Notice: Undefined index: HTTP_REFERER in /home/geotimes/wordpress/wp-content/plugins/Plugin/plug.php on line 23
Ramadhan, Momentum Persaudaraan di Tengah Pandemi | GEOTIMES
Jumat, April 16, 2021

Ramadhan, Momentum Persaudaraan di Tengah Pandemi

Islam dan Trust Society

Ketika pertama kali membuka sebuah berita online, terpampang jelas headline Hasil Riset DailySocial.id: 44% Masyarakat Indonesia Tidak Bisa Mendeteksi Berita Hoax. Ini membuktikan bahwa...

Literasi Rendah, Indonesia Hancur….

Sejak munculnya kemajuan teknologi yang dahsyat di bidang teknologi informasi, berimbas kepada semangat literasi yang semakin rendah.  Warga bumi lebih asyik masyuk dengan gempuran...

Candu Nomophobia

Para pengguna layanan Facebook, Instagram, dan WhatsApp mengalami kesulitan dalam mengakses sosial media beberapa hari terakhir ini. dikarenakan untuk beberapa saat ketiga media sosial...

Dampak Di Masa Depan Korban Perundungan

Maksud hati ingin becanda, namun malah harus berakhir bullying. Siswa salah satu Sekolah Dasar di Bandung pun akhirnya menjadi korban bully. Aksi bully tersebut disebabkan...
Teguh Fachmi
Dosen UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Dunia sedang dilanda pandemi, oleh virus yang berawal dari negeri Cina. Corona namanya, si virus baru yang belum banyak diketahui sebelumnya. Seluruh dunia dibuatnya sibuk. Ribuan korban berjatuhan. Sendi-sendi kehidupan dan ekonomi perlahan lumpuh, ancaman krisis menjadi nyata. Para pemimpin negara bergerak melindungi segenap rakyatnya. Pun tak terkecuali di Indonesia.

Di Indonesia, masyarakat mulai dilanda kepanikan, keresahan, dan ketakutan yang kian hari semakin memburuk. Seluruh gerak kehidupan berubah. Perilaku mulai tak terarah. Rasa panik, takut, dan resah berlebih berubah jadi kewaspadaan yang kalap.

Manusia perlahan mulai hilang sisi kemanusiaanya. Ia dikuasai ketakutannya sendiri hingga menghilangkan potensi akalnya. Keadaan ini semua melahirkan sebuah kewaspadaan kalap yang meniadakan simpati dan empati. Menjadikan dunia ini bak rimba raya yang ngeri.

Sebagian kelompok warga berbondong memborong persediaan makanan dan alat kesehatan pelindung diri, sebagian lagi dibiarkan resah dibuat bingung oleh keadaan. Kelangkaan produk terjadi, harga komoditi naik tinggi.

Pada sebagian kecil wilayah ada petugas kesehatan yang diusir-usir agar tak mendekati wilayah tempat tinggalnya, ada juga keluarga dan korban corona berstatus ODP/PDP distigmatisasi negatif bak aib, pun yang paling menyayat hati dibeberapa daerah jenazah terjangkit virus corona ditolak pemakamannya.

Meski pemerintah telah hadir menenangkan, namun rupanya upaya-upaya yang dilakukan belum dapat seutuhnya meyakinkan rakyat untuk tetap merasa tenang, dan merasa terjamin akan hajat kehidupannya, sehingga dapat percaya diri dalam menghadapi pandemi. 

Dengarkanlah Pendapat Ilmuan

Mengapa terjadi kewaspadaan kalap di tengah pandemi, yang turut merubah masyarakat menjadi seperti bukan manusia, ketakutan dan kewaspadaan buta-nya telah meniadakan simpati dan empati. Menjauhkannya satu sama lain dari ikatan persaudaraan kemanusiaan. Pikiran dan perasaan manusia dikuasai ketakutan tak berasas yang akhirnya meniadakan potensi akalnya. Jika hal ini terus dibiarkan, maka potensi konflik dan kegelisahan akan semakin masif terjadi.

Bila kita abstraksikan hal itu semua mungkin saja terjadi karena kurangnya literasi dari cara pandang masyarakat dalam menyikapi pandemi, terlebih juga rasa takut itu semakin tinggi jika seandainya wabah menyerang diri sendiri atau keluarga sanak famili. Ada banyak hal yang mesti diperbuat agar masyarakat kuat melewati pandemi.

Satu diantara banyak hal itu adalah merubah mindset masyarakat terhadap bencana pandemi, memberikan edukasi mengenai pandemi covid-19, dan terakhir pemerintah harus bisa meyakinkan masyarakat bahwa hajat dan keselamatan hidupnya akan selalu terlindungi juga terjamin selama pandemi.

Dalam tradisi-tradisi pemikiran di sepanjang rentan peradaban, manusia telah mencoba memahami bencana melalui berbagai macam perspektif. Paling tidak manusia melihat bencana melalui tiga perspektif yaitu mitos, agama, dan sains. Mengapa demikian, karena kemampuan berpikir dan berperilaku manusia akan selalu dipengaruhi oleh tiga hal tersebut. Beberapa pemikir menyebut tiga hal itu sebagai tiga tungku penopang peradaban manusia.

Terkait dengan bencana pandemi covid-19, ketiga perspektif diatas akan memberikan gagasan yang penting untuk kita kaji lebih dalam agar kita dapat memahami fenomena yang terjadi di masyarakat dalam menghadapi pandemi saat ini, dan juga agar kita mampu mengetahui bagaimana cara terbaik melewati masa-masa sulit pandemi, yang kemudian bisa membuka perspektif kita supaya lebih bijaksana dalam berpikir dan bertindak.  

