OUR NETWORK
Kamis, Desember 2, 2021

RA Kartini Menangis, Kenapa?

Wawan Kuswandi
Pemerhati komunikasi massa, founder blog INDONESIAComment, mantan editor Newsnet Asia (NNA) Jepang dan penyuka sambal

Euforia peringatan hari Kartini setiap tanggal 21 April selalu menggelegar di langit Indonesia. Seluruh kaum perempuan dari Sabang sampai Merauke bersuka cita merayakan spirit emansipasi yang dicetuskan Kartini.

Tak hanya perempuan dewasa, gadis-gadis cilikpun ikut memeriahkan hari Kartini dengan berbagai aktivitas yang unyu-unyu dan unik, seperti memakai baju adat tradisional dan rambut berkonde ala Kartini.

Tapi sayangnya, pada saat hari peringatan berlangsung, justru RA Kartini menangis, Kenapa? Sebelum menjawab pertanyaan di atas, saya mencoba menelusuri tafsir emansipasi dari berbagai referensi. Mudah-mudahan artikel ini bisa memberi jawaban, mengapa sang emansipator menangis.

Setahu saya, kelompok feminis adalah sekumpulan komunitas wanita yang paling getol mendorong kaum wanita untuk aktif di luar rumah. Mereka menggebu-gebu menyuarakan kesetaraan gender antara wanita dan pria dalam berbagai aktivitas sosial. Gerakan massif kelompok feminis ini pertama kali muncul di Eropa dan melahirkan gerakan perlawanan wanita terhadap fungsi sosialnya.

Munculnya gerakan feminisme bagaikan sesosok Ratu Adil yang hadir membawa perubahan sosial bagi wanita. Secara blak-blakan, gerakan feminisme pernah menegaskan bahwa wanita tidak mempunyai kodrat hakiki berdasarkan gender. Bahkan, gerakan feminisme melontarkan analogi ekstrem tentang fungsi sosial wanita, diantaranya ialah wanita juga punya hak untuk menolak menyusui (ASI) anaknya.

Pria tidak hamil, maka wanita juga berhak menolak ‘dihamili’, walaupun oleh suaminya sendiri. Semua profesi yang diemban pria, seperti astronot atau menteri juga menjadi hak milik wanita. Sungguh luar biasa gerakan feminisme ini. Lantas apakah gerakan feminisme identik dengan spirit emansipasi yang dipelopori RA Kartini? Mari kita renungkan bersama.

Dari sejumlah hasil penelitian di Eropa yang saya baca, ternyata kata emansipasi sudah ada sejak tahun 1613. Bahkan, sesungguhnya kata emansipasi sama sekali tidak ada hubungannya dengan kesetaraan gender yang dipropagandakan kelompok feminis.

Sedangkan kata feminis baru muncul tahun 1895. Kata feminis, cenderung berkonotasi sebagai pembebasan diri wanita dari status sosialnya yang statis menjadi lebih dinamis dalam pergaulan sosial. Gerakan feminisme ini, bisa ditelusuri sejarah kelahirannya di negara-negara Eropa yang dipelopori oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condorcet.

Dalam perkembangannya, gerakan feminisme ini melaju pesat di abad ke 20. Mereka meneriakkan persamaan hak politik bagi perempuan. Mary Wollstonecraft dalam sebuah tulisannya yang berjudul A Vindication of The Rights of Woman, mengeritik bahwa terjadinya Revolusi Prancis bukan hanya berlaku untuk laki-laki, tapi juga untuk perempuan.

Sedangkan kata emansipasi, justru berpijak kepada fungsi dan peran seorang perempuan secara personal, khususnya dalam kehidupan rumah tangga. Satu abad setelah gerakan feminisme pecah di Eropa, RA Kartini pun ikut menyuarakan tentang status sosial perempuan Jawa yang dinilainya tidak pernah mendapat kesempatan mengecap pendidikan yang lebih tinggi sekaligus mendobrak peran tradisional perempuan Jawa.

Emansipasi Kartini lahir sebagai bentuk kritik terhadap budaya Jawa yang ketika itu hanya menempatkan seorang perempuan sebagai pendamping pria dalam konteks fungsi tradisional. Dalam bahasa gampangnya, perempuan hanya mengurus rumah tangga, melayani kebutuhan laki-laki dan mengurus anak.

