Sabtu, April 17, 2021

Ruang Pendidikan Indonesia

Rindu Rubrik Anak

Bis Sekolah yang ku tunggu ku tunggu  Tiada yang datang Ku telah lelah berdiri berdiri Menanti-nanti Sepenggal lirik lagu anak berjudul Bis Sekolah nampaknya sedikit mampu mengilustrasikan rasa...

Demonstrasi dan Gagal Pahamnya Salafi

Pra-reformasi pada tahun 1998, Indonesia dipimpin rezim otoriter. 32 tahun Orde Baru menjalankan pemerintahan dengan kekuatan besi.  Kebebasan berpendapat menjadi barang langka ditemukan. Masyarakat...

Amien Rais, Kang Yoto, dan Tata Kelola Sumber Daya Alam Indonesia

Saat ini tidak ada tokoh politik senior yang sangat konsisten dalam memberikan kritik terhadap pemerintah melinkan Pak Amien Rais. Ya, memang begitulah adanya. Apalagi...

Bancakan Korupsi Daerah Bernama Pokir

Proses penyusunan dan pembahasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) merupakan sektor paling rawan untuk dikorupsi. Proses ini seakan menjadi lahan basah bagi para...
Adis Setiawan
Mahasiswa | Penulis Lepas

Pendidikan sangat penting bagi bangsa dan negara manapun, termasuk Indonesia. Bahkan negara kita sudah mengatur bagaimana sistem pendidikan untuk warganya. Mulai dari adanya wajib belajar sampai di buatnya kurikulum untuk standar pendidikan Nasional.

Pendidikan adalah salah satu pondasi negara, untuk menciptakan budaya, karakter bagi calon kader bangsa di masa yang akan datang, agar ahli dalam bidangnya untuk membantu memajukan bangsa dan negara. Jika pendidikan di suatu negara tersebut hancur, maka keadaan negara tersebut bisa jadi akan ikut hancur.

Pendidikan di Indonesia termasuk menggunakan anggaran lumayan besar untuk operasional, bantuan, pembangunan, dan gaji para guru pegawai negeri. Kita boleh berharap bahwa negara tidak akan bangkrut dalam membantu anggaran operasional pendidikan, seperti selama ini yang selalu di harapkan oleh para calon pegawai negeri. Menganggap bahwa negara tidak akan bangkrut, sehingga masyarakat berlomba-lomba menjadi bagian dari pegawai negeri.

Perlu kita ingat, ciri-ciri negara maju adalah ketika rakyat di negara tersebut tujuan utama untuk bekerja ke perusahaan swasta, bukan ingin menjadi pegawai negeri. Baru setelah di tolak oleh perusahaan- perusahan swasta lalu mendaftar kerja jadi pegawai negeri, atau jadi pengusaha. Di Indonesia masih banyak rakyat yang tujuan utama kerjanya ingin menjadi pegawai negeri, karena negara kita masih masuk negara berkembang.

Membangun Kemandirian 

Tapi, kita harus ingat bahwa rakyat yang selalu mengandalkan pemerintah, maka akan membuat kita lambat untuk lebih mandiri. Ketika pemerintah sedang bangkrut maka beberapa sektor yang sering mengandalkan anggaran pemerintah akan ikut bangkrut juga.

Rakyat kita masih menganggap bahwa politik itu soal posisi jabatan bukan soal peran, untuk melakukan kebijakan seharusnya rakyat lebih kuat dan mandiri. Walaupun semua kebijakan ada di tangan pemerintah tinggal ketok palu kita kalah.

Akan tetapi kemandirian secara politik rakyat harus terbentuk. Yang jadi masalah karena kita masih anggap bahwa politik soal posisi jabatan bukan soal peran, harusnya semua rakyat bisa memainkan peran tersebut untuk membuat kebijakan. Rakyat harus menjadi civil society mandiri dan kuat.

