Rabu, April 21, 2021

Selamatkan Otak, Selamatkan Anak

Evaluasi Menuju Pemilu 2019

Pemilu Kepala Daerah (Pilkada) serentak tahun 2018 baru saja dilaksanakan. Tepat pada 27 Juni 2018 lalu sebanyak  171 daerah, yang terbagi menjadi 17 Provinsi...

Purwakarta Mencuri Perhatian Publik

Purwakarta  dulu  dikenal dan di cap sebagai kota pensiun. Dikatakan demikian karena, sebagian besar warga nyaris tidak ada nafas dan urat nadi kehidupan. Gerak...

Indonesia Mendekati China: Diplomasi Vaksin atau LCS?

Mendekati China pada saat ini tampaknya menjadi salah satu agenda penting bagi diplomasi Indonesia. Menurut saya, upaya diplomasi Indonesia ini sangat wajar mengingat posisi...

Umat Muslim Menolak Dikibulin

Kaum muslim harus cerdas dan berkualitas, bagaimana caranya? Gampang kok. Caranya, umat muslim harus berani menolak dengan tegas siapapun, baik politisi parpol atau tokoh...
Nazaruddin Faiz
Pemerhati keberlangsungan kehidupan

Mana ada anak kecil yang benar-benar niat ke sekolah untuk belajar. Mana tau dan peduli mereka dengan pelajaran yang disiapkan guru-guru dalam kurikulum atau konsep lembaganya.

Bagaimanapun juga anak-anak berkembang dengan rasa penasarannya. Anak-anak berperilaku sesuai apa yang dilihatnya.

Orang-orang tua dengan ambisi dan gengsinya meminta anak-anak masuk dalam sebuah taman pendidikan anak usia dini untuk membuktikan kepada tetangga atau saingan bisnisnya bahwa anak mereka lebih hebat dari anaknya.

Anak-anak dalam masanya tak mampu menerima dan menampung keinginan orang tuanya. Mereka yang lebih asyik dengan dunianya. Pergi kesekolah dengan membawa uang jajan. Bermain dengan teman-teman seusianya. Mencari terus sesuatu yang baru, yang tidak mereka temukan di rumahnya.

Bagaimana hari ini pendidikan anak usia dini mulai di masuki otak-otak industrialisasi. Efek persaingan antar lembaga pendidikan membuat sekolah-sekolah saling meninggikan standar kemampuan anak didiknya.

Meski tanpa melihat tahap perkembangan anak yang seharusnya terpatok pada kebutuhan anak di masa usianya. Semua itu menghilangkan hasrat keingintahuan anak-anak pada sesuatu yang mereka anggap menarik.

Nilai-nilai persahabatan antar anak seusianya menjadi sebuah persaingan ambisi kedua orang tuanya. Anak-anak nakal termarjinalkan karena kehilangan rasa percaya dirinya. Anak-anak yang kurang mampu mengikuti dan menuruti keinginan orang tua dan lembaganya menjadi pemalu, lalu mereka dipenuhi rasa ragu untuk maju.

Konsep anak gagal dan anak pintar meracuni kebahagiaan belajar di usia mereka. Satu demi satu benih-benih gejala psikologi muncul dalam otak meraka. Anak-anak depresi, stres, pemarah, pemalu, agresif, dll. Seusia mereka, yang seharusnya mendapatkan dunianya sendiri dan akhirnya terjajah oleh ambisi-ambisi dan juga gengsi para orang tua.

Lalu, anak-anak hidup dalam ketakutan atas kesalahan. Menjadi curang dalam segala hal. Mencari sesuatu yang instan dalam belajar. Otak mereka kaku tanpa ide-ide kreatif dan inovatif yang hilang sejak dini. Anak-anak lalu mulai lupa siapa dirinya.

Nazaruddin Faiz
Pemerhati keberlangsungan kehidupan
Berita sebelumnyaRefleksi dari Penjual Es Degan
Berita berikutnyaHTI Menang Banyak
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Enigma dalam Bukit Algoritma

Narasi 4.0 telah membawa kita semua ke sebuah era di mana digitalisasi semakin menjamah di segala aspek kehidupan. Hal ini membuat terdorongnya beragam inovasi-inovasi...

Memikirkan Ulang Sistem Parlementer

Setelah lima pemilihan umum berjalan demokratis, saatnya kita bicara tentang bagaimana cara memperkuat demokrasi dan melahirkan stabilitas kebijakan dan politik jangka panjang. Inilah saat paling...

Kesadaran Komunikasi Antarbudaya di Era Digital

Membangun diskursus mengenai komunikasi antarbudaya (intercultural communication) selalu menjadi hal yang menarik untuk dikaji dan bukan pula fenomena baru. Terlebih,  di tengah pesatnya perkembangan...

Serangan Siber Israel di Pusat Pengembangan Nuklir Iran

Pada 12 April 2021, Juru bicara Organisasi Energi Atom Iran/Atomic Energy Organization of Iran (AEOI), Behrouz Kamalvandi, mengkonfirmasi terjadi ledakan di bagian fasilitas pengayaan...

Tadarus Etika: Konsep, Kerja, dan Tunjang

Allah memperkenankan kita bertemu sekali lagi dengan bulan suci umat Islam, Ramadan 1442 H. Kian tahun kebutuhan manusia akan etika semakin kuat. Integritas melangka:...

ARTIKEL TERPOPULER

Kegiatan Di Bulan Suci Ramadhan Sesuai Pancasila

Indahnya bulan suci ramadhan tahun ini disambut suka cita oleh seluruh umat Islam dari Indonesia, luar negeri dan seluruh dunia setiap tahun. Dari hasil...

Belajar di Sekolah Kembali? Mari Kurangi Kekhawatiran Kita

Pemerintah Indonesia berencana membuka sekolah lagi di bulan Juli 2021. Ini kabar menggembirakan, mengingat bahwa bagi beberapa anak, pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar dari...

Malam yang Panjang di LBH dan Dendam Imajiner yang Lebih Panjang

Minggu, 17 September 2017. Hari itu, saya kira saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan bersama orang terkasih. Seperti hari-hari Minggu pada wajarnya, romantis...

Memikirkan Ulang Sistem Parlementer

Setelah lima pemilihan umum berjalan demokratis, saatnya kita bicara tentang bagaimana cara memperkuat demokrasi dan melahirkan stabilitas kebijakan dan politik jangka panjang. Inilah saat paling...

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.