Notice: Undefined index: HTTP_REFERER in /home/geotimes/wordpress/wp-content/plugins/Plugin/plug.php on line 23
Ridwan Kamil dan Karma Politik | GEOTIMES
Jumat, April 16, 2021

Ridwan Kamil dan Karma Politik

Mengenal Syekh Yusri dan Ajaran Tasawufnya (Bag. 1)

Di mata sebagian kalangan, ajaran tasawuf seringkali diasosiasikan dengan konservatisme dan sikap anti pati terhadap dunia. Tasawuf sering diidentikkan dengan pakaian lusuh, jubah kucel,...

Meninggalkan Jejak Puasa Ramadhan

Tanpa kita sadari waktu terus berjalan, sejak kita di dalam kandungan yang berumur hari, kemudian minggu dan bulan lalu terlahir menjadi bayi, remaja, dewasa,...

Dimensi Psikologis Menonton Film

Saat kehidupan nyata begitu berat dan menyesakkan dada, kita perlu meninggalkannya. Untuk sejenak  pergi ke dunia lain. Di masa karantina diri dan pembatasan sosial...

Nasib Anak-Anak di Penjara Papua

Pada awal bulan Juli 2017, ada 3408 anak-anak di lembaga pemasyarakatan/rumah tahanan di seluruh Indonesia. Dari angka tersebut, 877 anak berstatus sebagai tahanan, dan...
Aming Soedrajat
Pegiat Media Sosial

Karma tidak pandang bulu. Karma bisa menyerang siapa saja. Karma menyerang setiap orang yang terkesan menyengaja berbuat salah terhadap orang lain. Termasuk menyerang Walikota Bandung Kang Emil (Ridwan Kamil) dalam perhelatan politik menjelang pilgub Jabar tahun 2018 mendatang.

Dosa politik terbesar Kang Emil, tentu saat menjegal Kang Dedi Mulyadi yang dia anggap sebagai rival, padahal Dedi selalu menganggap Emil sebagi kawannya. Setelah berhasil merebut Partai Golkar untuk mengusungnya dengan cara menggunakan kedekatannya dengan Setya Novanto (Setnov) yang saat itu menjabat sebagai ketum Partai Golkar, Emil menjadi Cagub yang tidak melalui mekanisme Partai.

Mengingat saat itu sudah diusung oleh NasDem, PKB dan PPP menjadikan Emil dengan Cagub dengan Komposisi yang kuat karena didukung oleh banyak Partai. Mendengar Dedi Mulyadi akan diusung oleh PDIP setelah sebelumnya mengikuti Curah Gagasan, kehawatiran Emil terhadap Dedi Mulyadi kembali tumbuh, ia mengirim orang-orangnya agar PDIP mau berkoalisi untuk mengusungnya.

Padahal sejak jauh-jauh hari, PDIP telah menutup rapat pintu untuk Ridwan Kamil. Berbagai cara dilakukan agar Dedi Mulyadi tidak bisa mengikuti pesta Demokrasi tersebut. Ketakutan Emil terhadap Dedi Mulyadi dipicu oleh masalah sederhana, walaupun hasil Survei menempatkannya sebagai Calon paling cantik, tetapi tidak memiliki basis massa besar seperti Dedi.

Kesombongan Emil “meledek” Dedi makin menjadi ketika mengatakan ‘Tidak Perlu mengerahkan massa untuk mendapatkan rekomendasi dari golkar’. Padahal massa yang bergerak ke DPP Golkar adalah untuk mempertanyakan legalitas Emil yang sebagai Cagub, karena dalam keputusan Rapimda di Karawang semua Kader Golkar di Jawa Barat sepakat mengusung Dedi Mulyadi.

Kesombongan Emil yang telah ditanam sebelumnya sekarang membuahkan hasil pasca di tetapkannya Setnov sebagai tersangka. Pergantian di pucuk pimpinan berbuah pencabutan dukungan Golkar untuknya. Dicabutnya dukungan itu sepertinya akan dilakukan juga oleh partai pengusung lainnya, PPP dan PKB.

PKB menagih janji untuk menyertakan kadernya Kang Maman Imanulhaq atau Kang Syaiful Huda, untuk menjadi pendamping. Hal itu juga dilakukan oleh PPP yang menginginkan Uu Ruzhanul Ulum menjadi wakil pendamping Emil.

Emil dihadapkan pada ‘simalakama’, siapapun kader partai yang di usung, maka partai lain akan angkat kaki. Situasi menjadi semakin berbelit, karena kalau satu saja partai pengusungnya keluar, maka jumlah kuota untuk persyaratan berkurang. Mengingat, waktu yang semakin mepet dan kepercayaan partai terhadapnya mengecil, kesempatan Emil untuk menjadi penguasa Jawa Barat sepertinya semakin mengecil.

Dari permasalahan Ridwan Kamil kita bisa belajar, kesombongan dan penjegalan merupakan awal dari sebuah kehancuran. Kata pepatah, “Siapa yang menanam, dia yang akan menuai.” Kita lihat saja.

Aming Soedrajat
Pegiat Media Sosial
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Daniel Dhakidae, Kekuasaan dan Pelanggaran HAM

“Kekuasaan yang tidak memiliki kehormatan, tidak akan pernah mampu menghadirkan keadilan.” Ungkapan yang keras, menohok hati itu diucapkan oleh Bung Daniel Dhakidae awal tahun 2020...

Generasi Z dan Radikalisme Beragama

Peristiwa ledakan bom di Gereja Katedral Kota Makassar pada 28 Maret 2021 lalu, menggegerkan masyarakat Indonesia. Bukan hanya karena jenis ledakan yang masuk kategori...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Peran Besar Generasi Milenial Menuju Indonesia Maju

Menurut data Badan Pusat Statistika (2020), Indonesia memiliki jumlah penduduk yang cukup tinggi yaitu sekitar 270 juta jiwa dengan tingkat pertumbuhan penduduknya sebesar 1,25%...

Dua Sisi Media Digital Terhadap Budaya Lokal

Mari kita mulai membaca dan sambil memperhatikan sekitar kita tentang Media,Budaya, dan Jati Diri. Mungkin kita sudah mengetahui istilah Globalisasi. Globalisasi itu ditandai dengan...

ARTIKEL TERPOPULER

Gagalnya Kudeta Terhadap Raja Yordania?

Pada 4 April 2021, Panglima Militer Yordania, Mayjen Yousef Huneiti menyatakan bahwa pihaknya telah meminta secara resmi Pangeran Hamzah untuk menghentikan semua kegiatan atau...

Eren Yeager, Kesadaran dan Kebebasan

Pemberitahuan: esai ini terdapat cuplikan cerita Attack on Titan (AoT) episode 73. Pada musim akhir seri AoT, Eren Yeager tampil dengan kondisi mental yang jauh lebih...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Daniel Dhakidae, Kekuasaan dan Pelanggaran HAM

“Kekuasaan yang tidak memiliki kehormatan, tidak akan pernah mampu menghadirkan keadilan.” Ungkapan yang keras, menohok hati itu diucapkan oleh Bung Daniel Dhakidae awal tahun 2020...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.