Misalnya, sektor pendidikan di Indonesia, jika pemerintah stop memberi anggaran untuk pendidikan termasuk gaji untuk para guru pegawai negeri selama 3 bulan saja, maka yang akan terjadi guru pegawai negeri mogok kerja, operasional pendidikan berhenti. Pendidikan akan tersendat, bisa jadi akan bubar sekolahan-sekolahan di negara kita ini karena tidak ada anggaran operasionalnya.

Akhirnya para calon kader bangsa, sebagai penerus bangsa tidak mendapatkan hak-haknya, ilmu karakter untuk meningkatkan produktifitasnya dan kreatifitasnya dalam membantu negara. Nanti akan mempergaruhi keadaan kualitas sumber daya manusia dimasa yang akan datang.

Tetapi sekolahan di negara kita tak hanya milik negara saja, masih ada perjuangan sekolahan swasta, misalnya yang sudah mandiri. Ketika sekolahan swasta tersebut sudah mandiri dalam hal ini dana. Dengan bangkrutnya pemerintah seperti tidak akan terjadi apa-apa, dengan kekuatan ingin beramal maka sekolahan tersebut masih akan terus beroperasional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Bagi masyarakat atau lembaga yang kurang mandiri akan berat untuk bangkit lagi, karena pemerintah dan rakyatnya sama-sama ikut bangkrut. Lain cerita jika rakyat sudah mandiri, ketika pemerintah bangkrut, maka civil society tidak ikut bangkrut dan seperti tidak terjadi sebuah kebangkrutan. Karena kekuatan politik rakyat lebih kuat dan mandiri dibandingkan dengan kekuatan pemerintah.

Lahirnya lembaga pendidikan berbasis online juga membantu kemandirian pendidikan, Karena tidak butuh ruang bahkan anggaran bantuan dari pemerintah. Tetapi, harus kita ingat apa tujuan mendirikan pendidikan online tersebut. Apakah karena tuntutan zaman, atau peluang bisnis. Ketika memang tuntutan zaman berarti membantu untuk kemandirian pendidikan di negara ini.

Dengan munculnya pendidikan online maka ilmu tersebut dapat di akses oleh semua orang. harus kita ingat kenapa barat pernah maju dalam pendidikan, karena di temukanya mesin cetak, sehingga ilmu dapat di tulis dan di cetak secara cepat  terus di gandakan, tentunya  jadi banyak orang yang  membaca. Jadi, tak perlu lagi murid yang ingin belajar harus ketemu gurunya, cukup membaca buku karyanya yang sudah di gandakan dengan mesin cetak.

Dengan cepatnya tersebar ilmu, akan berubah keadaaan orang pandai semakin banyak, ketika orang pandai semakin banyak maka pendidikan tersebut juga akan maju teknologinya.

Sementara negara kita dahulu dalam menulis ilmu pakai tinta, jadi lama. Berbulan-bulan baru jadi satu buku, misalnya. Belum lagi untuk di gandakan agar bisa di bagi-bagikan agar lebih cepat banyak orang yang pintar. Ini awalnya penyebaran ilmu kita lambat jadi kalah dengan barat yang penyebaran ilmunya lewat mesin cetak secara cepat dan langsung dapat disebarkan.

Dengan pendidikan berbasis online maka ilmu dapat diakses oleh semua orang, di masa yang akan datang perbandingan orang pandai akan lebih banyak dari pada orang yang belum tahu.

Kalau ada yang bilang kita harus revolusi mental, harusnya revolusi mental tersebut lewat pendidikan. Tetapi, justru revolusi mental lewat politik, politik adalah ilmu yang mempelajari tentang tatanan masyarakat tak ada hubungannya dengan pendidikan kualitas sumber daya manusia. Jadi kalau mau revolusi mental lewatlah pendidikan. Para calon kader bangsa di bentuk lewat pendidikan.

Pendidikan Bukan Untuk Bisnis

Sudah bukan hal rahasia bahwa sekarang pendidikan di anggap peluang bisnis, adanya bantuan dari pemerintah pusat maupun daerah. apalagi bisa menarik uang SPP dari siswanya, untuk sekolahan swasta. Ini sangat mengiurkan. Akhirnya lahirnya banyak sekolahan swasta, apalagi menarik minat para warga untuk menyekolahkan anaknya. Maka para pelaku bisnis lembaga pendidikan bisa mengambil keuntungan dari sini.