Apa yang paling diperlukan masayarakat saat ini supaya bisa berperilaku dengan jernih dalam menghadapi pandemi ialah membuka ruang–ruang sadar untuk melakukan refleksi dengan diri sendiri terkait dengan bencana pandemi. Masyarakat haruslah mampu melihat bahwa pandemi Covid-19 ini bukanlah hal mitis yang bisa diterka-terka tanpa ada pembuktian saintifik.

Maka, masyarakat tidak patut menolak jenazah korban covid-19 hanya karena takut tertular jika dimakamkan dekat pemukimannya, karena hal itu terbukti tidak saintifik alias mitos, juga masyarakat tidak boleh menstigmaisasi negatif korban covid-19 karena alasan-alasan mitos lainnya.

Masyarakat haruslah mampu menempatkan fakta saintifik diatas mitos atau hoax mengenai pandemi. Coba kita ingat-ingat masa di awal-awal wabah ini muncul, banyak sekali mitos atau berita yang tidak benar adanya berseliweran dimedia masa.

Mitos yang paling penulis ingat mengenai covid-19 adalah cuitan akun Twitter dr. Faheem Younnus seorang ahli penyakit infeksi dari USA beliau menulis dalam cuitannya bahwa ia banyak mendengar mitos mengenai covid-19 dan akan segera meluruskannya, mitos pertama yang ditanggapinya adalah bahwa covid-19 akan hilang ketika musim panas tiba, kenyataanya ia menegaskan bahwa virus corona tidak akan hilang meskipun musim panas berlangsung. Covid-19 tidak mengikuti pola cuaca.

Kabar buruknya salah satu petinggi republik ini sempat menyebutkan di media masa bahwa covid-19 tidak akan kuat dengan cuaca di Indonesia, bukannya alih-alih mempersiapkan diri dari jauh-jauh hari mengantisipasi sebelum wabah itu tiba di negeri ini, eh malah sesumbar berkomentar kontroversial.

Narasi Persaudaraan dan Saling Menguatkan Sesama 

Narasi yang perlu dibangun pada saat-saat bencana pandemi seperti sekarang ini adalah narasi persaudaraan dan saling menguatkan terhadap sesama. Kita perlu kekompakan dan sinergitas lintas lapisan masayarakat. Pemerintah, Agamawan, dan saintis perlu bersatu membangun kepercayaan diri masyarakat agar mampu melewati pandemi.

Dan momentum ramadhan ini haruslah kita jadikan waktu untuk dapat memahami bencana pandemi sebagai bagian dari situasi penting yang perlu kita lalui bersama. Seluruh elemen masyarakat perlu mendengarkan saintis dan memberikannya ruang untuk memimpin kita agar mampu melewati masa sulit ini.

Selain itu, kita pun perlu paham bahwa semua yang terjadi di semesta ini termasuk bencana pandemi Covid-19 ini hadir atas kehendak Tuhan yang maha kuasa. Tak ada yang terjadi sesuatu apapun tanpa kehendak yang maha kuasa, satu hal yang perlu kita imani bahwa apapun yang terjadi merupakan kepanjangan tangan dari sang maha kuasa.

Terakhir, dalam suasana Ramadhan karim ini kita mesti saling mengingatkan kembali bahwa bencana pandemi covid-19 ini bukan hanya suatu fenomena yang bisa diuraikan secara saintifik semata, namun jauh lebih daripada itu covid-19 ini mungkin saja memiliki tujuan untuk memberikan peringatan kepada manusia, agar kita semua sadar atas apa yang telah kita perbuat terhadap semesta selama ini. Sudah sepantasnya kita memahami bahwa pandemi covid-19 ini merupakan bagian dari ayat-ayat nyata dari Tuhan yang maha kuasa.

Teguh Fachmi
Dosen UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Daniel Dhakidae, Kekuasaan dan Pelanggaran HAM

“Kekuasaan yang tidak memiliki kehormatan, tidak akan pernah mampu menghadirkan keadilan.” Ungkapan yang keras, menohok hati itu diucapkan oleh Bung Daniel Dhakidae awal tahun 2020...

Generasi Z dan Radikalisme Beragama

Peristiwa ledakan bom di Gereja Katedral Kota Makassar pada 28 Maret 2021 lalu, menggegerkan masyarakat Indonesia. Bukan hanya karena jenis ledakan yang masuk kategori...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Peran Besar Generasi Milenial Menuju Indonesia Maju

Menurut data Badan Pusat Statistika (2020), Indonesia memiliki jumlah penduduk yang cukup tinggi yaitu sekitar 270 juta jiwa dengan tingkat pertumbuhan penduduknya sebesar 1,25%...

Dua Sisi Media Digital Terhadap Budaya Lokal

Mari kita mulai membaca dan sambil memperhatikan sekitar kita tentang Media,Budaya, dan Jati Diri. Mungkin kita sudah mengetahui istilah Globalisasi. Globalisasi itu ditandai dengan...

ARTIKEL TERPOPULER

Gagalnya Kudeta Terhadap Raja Yordania?

Pada 4 April 2021, Panglima Militer Yordania, Mayjen Yousef Huneiti menyatakan bahwa pihaknya telah meminta secara resmi Pangeran Hamzah untuk menghentikan semua kegiatan atau...

Eren Yeager, Kesadaran dan Kebebasan

Pemberitahuan: esai ini terdapat cuplikan cerita Attack on Titan (AoT) episode 73. Pada musim akhir seri AoT, Eren Yeager tampil dengan kondisi mental yang jauh lebih...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Peran Besar Generasi Milenial Menuju Indonesia Maju

Menurut data Badan Pusat Statistika (2020), Indonesia memiliki jumlah penduduk yang cukup tinggi yaitu sekitar 270 juta jiwa dengan tingkat pertumbuhan penduduknya sebesar 1,25%...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.