Notice: Undefined index: HTTP_REFERER in /home/geotimes/wordpress/wp-content/plugins/Plugin/plug.php on line 23
Presentasi Gaya Generasi Milenial | GEOTIMES
Jumat, April 16, 2021

Presentasi Gaya Generasi Milenial

Revolusi Industri 4.0 Merubah Format Kehidupan

Revolusi industri 4.0 secara umum bisa digambarkan dalam ungkapan “internet of think” menurut Nurunniyah salah seorang Dosen Universitas Alma Ata Yogyakarta. Hal ini menandai...

Berjamaah Melawan Korupsi

Fenomena korupsi di Indonesia, tampaknya sudah mencapai titik nadir. Kasus korupsi e-KTP yang diduga melibatkan sejumlah anggota DPR dan pejabat negara lainnya, merupakan kasus...

Tentang Makan, Dulu, Kini, dan Nanti

Di periode awal peradaban manusia, makan dimaknai sederhana, sekadar pemenuhan kebutuhan bertahan hidup. Sumber makanan diperoleh dari apapun yang bisa diperoleh dari alam. Lalu...

Sudah pasti Jokowi kalah di 2019

Kurang dari 600 hari lagi masyarakat indonesia kembali akan mengulang sejarahnya dengan melaksanakan pemilihan presiden. Dari data yang ada di tahun 2014, pemilih yang...
Meidiansjah Wantasen
Mahasiswa Akuntansi dari Universitas Samratulangi Manado.

Bagi sebagian besar orang mungkin tidak asing lagi dengan kata presentasi. Ya, presentasi adalah suatu kegiatan berbicara di hadapan banyak orang atau salah satu bentuk komunikasi kepada para audience atau bisa diartikan kegiatan pengajuan suatu topik, pendapat atau informasi kepada orang lain.

Presentasi berbeda dengan pidato, pidato lebih sering dibawakan dalam acara-acara resmi, presentasi lebih sering dibawakan dalam dunia sekolah, bisnis, dan dunia kerja.

Sejak kita di bangku SMA kita semua pernah melakukan presentasi baik itu dalam kelas ataupun dalam ruang lingkup organisasi mulai dari rohis, oasis, dan lain-lain sampai akhirnya kita masuk ke dalam dunia perkuliahan yang tentu sudah tidak asing lagi dengan kegiatan presentasi baik itu perorangan ataupun berkelompok.

Namun untuk membuat presentasi yang memukau ada beberapa syarat, seperti presentasi yang dibawakan harus lancar, penuh rasa percaya diri, dan menguasai seluruh apa yang akan disampaikannya. Namun sepertinya syarat-syarat diatas sudah jarang kita temui di zaman sekarang khususnya dalam ranah lingkup sekolah.

Banyak orang yang melakukan presentasi tanpa ada rasa percaya diri, dibawakan dengan penuh rasa kaku, serta ada juga yang tidak mengerti dengan apa yang disampaikannya, saya merasa hal ini cukup unik untuk dibahas mengapa bisa terjadi demikian?

Semua ini ada hubungannya dengan perkembangan teknologi yang ternyata bisa menghilangkan budaya suka membaca dalam diri para pelajar dan mahasiswa hari ini, akibatnya, presentasi di zaman sekarang itu sudah kehilangan esensi nya.

Seiring berjalannya waktu, sepertinya kata Power Point sudah tidak bisa dipakai lagi di era sekarang ini terlebih dalam dunia kampus khususnya para mahasiswa itu sendiri. Bagaimana tidak, presentasi yang seharusnya menampilkan poin-poin inti dari pembahasan malah menampilkan sekumpulan teks layaknya cerpen yang dibacakan ketika didepan kelas

Buang-buang waktu saja kita mendengarkan cerpen yang dibacakan oleh beberapa orang didepan kelas padahal cerpen itu bisa kita baca sendiri melalui slide. Lalu, apa bedanya antara audience dan pemateri?

Kalau seperti ini eksistensi presentasi yang terjadi hari ini, maka penulis rasa seorang anak kecil yang masih duduk di bangku sekolah dasar bisa disuruh untuk membaca slide yang terpampang begitu jelas didepan mata karena presentasi di era digital modalnya hanya satu yaitu tahu membaca.

Dalam sebuah presentasi juga ada bagian sesi tanya jawab, dan itu merupakan hal yang biasa untuk memaksimalkan materi yang disampaikan pe materi kepada audience agar bisa dimengerti secara keseluruhan.

Mula-mula pemateri membuka sesi tanya jawab kepada audience dan untuk audience yang ingin bertanya silahkan ajukan pertanyaan. Presentasi yang baik itu adalah setelah pertanyaan dilontarkan oleh audience dan langsung ditanggapi dengan jawaban yang kompleks oleh pe materi.