Dengan demikian tujuan di dirikan lembaga pendidikan bukan hanya untuk mendidik karakter para kader bangsa, tetapi juga untuk peluang bisnis. Tetapi saya tidak bisa bilang begitu karena tidak punya bukti, sudah bagus mereka ikut berjuang mendirikan sekolah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan Negara.

Tidak hanya sekolahan formal. Bahkan sekarang di era industri 4,0 pendidikan sudah memasuki dunia online, murid sudah tidak lagi ketemu gurunya. Dengan tuntutan zaman yang serba online, semua bisa kita dapatkan tanpa harus bertatap muka. Maka peluang bisnis juga mengincar bidang pendidikan untuk di jadikan star up atau unicorn. Bahkan lembaga online tersebut juga akan terus banyak dan berkembang. Tetapi pendidikan bukan soal ilmu saja, ada hal lain yang harus di transfer yaitu pendidikan karakter, Budi pekerti, dan akhlak.

Apakah bisa lembaga pendidika online tersebut mentransfer karakter tersebut, bukan hanya soal ilmu saja. Karena kita butuh pendidikan sosial, budaya untuk negara yang berbagai macam budaya. Bukan hanya ilmunya saja.

Baik sekolahan formal atau lembaga pendidikan online. Harusnya bertujuan mencerdaskan anak bangsa. Bukan untuk peluang bisnis. Dengan bantuan teknologi yang sudah gampang berbagi informasi dapat cepat tersampaikan, seharusnya akan semakin banyak orang pandai, tetapi kita juga butuh pendidikan akhlak budaya negara kita.

Adis Setiawan
Mahasiswa | Penulis Lepas
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Daniel Dhakidae, Kekuasaan dan Pelanggaran HAM

“Kekuasaan yang tidak memiliki kehormatan, tidak akan pernah mampu menghadirkan keadilan.” Ungkapan yang keras, menohok hati itu diucapkan oleh Bung Daniel Dhakidae awal tahun 2020...

Generasi Z dan Radikalisme Beragama

Peristiwa ledakan bom di Gereja Katedral Kota Makassar pada 28 Maret 2021 lalu, menggegerkan masyarakat Indonesia. Bukan hanya karena jenis ledakan yang masuk kategori...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Peran Besar Generasi Milenial Menuju Indonesia Maju

Menurut data Badan Pusat Statistika (2020), Indonesia memiliki jumlah penduduk yang cukup tinggi yaitu sekitar 270 juta jiwa dengan tingkat pertumbuhan penduduknya sebesar 1,25%...

Dua Sisi Media Digital Terhadap Budaya Lokal

Mari kita mulai membaca dan sambil memperhatikan sekitar kita tentang Media,Budaya, dan Jati Diri. Mungkin kita sudah mengetahui istilah Globalisasi. Globalisasi itu ditandai dengan...

ARTIKEL TERPOPULER

Gagalnya Kudeta Terhadap Raja Yordania?

Pada 4 April 2021, Panglima Militer Yordania, Mayjen Yousef Huneiti menyatakan bahwa pihaknya telah meminta secara resmi Pangeran Hamzah untuk menghentikan semua kegiatan atau...

Eren Yeager, Kesadaran dan Kebebasan

Pemberitahuan: esai ini terdapat cuplikan cerita Attack on Titan (AoT) episode 73. Pada musim akhir seri AoT, Eren Yeager tampil dengan kondisi mental yang jauh lebih...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Daniel Dhakidae, Kekuasaan dan Pelanggaran HAM

“Kekuasaan yang tidak memiliki kehormatan, tidak akan pernah mampu menghadirkan keadilan.” Ungkapan yang keras, menohok hati itu diucapkan oleh Bung Daniel Dhakidae awal tahun 2020...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.