OUR NETWORK
Minggu, Februari 5, 2023

Roman Abramovich, Alexei Navalny, dan Premier League

Mohammad Aqshal Fazrullah
Mahasiswa Hubungan Internasional.
From Korea With Love Concert

Industri olahraga, khususnya sepakbola, telah mengalami perkembangan pesat. Mulai dari segi teknis maupun non-teknis. Mulai dari aktor dalam lapangan hingga pemain-pemain di belakang layar. Sektor lain yang berkembang dalam sepakbola yaitu perihal kepemilikan klub dan pendanaan. Banyak investor dari berbagai negara yang menyuntikkan dananya ke klub-klub besar di Eropa. Salah satunya yaitu Roman Abramovich. Pada Juni 2003, Abramovich, yang merupakan mantan gubernur wilayah Chukotka di Rusia, membeli salah satu klub Liga Inggris, Chelsea FC, seharga 140 juta Poundsterling.

Pembelian tersebut menjadi pembelian pertama klub Inggris oleh investor asing. Sejak saat itu, Chelsea memulai program pengembangan komersial yang ambisius dengan tujuan menjadi salah satu brand yang dikenal dunia, seperti Manchester United. Pada 2005, Chelsea memecahkan rekor transfer pemain dengan harga tertinggi di Inggris pada saat itu, ketika Chelsea mendatangkan Andriy Shevchenko seharga 30 juta Poundsterling. Sejak saat itu juga Chelsea mengembangkan infrastrukturnya, salah satunya yaitu rencana renovasi stadion yang memakan biaya 500 juta Poundsterling pada 2017 lalu.

Namun, pada Juli 2018, Chelsea menunda rencana renovasi stadionnya. Hal ini dikarenakan perpanjangan visa investor Abramovich ditunda dan menyatakan bahwa “iklim investasi tidak menguntungkan”, serta karena kurangnya jaminan tentang status imigrasi Abramovich. Sejak saat itu, Abramovich yang dikenal selalu hadir dalam pertandingan Chelsea, belum terlihat lagi di tribun Stamford Bridge dan tidak bisa tinggal di Inggris.

Muncul dalam Catatan Navalny

Pada Agustus 2019, Alexei Navalny, seorang pemimpin oposisi di Rusia yang menginvestigasi kasus korupsi pejabat-pejabat di Kremlin, diracun oleh pihak yang ia duga merupakan pemerintah Rusia. Ia kemudian dirawat di Jerman hingga pada Senin 18 Januari 2021, setelah sembuh dan pulang ke Rusia, Navalny ditahan karena melanggar ketentuan hukuman penjara.

Tidak lama kemudian, Vladimir Ashurkov, yang merupakan rekan dari Navalny, mengunggah sebuah tulisan yang menjelaskan tentang pejabat-pejabat Rusia dan pebisnis yang menurut Navalny, perlu diperlihatkan pada dunia Barat. Hal ini dikarenakan kedelapan nama dalam daftar yang disusun Navalny dan rekan-rekannya terlibat dalam kasus korupsi, suap, pelanggaran HAM, pelanggaran pemilu dan pelanggaran penegakan hukum. Ashurkov juga menegaskan dalam unggahannya bahwa jika dunia Barat serius dalam menghentikan pelanggaran HAM dan korupsi yang dilakukan pemerintah Rusia, maka nama-nama dalam daftar tersebut harus diberi sanksi.

Menariknya, dalam daftar nama yang disusun tersebut, muncul nama Roman Abramovich. Dalam unggahannya, Ashurkov memberikan keterangan bahwa Abramovich merupakan salah satu pendorong utama serta mengambil keuntungan dari kleptokrasi Rusia.

Terdapat nama lain yang terlibat dalam industri sepakbola Inggris. Alisher Usmanov, yang juga disebutkan merupakan salah satu pendorong utama kleptokrasi di Rusia, merupakan mantan pemilik saham mayoritas di Arsenal FC dan sekarang memiliki hubungan yang kuat dengan Everton FC. Perusahaan Usmanov, USM, memiliki hak penamaan untuk pusat latihan Everton FC. Hal ini menimbulkan tanda tanya besar terkait investasi yang mereka lakukan terhadap klub-klub di Liga Inggris.

Respon Dunia Barat

Dalam menanggapi masalah ini, dunia Barat memberikan respon yang berbeda-beda. Pemerintah Inggris, melalui juru bicara pemerintahannya menyatakan bahwa pihak Inggris pada Oktober tahun lalu telah membekukan aset dan memberikan larangan perjalanan bagi mereka yang dianggap bertanggung jawab pada kasus peracunan Navalny, serta terus mengawasi situasi yang terjadi.

Sementara itu, Parlemen Eropa mengeluarkan resolusi pada 21 Januari kemarin terkait penahanan Navalny. Dalam resolusi tersebut menghasilkan beberapa poin yang menyerukan kepada Dewan Eropa untuk mengambil sikap yang aktif dengan memberikan sanksi terhadap individu serta badan hukum yang terlibat. Selain itu, Parlemen Eropa juga mendesak Dewan Eropa untuk memberlakukan sanksi terhadap oligarki Rusia terkait rezim dan orang-orang yang berada dalam lingkaran Presiden Putin, dan menyatakan bahwa Uni Eropa seharusnya tidak menjadi tempat yang ramah bagi kekayaan Rusia yang tidak jelas asalnya.

Apa artinya bagi Liga Inggris?

Pihak Premier League belum memberikan respon terkait masalah ini, meskipun terdapat dua nama dalam daftar tersebut yang menyeret orang-orang yang berinvestasi di Liga Inggris. Hal ini tentu harus menjadi perhatian bagi petinggi-petinggi Premier League karena peristiwa ini dapat menunjukkan posisi apa yang diambil oleh Premier League.

Selanjutnya, posisi yang diambil oleh Premier League bisa menentukan image yang dimilikinya. Pihak Premier League perlu bersikap tegas dalam hal ini. Sebagai salah satu industri olahraga, mereka dikenal selalu bersuara dalam isu-isu sosial. Banyak sekali kampanye yang dilakukan dalam Premier League seperti kesetaraan gender, rainbow laces dan black lives matter. Kepedulian terhadap isu sosial ini perlu dilanjutkan, dan kasus Navalny ini menjadi salah satu peluang bagi Premier League untuk menunjukkan bahwa mereka benar-benar peduli.

Mohammad Aqshal Fazrullah
Mahasiswa Hubungan Internasional.
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.