Namun lain halnya presentasi yang dilakukan generasi milennial sekarang ini, alih-alih menjawab pertanyaan yang dilontarkan, pe materi malah mencari jawaban di gadget nya melalui bantuan Google. Hal ini sangat kontradiksi dengan syarat presentasi memuaku yang telah penulis paparkan diatas yaitu salah satunya pe materi harus menguasai materi yang dibawakannya.

Ketika pertanyaan dilontarkan kemudian pe materi tidak bisa menjawab, maka bisa disimpulkan presentasi itu gagal ditambah lagi dengan  kurangnya kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik dan benar. Hal itu muncul karena menurunnya sikap kritis dalam diri mahasiswa untuk menggali sebuah informasi tentang suatu hal.

Lantas apa yang membuat orang-orang hari ini menjadi pribadi yang apatis terhadap sesuatu? Mungkin salah satu dari sekian banyak jawaban adalah kemajuan teknologi. Ya, hari ini manusia telah dimanjakan dengan teknologi yang dimana bisa mempermudah segala urusan manusia.

Di era digital ini semua telah dimanjakan oleh kecanggihan teknologi yang mengakibatkan menurunya sikap ingin tahu dalam diri mahasiswa itu sendiri. Semua hal telah tersedia di internet, hanya bermodalkan kuota semua orang bisa mengakses apapun yang ingin dicarinya. Akibatnya timbulnya rasa apatis dalam diri individu itu sendiri.

Sikap apatis ini yang menyebabkan rata-rata kaum milenial suka terima apa adanya segala sesuatu tanpa menggali lebih jauh khususnya dalam pembahasan kali ini yaitu  materi atau hal yang akan ingin dipaparkannya dalam presentasi tanpa perlu belajar lagi. Padahal hal itu sangat miris ketika dimiliki oleh seorang mahasiswa.

Apalagi mahasiswa merupakan sosial control dalam kehidupan bermasyarakat jika mahasiswa bersikap apatis, acuh, dan tidak mau tahu maka apa yang akan terjadi dengan kehidupan kita di masa yang akan datang?

Di sini pentingnya peran guru serta para dosen untuk lebih mengarahkan dan melatih anak didiknya menjadi lebih profesional dalam menjalankan sesuatu dan juga kesadaran pada diri mahasiswa  itu sendiri bahwa ia sudah bukan siswa lagi melainkan siswa yang telah diberi kata Maha.

Meidiansjah Wantasen
Mahasiswa Akuntansi dari Universitas Samratulangi Manado.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Daniel Dhakidae, Kekuasaan dan Pelanggaran HAM

“Kekuasaan yang tidak memiliki kehormatan, tidak akan pernah mampu menghadirkan keadilan.” Ungkapan yang keras, menohok hati itu diucapkan oleh Bung Daniel Dhakidae awal tahun 2020...

Generasi Z dan Radikalisme Beragama

Peristiwa ledakan bom di Gereja Katedral Kota Makassar pada 28 Maret 2021 lalu, menggegerkan masyarakat Indonesia. Bukan hanya karena jenis ledakan yang masuk kategori...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Peran Besar Generasi Milenial Menuju Indonesia Maju

Menurut data Badan Pusat Statistika (2020), Indonesia memiliki jumlah penduduk yang cukup tinggi yaitu sekitar 270 juta jiwa dengan tingkat pertumbuhan penduduknya sebesar 1,25%...

Dua Sisi Media Digital Terhadap Budaya Lokal

Mari kita mulai membaca dan sambil memperhatikan sekitar kita tentang Media,Budaya, dan Jati Diri. Mungkin kita sudah mengetahui istilah Globalisasi. Globalisasi itu ditandai dengan...

ARTIKEL TERPOPULER

Gagalnya Kudeta Terhadap Raja Yordania?

Pada 4 April 2021, Panglima Militer Yordania, Mayjen Yousef Huneiti menyatakan bahwa pihaknya telah meminta secara resmi Pangeran Hamzah untuk menghentikan semua kegiatan atau...

Eren Yeager, Kesadaran dan Kebebasan

Pemberitahuan: esai ini terdapat cuplikan cerita Attack on Titan (AoT) episode 73. Pada musim akhir seri AoT, Eren Yeager tampil dengan kondisi mental yang jauh lebih...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dua Sisi Media Digital Terhadap Budaya Lokal

Mari kita mulai membaca dan sambil memperhatikan sekitar kita tentang Media,Budaya, dan Jati Diri. Mungkin kita sudah mengetahui istilah Globalisasi. Globalisasi itu ditandai dengan...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.