejahatannya. Disinilah pelaku melakukan manipulasi spiritual. Monster ini melumpuhkan kesadaran korban dengan kalimat yang mematikan nalar korban. Misalnya “ini adalah ujian keikhlasan”,”kamu terpilih sebagai penerima berkah”,”ini adalah transfer berkah yang tidak dipahami orang awam”, dan sebagainya.
Melalui doktrin-doktrin tersebutlah korban didikte bahwasanya jika tidak mempercayai perkataan sang guru itu merupakan bentuk pembangkangan terhadap agama. Korban tidak hanya mengalami trauma fisik. Mereka juga mengalami kebingungan mental yang akut. Korban dibuat merasa bersalah atas kejahatan yang justru dipaksakan kepada mereka.
Sedangkan di mimbar akademis, para monster ini bersembunyi dengan istilah moral dan kecerdasan akademik mereka. Banyak korban merasa bodoh dengan argumen mereka karena korban merasa rendah dan para korban takut tidak diluluskan dalam perkuliahan. Sebab ada rasa tidak etis jika membantah pengampu perkuliahan. Inilah yang merupakan dilema besar pada diri korban. Pelaku menempatkan dirinya sebagai penentu kelulusan, dengan memutarbalikkan logika ini, monster tersebut membuat korban tidak nyaman. Korban merasa tidak berdaya karena berhadapan dengan pemegang otoritas.
Ada perbedaan antara gaslighting akademik dan spiritual. Perbedaan yang terlihat adalah penggunaan argument berdasarkan teori dan ayat tuhan. Tapi mereka sama-sama melakukan gaslighting. Guru atau dosen dengan gaslighting akademiknya dan pemuka agama dengan gaslighting spiritualnya. Pada spiritual gaslighting pelaku mengunci korbannya di dalam “penjara langit”. Pelaku membuat korban percaya bahwa penjara langit itu di pegang oleh tuhan dan jika korban mencoba mendobraknya pelaku akan membuat korbannya merasa lumpuh secara spiritual.
Pada gaslighting akademik pelaku mengunci korban dalam “penjara birokrasi”.pelaku membuat korban sadar bahwa masa depan, nilai, ijazah, dan harga diri intelektual mereka ada dalam genggaman tangan pelaku. Jika korban melawan maka seluruh investasi waktu dan tenaga ketika dalam masa kuliah akan hangus. Korban dibuat lumpuh secara struktural.
Jika kita terus menutup mata dan menyembah jubah serta gelar tanpa berani mengadili manusia, maka kita secara sadar maupun tidak sadar telah menjadi kaki tangan yang menyediakan pangung besar bagi para arsitek kejahatan itu dan tempat kelahiran yang cocok untuk monster-monster berikutnya.
Hal yang perlu di ingat adalah kita tidak perlu berpegang teguh dan mempercayai manusia sepenuhnya, karena sebaik apapun sifat mereka karena seperti yang dikatakan Platus dalam lakonnya yang berjudul Asinaria “homo homini lupus” yang artinya manusia adalah serigala bagi manusia lainnya. Yang bisa diimplememntasikan bahwasannya kita tidak perlu percaya sepenuhnya pada manusia. Dan lagi kejahatan seksual tidak hanya dialami oleh para wanita. Baiknya kita dengan sangat ketat memberi batasan pada siapapun sebagai langkah keamanan untuk diri kita sendiri.