Padahal, mungkin ketika itu, Kartini juga ingin para perempuan Indonesia, khususnya dari etnis Jawa dapat terdidik secara akademis. Tujuannya ialah agar perempuan Indonesia bisa memberikan sumbangsih pemikiran kepada para pejuang dalam menghadapi penjajah.

Kartini tak pernah mengungkapkan bahwa emansipasi adalah sebuah kesetaraan gender antara wanita dengan pria. Sampai saat ini, maksud dari emansipasi Kartini, masih menjadi misteri. Namun, di zaman now, emansipasi Kartini, justru  diterjemahkan sebagai wujud kesetaraan gender antara laki-laki dan wanita dalam berbagai fungsi sosial.

Kesetaraan gender yang didengungkan kelompok feminis, mungkin bertolak belakang dengan spirit emasipasi Kartini. Pemikiran emansipasi Kartini justru merupakan sebuah refleksi sekaligus sebagai otokritik bagi perempuan, khususnya perempuan Jawa agar berani melepaskan dari dari tekanan budaya Jawa yang waktu itu sangat ofensif.

Kartini ingin perempuan Indonesia memiliki kebebasan berpikir dan berpendapat dalam ruang sosial, namun tetap berakar pada rasionalitas serta mampu memisahkan antara kepentingan sosial dan kebutuhan personal. Nah, untuk mengetahui apa yang maksud dengan emansipasi ini, saya mencoba kongkow imajiner dengan RA Kartini. Berikut petikan obrolan tersebut.

Kartini  terdiam, saat saya menanyakan apa maksud dari emansipasinya. Wajahnya tertunduk lunglai. Dua bongkah airmatanya yang bening meleleh dan jatuh menyentuh bumi. Tak ada sepatah  kata pun keluar dari mulutnya. Perlahan pikiran saya menerawang mencoba mencari tahu  apa yang membuatnya menangis.

Gelap mulai rapat memeluk malam. Simponi desir angin dan bebunyian binatang senja  terdengar pelan menyambut  jejeran kilauan bintang-bintang yang menari di langit. Kartini  terus menangis. Saya tak sanggup lagi melanjutkan kongkow dengan tokoh emansipasi ini.

“Maaf,…saya tidak bisa melanjutkan dialog ini,” suara lembut Kartini terdengar lirih membasuh hening yang tak bertepi. Saya diam dan tak berani memandang wajahnya.

“Sebagai gantinya, saya akan menulis surat. Tolong sampaikan isi pesan surat ini kepada  semua  perempuan Indonesia,” ucapnya pelan. Saya hanya mengangguk. Kartini pun mulai menulis  surat sambil sesekali suara isak tangis kecilnya merayap membelah sepi. Setelah itu, Kartini  memberikan suratnya kepada saya.

Kemudian dia mohon pamit. Kartini berjalan gontai memasuki sebuah pintu besar berukir penuh cahaya dan menebarkan wewangian yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya. Dalam sekejap, Kartini menghilang dari pandangan saya. Inilah surat Kartini.

Buat Perempuan Indonesia                      

Saya bersyukur menjadi perempuan Indonesia yang penuh warna. Saya percaya bahwa perempuan Indonesia akan selalu menjadi perempuan sejati  dalam  keluarga. Pelihara dan jagalah hak hakiki perempuan dengan sebenar-benarnya.

Jadilah seorang ibu yang ikhlas untuk membimbing moral anak-anak  yang kelak bisa membawa kebermanfaatan hidupnya bagi Indonesia dan kepada sesama makhluk hidup ciptaan Tuhan. Dampingilah para suami dengan tulus dan sabar.

Dekatkanlah jiwa dan ragamu dengan ruh keluargamu. Tunaikanlah kewajiban dan kasih sayangmu untuk keluarga. Ketahuilah bahwa emansipasi yang kutitipkan kepadamu hanyalah sebuah proses pelepasan diri dari kungkungan budaya dan kebodohan. Emansipasi bukanlah sebuah persamaan hak yang terlampau jauh yang bisa melalaikan kodrat keperempuananmu.  

Jadilah perempuan Indonesia yang selalu berguna  bagi keluargamu dan bangsa Indonesia untuk selama-lamanya. Semoga Sang Maha Cahaya meridhoi semua perjalanan  perempuan Indonesia. Aamiin…

Salam,

RA Kartini  

 

Wawan Kuswandi
Pemerhati komunikasi massa, founder blog INDONESIAComment, mantan editor Newsnet Asia (NNA) Jepang dan penyuka sambal
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.