Jumat, April 19, 2024

Saat Obat Terlarang Membuat Rekor Dunia

Saiful Maarif
Saiful Maarif
Asesor SDM Aparatur dan pegiat Birokrat Menulis. Bersenang dengan Sepak Bola dan Bola Voli. Tulisan adalah pandangan pribadi

Pada awal Juli lalu, diketahui luas bahwa otoritas keamanan Italia dan Yunani membongkar penyelundupan pil Captagon dari Suriah. Nilai jutaan pil itu ditaksir luar biasa banyak, yakni 1 Miliar USD. Jumlah ini disinyalir sebagai yang terbesar dalam sejarah penyelundupan tunggal narkotika di dunia (Reuters, Independent, AFP 5/07/2020)!

Captagon adalah sebutan untuk fenethylline hydrochloride, sejenis amphetamine berasal dari senyawa obat-obatan yang digunakan terbatas untuk kepentingan medis dalam menangani pasien yang mengalami gangguan pusat syaraf kecemasan. Dampak penggunaan amphetamine adalah memberi rasa tenang dan fokus serta semangat untuk beraktifitas tanpa mengenal lelah bagi pasien depresi, narkolepsi, dan hiperaktif.

Karena fungsi, kegunaan, dan penggunanya yang dibatasi otoritas medis, pemanfaatan amphetamine jelas harus dibawah supervisi tenaga medis dengan ketat. Sempat dilegalkan pada tahun 1960-an, amphetamine resmi dilarang secara global pada tahun 1980an karena tingkat adiksinya.

Namun demikian, amphetamine disinyalir tetap beredar di Timur Tengah, khususnya Syria dan kawasan perang lainnya dengan identitas Captagon. Penyelundupan Captagon dari Syria memantik persepsi publik dan pemahaman politik yang beragam.

Sebagian pandangan atas kasus penyelundupan Captagon tersebut melihat bahwa ISIS berada di balik aksi kriminal tersebut. ISIS dinilai memerlukan pendanaan yang besar untuk terus eksis menebar teror di seluruh penjuru dunia, khususnya Timur Tengah.

Sementara itu, pandangan lainnya menyebut bahwa justru rezim Bashar Al Assad berada di belakang aksi penyelundupan pil terlarang tersebut. Assad dituding mengembangkan industri narkotika sebagai salah satu upayanya untuk memelihara pembiayaan logistik perang.

Di tengah kecamuk perang yang tiada henti dan nyaris tidak mudah mengenali siapa kawan dan lawan di Syiria, menemukan pengakuan tentang pihak yang bertanggung jawab atas aksi penyelundupan tersebut adalah perkara yang sangat tidak mudah, jika bukan mustahil. Siapapun pihak yang berdiri di belakang aksi penyelundupan Captagon yang memecahkan rekor dunia itu, pastinya adalah mereka yang memiliki kekuatan dan jaringan yang kuat. Dengan banyak pihak dan kekuatan militer yang membelah Syria dan Timur Tengah hingga kini, banyak pihak pula yang berkemungkinan untuk mampu melakukannya.

Jejak Obat dan Tanaman Terlarang 

Bagaimana sesungguhnya narkoba dan psikotropika berkembang di Timur Tengah pada mulanya? Kawasan ini, sesuai dengan keyakinan yang dianut, harusnya jauh dari budaya penyalahgunaan psikotropika dan narkotika karena efeknya yang dilarang secara agama.

Namun demikian, melihat perkembangan ini rasanya lebih tepat dengan kaca mata bisnis dan perdagangan gelap. Dengan perspektif ini, keharaman psikotropika dan narkotika adalah satu hal, tapi memanfaatkannya untuk kepentingan politik dan perang adalah hal lain.

Itulah mengapa penggunaan khat (sejenis tanaman yang memiliki dampak adiktif sebagaimana kokain, tumbuh secara alami di daerah tanduk Afrika dan Semenanjung Arab) umum ditemukan di Yaman, Weed dan Hasish (jenis psikotropika yang tumbuh subur di lembah Beka Lebanon) banyak ditemukan di Lebanon dan Afghanistan, Hagigat (sejenis khat) di Israel, dan opium di Afghanistan, Iran, dan Irak.

Dari daerah dan kawasan yang penggunanya, jelas terlihat penyalahgunaan psikotropika dan narkotika bukan tentang agama yang dianut pemakainya. Pengaruh dan dampaknya meluas kemana-mana melewati batas agama, bangsa,  dan negara di kawasan Timur Tengah.

