Terakhir kali kaki Reza Pahlavi memijak tanah Iran, ia meninggalkan sebuah dunia yang kini hanya tinggal sejarah. Kala itu, tahun 1978, Iran adalah gambaran yang sangat kontras dengan hari ini; sebuah masa di mana badai revolusi belum berkecamuk dan bayang-bayang kekuasaan para Ayatollah belum menyelimuti negeri.
Di bawah kepemimpinan ayahnya, Sang Syah, Teheran masih berdiri sebagai mercusuar modernisasi di Timur Tengah. Namun, empat puluh lima tahun telah berlalu, mengubur kenangan lama itu di bawah transformasi sosial dan politik yang sangat drastis, hingga membuat Iran saat ini menjadi entitas yang hampir tak dikenali oleh masa lalunya sendiri.
Di tengah jurang waktu yang begitu lebar, Reza Pahlavi secara mengejutkan menyuarakan hasratnya untuk kembali ke tanah leluhur. Kepulangan ini bukan sekadar rindu pada kampung halaman, melainkan sebuah ambisi politik yang besar. Ia melihat retakan pada fondasi rezim saat ini sebagai peluang emas; sebuah keyakinan bahwa keruntuhan penguasa petahana sudah di ambang pintu, dan ia siap untuk mengklaim kembali takhta serta mahkota yang pernah terlepas dari keluarganya.
Guna membakar semangat para pendukungnya, ia menyampaikan pesan yang penuh dengan nada heroik dan janji dukungan internasional:
“Dunia hari ini berdiri di samping revolusi nasional Anda, memandang dengan penuh kekaguman atas keberanian yang kalian tunjukkan di garis depan. Secara khusus, tokoh sekaliber Donald Trump, sebagai pemimpin dunia bebas, telah mengamati setiap jengkal perjuangan dan keberanian luar biasa kalian, serta menyatakan kesiapannya untuk mengulurkan bantuan. Maka, saya instruksikan, jangan pernah beranjak dari jalanan. Hati dan pikiran saya sepenuhnya bersama kalian, dan saya memiliki keyakinan teguh bahwa dalam waktu dekat, saya tidak lagi hanya berbicara dari jauh, melainkan akan berdiri tepat di sisi Anda semua.”
Dalam pusaran gejolak politik yang kian memanas, Reza Pahlavi memandang situasi ini sebagai momentum emas yang telah ia nantikan seumur hidupnya. Sebagai pewaris darah dari Syah terakhir Iran, garis keturunannya bukanlah sekadar silsilah, melainkan simbol yang membangkitkan memori kolektif bangsa. Sejak dinobatkan menjadi Putra Mahkota pada usia yang sangat belia, yakni tujuh tahun, bayang-bayang takhta telah melekat pada dirinya.
Hingga hari ini, di tengah gempuran zaman, ia masih merawat basis pengikut yang loyal—mereka yang terikat oleh rasa nostalgia mendalam terhadap kemegahan masa lalu Iran. Dukungan ini bukan sekadar isapan jempol; rekaman-rekaman video yang memperlihatkan para pengunjuk rasa meneriakkan namanya di jalanan Teheran menjadi bukti nyata bahwa semangat monarkisme masih berdenyut di bawah permukaan.
Kini, pada usia 65 tahun, Pahlavi merasa waktu telah berpihak padanya setelah menghabiskan waktu berpuluh-puluh tahun dalam pengasingan di balik layar. Ia tidak lagi hanya sekadar menunggu; ia sedang mempersiapkan diri untuk mengisi kekosongan kekuasaan jika rezim saat ini benar-benar goyah dan runtuh. Namun, ambisinya tidak berdiri sendiri. Ia mengeklaim telah membangun jaringan strategis melalui semacam sistem hibrida yang menghubungkan para loyalis di luar negeri dengan kekuatan-kekuatan internal di dalam Iran.
Dalam visinya mengenai transisi kekuasaan, Pahlavi menegaskan bahwa koordinasi matang tengah dilakukan untuk memastikan proses peralihan berjalan lancar. “Kami berada dalam dialog berkelanjutan dengan berbagai pihak untuk merancang peta jalan transisi tersebut,” ungkapnya dengan penuh keyakinan. Baginya, strategi ini adalah kunci utama: begitu fondasi rezim saat ini hancur, ia berencana untuk segera memobilisasi seluruh kekuatan pendukung di dalam negeri guna mengambil alih kendali dan menata ulang masa depan Iran di bawah kepemimpinannya.
