Rabu, April 21, 2021

Ramadhan dan Spirit Melawan Terorisme

Menyambut Syawal: Harapan Baru Akan “Hoax”

Beberapa tahun belakangan, media sosial Indonesia layak dikatakan “sedang” tidak sehat. Banyak konten-konten yang tidak bermanfaat muncul, fitnah diluncurkan, prasangka buruk diumbar, caci maki...

Menanti Wakil Gubernur DKI Jakarta

Mundurnya Sandiaga Uno sebagai Wakil Gubenur DKI Jakarta terpilih pada 27 Agustus 2018 silam tampak menjadi persoalan yang berlarut panjang. Berbagai lobi politik yang...

Bunuh Diri, Bermula dari Kematian Sosial

Bunuh diri tidak pandang bulu dan mungkin akan selalu ada di kolom berita seperti menu wajib yang mustahil ditinggalkan. Jika datang di momen yang...

Agama dan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan

Secara garis besar, persoalan mengenai AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan), sebenarnya, tidak hanya terbatas pada analisis yang bersifat geofisika-kimiawi. Kita menyaksikan, analisis seputar geofisika-kimiawi...
Naufal Madhure
Penulis Lepas dan Aktivis Forum Libertarian Indonesia, Wilayah Sumenep, Madura.

Ramadhan adalah bulan di mana umat Islam diwajibkan menjalankan ibadah puasa. Sehingga tidak jarang orang menyebutnya sebagai bulan puasa. Ramadhan juga lazim disebut sebagai bulan suci (bulan suci Ramadhan). Melalui ibadah (ritual) puasa, umat Islam diharapkan mampu melakukan penyucian diri dari segala bentuk kedzaliman yang pernah dilakukan pada bulan-bulan sebelumnya.

Pada akhir bulan Ramadhan ini, umat Islam diharapkan dapat kembali pada fitrahnya (kesucian). Meminjam istialh sastrawan Dante sebagaimana dikutip oleh Nurcholish Madjid dalam bukunya “30 Sajian  Ruhani: Renungan di Bulan Ramadhan,” bahwa manusia memulai hidup dalam alam kebahagiaan, alam paradise. Hal ini diamini oleh Islam, bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci).

Tetapi, setelah berinteraksi dengan lingkungan sosial-masyarakatnya, kemudian ia terkontaminasi oleh lingkunagan, di mana ia tumbuh dan terjatuh ke dalam kubangan-kubangan kedzaliman. Dan Dante menyebutnya alam inferno.

Sehingga datanglah bulan Ramadhan sebagai rahmat Allah SWT kepada makhluknya (baca: umat Islam) untuk memberikan kesempatan, agar mereka mem-fitrahkan diri dan bertaubat atas kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukannya. Kemudian Dante menyebutnya sebagai proses di alam purgatorio.

Bulan Ramadhan juga lazim disebut bulan seribu bulan. Karena pada bulan ini terdapat apa yang disebut lailatul qadar. Dan barang siapa yang mampu beribadah di bulan ini, terlebih di malam lailatul qadar, maka dia akan mendapatkan pahala, laksana pahala orang-orang yang beribadah selama seribu bulan. Sungguh, bulan ini merupakan bulan yang penuh rahmat dan penuh kesucian.

Tapi menjadi ironi bagi kita (umat Islam), ketika bulan suci Ramadhan ini disambut oleh rentetan aksi terorisme, yang berupa peledakan bom bunuh diri di tiga Gereja Surabaya, Rusunawa Wonocolo dan Mapolrestabes Surabaya.

Menurut keterangan polisi, rentetan teror (bom bunuh diri) di Surabaya ini didalangi oleh Jamaah Ansharut Daulah (JAD), yaitu kelompok terkait ISIS yang berafiliasi pada ISIS yang beroperasi di Indonesia. Menurut pengamat teroris, Harits Abu Ulya, serangan bom bunuh diri di Surabaya dilakukan untuk menunjukkan eksistensi dari kelompok teror dan membuat kacau situasi dan kondisi sosial-politik di Indonesia (CNNIndonesia, 14/05/2018).

Sungguh sangat disayangkan, karena pelakunya merupakan keluarga muslim dan kejadiaannya terjadi di Surabaya, Jawa Timur, yang masyhur dengan kota yang menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan dan kedamaian dan merupakan centra Islam moderat. Islam yang menghargai perbedaan dan perdamaian.

Menurut kacamata pandang saya, aksi terorisme ini lazim terjadi dikarenakan sempitnya pemahaman keagamaan (tanpa ada maksud menjustifikasi bahwa agama-agama, khususnya Islam mengajarkan paham terorisme). Ini murni akibat kesalahan memahami ajaran agamanya (baca: Islam).

Terorisme berawal dari konsep takfiri dan jihad yang direduksi maknanya, sesuai dengan pemahaman dan kepercayaannya. Takfiri merupakan suatu ideologi yang mengakfirkan terhadap sesama Islam di luar kelompoknya atau terhadap agama lain.

Doktrin takfiriyah ini dipicu boleh cara pandang keagamaan yang eksklusif (tertutup). Eksklusifisme ini memandang kelompok lain sebagai kelompok yang salah dan hanya diri dan kelompoknyalah yang benar. Sehingga lahir apa yang disebut absolute truth claim (klaim kebenaran mutlak). Dan tidak pernah membuka ruang dialog terhadap kelompok di luar dirinya.