Pandangan akademisi 

Topik penyalahgunaan obat-obatan terlarang di Timur Tengah ini telah sedemikian rupa mewarnai pembahasan akademik. Berbagai pembahasan itu terjadi seputar latar belakang, motif, dan pengaruh yang  membayangi penggunaan barang haram tersebut. Karena berlangsung di Timur Tengah yang nota bene adalah kawasan negara Islam, pernyataan dan pandangan tentang hal ini kadang tidak cukup berimbang karena sentimen tidak proporsional.

Nathaniel Weyl dalam Hasish and the Decline and Fall of Arab Civilization (2001), misalnya, melihat bahwa psikotropika (hashish, khat, dan weed) memiliki peran yang besar dalam kejatuhan peradaban Islam di Timur Tengah. Pada mulanya Weyl melihat pasukan Mongol dibawah kepemimpinan Jenghiz Khan berkontribusi terhadap pengenalan hasish dan psikotropika dari kawasan India kepada dunia Arab secara masif.

Kawasan Arab sendiri dikenal sebagai daerah yang memiliki kesuburan tanah yang luar biasa untuk tumbuhnya psikotropika di titik-titik tertentu, Lembah Beka Lebanon dan perbatasan Afghanistan – Pakistan, misalnya. Pada taraf tertentu, keberadaan psikotropika ini berjalan tanpa aksentuasi berlebihan, hingga kemudian kedatangan Jengiz Khan dan pasukannya memberi dampak kerusakan besar dengan penyalahgunaan psikotropika, selain tindakan barbar mereka.

Pasukan Mongol datang dan memorakporandakan peradaban Islam secara fisik dan psikis. Petruvsky dalam The Socio Economic Condition of Iran under 11-Khans  (1968), mengatakan bahwa secara sistematis pasukan Mongol dibawah kepemimpinan Jenghiz Khan, kemudian diteruskan Timurlenk, melakukan pembersihan etnis besar-besaran di berbagai kota Islam, terutama di garis kawasan yang kelak dikenal sebagai Khurasan (Balk, Marv, Nishapur, Herat, Tus, Ray, Qasvin, Hamadan, Ardabil, dan kota lainnya). Umat Islam di kota-kota itu dibersihkan dan dihinakan dengan cara yang biadab: kaum lelakinya dipenggal,  ribuan perempuannya diperkosa, buku dan karya ilmiah dibakar, dan bangunan penting mereka dihancurkan.

Namun demikian, Weyl dan Petruvsky melihat bahwa kehancuran telak yang disisakan tentara Mongol adalah pada pola pikir bangsa Arab yang dininabobokkan psikotropika. Jengiz Khan dinilai telah dengan masif mengenalkan penggunaan dan penyalahgunaan khat, weed, dan sejenisnya pada masyarakat Arab. Untuk satu hal, asumsi ini dapat disandingkan dengan temuan mencengangkan pil Captagon di Italia dan Yunani tempo hari. Captagon dengan jumlah sebanyak itu jelas berasal dari industri yang sudah “matang” dan berjalan dengan kuat, siapapun yang berada di balik itu dan motif yang melatari.

Pernyataan Weyl memang harus diperiksa lebih lanjut, terutama dalam asumsinya bahwa kaum Sufi India juga berperan dalam mengenalkan budaya fly dan kondisi ekstatif dengan bantuan dan dorongan psikotropika kepada umat Islam Arab.

Pernyataan ini seperti ingin mengatakan bahwa dorongan khusyu’ dan sangat fokus dalam konteks ritual sufistik banyak dipengaruhi oleh penyalahgunaan psikotropika, hal mana sangat tendensius dan mentah sebagai analisa. Sufisme dalam ajaran dan pandangan Islam adalah capaian dan status luhur sebagai pelepasan dan kepasrahan total kepada Dzat yang Maha Agung, Allah SWT. Nilai sufistik meminggirkan kemungkinan rusaknya diri karena keharaman psikotropika dan ketergantungan nilai duniawi.

Saiful Maarif
Saiful Maarif
Asesor SDM Aparatur dan pegiat Birokrat Menulis. Bersenang dengan Sepak Bola dan Bola Voli. Tulisan adalah pandangan pribadi
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.