Perspektif Trump
Meskipun Reza Pahlavi memancarkan aura kepercayaan diri yang tinggi dan telah menyusun cetak biru yang ambisius bagi masa depan Iran pasca-Ayatollah, ia harus menghadapi kenyataan bahwa tidak semua tokoh dunia berbagi optimisme yang sama. Salah satu keraguan paling signifikan datang dari sosok yang sangat krusial, yakni Donald Trump. Dalam sebuah sesi wawancara, Trump memberikan tanggapan yang bernada datar dan penuh kewaspadaan terkait potensi kepemimpinan sang pangeran:
“Dia tampak seperti orang yang sangat baik, tetapi saya tidak memiliki kepastian mengenai bagaimana ia akan memosisikan dirinya di negaranya sendiri, dan sejujurnya, kita belum sampai pada titik pembahasan itu. Saya tidak tahu apakah rakyat Iran akan bersedia menerima kepemimpinannya atau tidak. Tentu saja, jika mereka memang menghendakinya, saya tidak akan keberatan.”
Pernyataan tersebut mencerminkan keraguan yang mendalam di balik gaya bicara Trump yang lugas. Meski ia menyematkan label “baik” kepada Pahlavi, keraguannya terhadap akseptabilitas sang pangeran di mata rakyat Iran menunjukkan bahwa ini bukanlah sebuah dukungan politik, melainkan sebuah sikap acuh tak acuh yang pragmatis.
Pahlavi, yang sangat peka terhadap sinyal dingin dari Washington ini, tidak tinggal diam. Ia segera melancarkan strategi diplomatik yang sangat terhitung dan rapi, mengemas visinya tentang Iran masa depan dalam narasi yang sengaja diselaraskan dengan kepentingan strategis Barat.
Sebagai upaya untuk meruntuhkan skeptisisme internasional dan memenangkan hati Gedung Putih, ia menyodorkan rangkaian janji yang sangat berani: pemulihan total hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat, pengakuan kedaulatan Israel tanpa menunda-nunda, hingga penghentian permanen seluruh ambisi nuklir Iran yang selama ini menjadi momok bagi dunia.
Lebih jauh lagi, Pahlavi berkomitmen untuk memangkas habis rantai dukungan bagi kelompok militan seperti Hamas dan Hizbullah, sekaligus mengusulkan pembentukan kerangka perdamaian regional yang lebih luas, sebuah visi yang sangat mirip dengan perluasan Kesepakatan Abraham (Abraham Accords). Inti dari pesan yang ia gaungkan adalah sebuah janji manis: bahwa Iran yang bebas di bawah kepemimpinannya akan bertransformasi menjadi sekutu terkuat Amerika di Timur Tengah. Ini bukanlah sekadar retorika politik biasa, melainkan sebuah manuver strategis yang dirancang khusus untuk meyakinkan Donald Trump bahwa perubahan rezim di Teheran tidak akan membawa kekacauan, melainkan sebuah stabilitas baru yang menguntungkan kepentingan global.
Pertanyaan yang Sulit
Namun, di balik semua janji manis dan visi diplomatik tersebut, muncul sebuah pertanyaan fundamental yang sangat sulit untuk dikesampingkan: Apakah rakyat Iran di tanah air benar-benar menginginkan kembalinya Pahlavi ke tampuk kekuasaan? Menjawab hal ini bukanlah perkara mudah, mengingat lanskap oposisi Iran adalah sebuah mosaik yang luar biasa rumit.
Oposisi ini bukanlah satu kesatuan gerakan yang solid dengan satu ideologi tunggal; sebaliknya, ia merupakan perpaduan fragmentaris dari berbagai spektrum, mulai dari kelompok liberal, aktivis sayap kiri, gerakan mahasiswa yang progresif, berbagai kelompok etnis, hingga faksi monarkis dan republikan.
Satu-satunya perekat yang menyatukan kelompok-kelompok yang sangat beragam ini hanyalah satu hal: kemarahan kolektif dan kebencian yang mendalam terhadap rezim yang berkuasa saat ini. Namun, begitu berbicara mengenai masa depan, kesepakatan itu pun sirna. Dalam pandangan publik, sosok Pahlavi diterima dengan persepsi yang sangat terbelah.