Kemudian, pada akhirnya doktrin takfiriyah ini menharuskan jihad dalam maknya yang tereduksi. Jihad dipahami sebagai usaha membunuh dan berperang melawan orang dan keklompok yang dianggapnya kafir. Dan barang siapa mati di medan jihad tersebut akan mati syahid dan masuk ke dalam Surga, dengan ditemani para Bidadari.

Padahal makna jihad itu universal, lebih luas dari pada apa yang dipahami oleh mereka (baca: teroris). Dalam konteks ke-Indonesiaan dewasa ini, konsep jihad lebih shahih, papabila dimaknai sebagai suatu usaha yang sungguh-sungguh dalam melakukan  kebaikan dan menebarkannya ke lingkungan sekitar, dimana ia hidup.

Maka sudah sepatutnya, di bulan Ramadhan ini, kita ciptakan di dalam diri kita, spirit melawan terorisme. Paham yang meyakini kekerasan (aksi teror) sebagai satu-satunya jalan jihad, yang diyakini sebagai suatu kewajiban yang harus ditunaikannya, untuk membasmi kelompok-kelompok yang mereka anggap kafir.

Di bulan yang suci ini, mari kita sucikan pikiran dan paham (keagamaan) kita dari eksklusifitas yang berpotensi melahirkan radikalisme, dan hingga terorisme. Karena hal itu tidak hanya bahaya pada dirinya, tetapi juga bahaya terhadap orang lain.

Melawan terorisme bukan berarti membasmi para teroris, tetapi melawan paham (terorisme) yang menjadikan seseorang menjadi teroris. Yaitu paham yang telah disebutkan saya di atas. Pertanyaannya, dengan apa kita melawan terorisme? Karenma terorisme merupakan suatu paham, maka ia juga harus dilawan dengan paham.

Kita harus mampu menawarkan paham di luar (paham) terorisme. Dalam hal ini, paham yang paling absah kita tawarkan adalah (Islam) moderat (isme). Yaitu paham yang menjadikan inklusifitas sebagai pijakan dalam melangkah. Paham yang membuka ruang dialog seluas-luasnya dan sebebas-bebasnya terhadap orang dan kelompok di luar dirinya.

Dengan inklusifitas ini, diharapkan kesalahpahaman diantara kelompok, baik agama dan aliran dapat diminimalisir, dan syukur, jika dapat dihilangkan. Sehingga doktrin takfiriyah dan konsep jihad dalam arti yang sempit tidak lagi menjadi penyebab lahirnya terorisme.

Jika spirit melawan terorisme ini tertanam dalam diri anda dan mampu diaktualisasikan ke dalam kehidupan sosial-masyarakat, dimana kita hidup, maka Ramdhan kali ini benar-benar menjadi bulan yang suci dan membawa rahmat.

Naufal Madhure
Penulis Lepas dan Aktivis Forum Libertarian Indonesia, Wilayah Sumenep, Madura.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Lobi Lebanon terhadap Rusia Upaya Keluar dari Krisis Ekonomi

Pada 15-16 April 2021, Perdana Menteri (PM) Lebanon Saad Hariri melakukan kunjungan ke Moskow dalam rangka meminta dukungan dan bantuan ekonomi kepada pemerintah Rusia....

Apa yang Menanti Setelah Animal Symbolicum?

“Alam semesta aslinya tunggal, diam, dan seragam. Hanya tampak luarnya saja yang mengesankan perbedaan atau perubahan”, Zeno dari Elea yang juga diamini Parmenides (Dowden,...

Kado Ulang Tahun ke-46, Taman Mini Mau Dibawa Kemana?

20 April 2021 merupakan hari ulang tahun ke-46 Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Momentum ulang tahun yang biasanya dirayakan secara meriah dan dikemas...

Enigma dalam Bukit Algoritma

Narasi 4.0 telah membawa kita semua ke sebuah era di mana digitalisasi semakin menjamah di segala aspek kehidupan. Hal ini membuat terdorongnya beragam inovasi-inovasi...

Memikirkan Ulang Sistem Parlementer

Setelah lima pemilihan umum berjalan demokratis, saatnya kita bicara tentang bagaimana cara memperkuat demokrasi dan melahirkan stabilitas kebijakan dan politik jangka panjang. Inilah saat paling...

ARTIKEL TERPOPULER

Malam yang Panjang di LBH dan Dendam Imajiner yang Lebih Panjang

Minggu, 17 September 2017. Hari itu, saya kira saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan bersama orang terkasih. Seperti hari-hari Minggu pada wajarnya, romantis...

Memikirkan Ulang Sistem Parlementer

Setelah lima pemilihan umum berjalan demokratis, saatnya kita bicara tentang bagaimana cara memperkuat demokrasi dan melahirkan stabilitas kebijakan dan politik jangka panjang. Inilah saat paling...

Menyambut Bulan Ramadhan dengan Penerapan Nilai-Nilai Pancasila

Bulan suci ramadhan tinggal menghitung hari. Pemerintah akan segera menetapkan awal puasa 1 Ramadhan 1440 H. Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia...

Kartini Masa Kini

Setiap tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini oleh bangsa Indonesia. Tanggal tersebut merupakan tanggal lahir R.A. Kartini pahlawan yang berjuang untuk emansipasi wanita....

Belajar di Sekolah Kembali? Mari Kurangi Kekhawatiran Kita

Pemerintah Indonesia berencana membuka sekolah lagi di bulan Juli 2021. Ini kabar menggembirakan, mengingat bahwa bagi beberapa anak, pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar dari...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.