Sebagian masyarakat mungkin mengaguminya sebagai simbol sejarah atau figur pemersatu, namun belum tentu bersedia menerimanya kembali sebagai penguasa absolut. Ada yang memandangnya sebagai jembatan diplomatik yang krusial menuju dunia internasional, sementara pihak lain justru masih menyimpan luka sejarah dan melihatnya tak lebih dari seorang pria yang meninggalkan bangsanya di saat-saat paling genting.
Persoalan yang jauh lebih krusial adalah ketiadaan infrastruktur politik yang nyata; Pahlavi tidak memiliki organisasi formal di lapangan, tidak ada partai politik yang terstruktur, dan tidak ada basis massa yang terorganisir di dalam negeri. Kondisi ini membuat segala janji besarnya terdengar seperti retorika yang lebih mudah diucapkan daripada diwujudkan dalam realitas politik yang keras.
Sebagai contoh, mengenai kebijakan normalisasi hubungan dengan Israel; Pahlavi mungkin bisa mempromosikan ide tersebut di hadapan para pemimpin dunia, namun mampukah ia meyakinkan rakyat Iran yang telah terpapar narasi politik berbeda selama puluhan tahun untuk menerima perubahan drastis tersebut? Legitimasi di atas kertas sangatlah berbeda dengan dukungan riil di jalanan Teheran.
Masalah Vakum Kekuasaan
Inilah dilema abadi yang selalu menghantui setiap narasi revolusi atau pergantian rezim: ketidakpastian yang mencekam tentang apa yang akan terjadi setelah debu pertempuran mereda. Memang benar, hampir semua elemen oposisi sepakat bahwa Republik Islam saat ini adalah sistem yang brutal dan korup, namun kesepakatan itu terhenti tepat di titik di mana mereka harus menentukan siapa yang berhak menggantikannya.
Fenomena ini bukanlah anomali yang hanya terjadi di Iran. Sejarah telah memberi kita pelajaran pahit melalui Irak, Libya, dan Afghanistan. Begitu “sang antagonis” berhasil ditumbangkan, muncul pertanyaan eksistensial yang mematikan: Siapa yang akan memegang kendali pemerintahan? Siapa yang mampu meredam kekacauan di jalanan? Dan siapakah yang memiliki mandat untuk menuliskan konstitusi baru?
Realitas politik menunjukkan bahwa kekosongan kekuasaan (power vacuum) adalah jurang yang sangat berbahaya, dan legitimasi bukanlah komoditas yang bisa diimpor begitu saja dari luar negeri. Kita bisa berkaca pada krisis di Venezuela; meskipun Maria Corina Machado menjadi wajah perlawanan yang sangat berani melawan Maduro dan mendapatkan pengakuan luas, ia tetap tidak mampu mengambil alih kekuasaan karena struktur loyalis di bawah Maduro masih memegang kendali penuh atas tuas pemerintahan.
Bayang-bayang kegagalan serupa kini menghantui langkah Reza Pahlavi. Ia mungkin memiliki keyakinan diri untuk kembali memimpin Iran, namun secara objektif, ia berdiri di posisi yang sangat rentan. Ia belum mendapatkan kepercayaan penuh dari Washington, dan di dalam negeri, ia tidak memiliki kendali atas loyalitas militer maupun birokrasi yang ada. Muncul keraguan yang sangat mendasar: Mengapa militer Iran, aparatur pemerintah, atau rakyat yang telah berjuang di garis depan harus tunduk pada seseorang yang telah menghabiskan hampir setengah abad hidupnya di pengasingan?
Pada akhirnya, di manakah posisi Reza Pahlavi dalam peta besar ini? Ia memang tidak sepenuhnya tidak relevan; ia tetap menjadi tokoh yang diperhitungkan. Namun, kebangkitannya menuju takhta bukanlah sebuah kepastian sejarah. Untuk saat ini, Pahlavi hanyalah sebuah simbol yang terjebak dalam ruang tunggu sejarah, menanti momen yang mungkin tidak akan pernah datang.
Sejarah membuktikan bahwa simbol semata tidak akan pernah cukup untuk membangun kembali sebuah bangsa yang hancur. Sebuah negara membutuhkan kekuasaan yang riil dan legitimasi yang diakui secara luas—dan untuk saat ini, Reza Pahlavi masih belum memiliki keduanya.
