OUR NETWORK
Rabu, Juli 28, 2021

Pesan untuk Para Pemimpin dari Imam Al Ghazali

Joko Yuliyanto
Penulis buku Kaum Minor. Penggagas Komunitas Seniman NU. Alumni Mahasiswa Universitas Sebelas Maret.

Dalam Islam, pemimpin mempunyai banyak istilah, di antaranya, rain, syekh, imam, umara’, kaum, wali, dan khalifah. Istilah rain merupakan arti pemimpin yang merujuk pada hadis Nabi saw yang berbunyi:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ اْلْ ِمَامُ ر

Artinya; “setiap kalian adalah pemimpin, dan kalian akan dimintai pertanggung  jawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Shahih Muslim)

Dalam hadis ini, rain memiliki arti pemimpin yang lingkupnya sangat luas. Tidak terbatas kepada pemimpin yang memiliki jabatan di pemerintahan. Diri ini juga pemimpin atas tubuh sendiri, sedangkan istilah syekh memiliki pengertian kepala suku, pemimpin, tetua, atau ahli agama Islam.

Saat ini kita menyaksikan demonstrasi dari berbagai daerah. Menyatakan kekurangsetujuannya terhadap kebijakan yang diambil pemerintah. Rakyat yang merasa dikecewakan oleh wakilnya dan pemimpinnya. Sehingga tidak dapat dielakan terjadi kekerasan dan kerusuhan di kota-kota besar Indonesia. Berikut ini adalah beberapa pesan Al Ghazali dalam Kitab Nasihatul Al-Muluk.

Sangat langka pada saat orang sedang berkuasa sadar dan sembuh dari mabuk tahta dan kekuasaannya, serta memperlakukan pegawai dengan adil dan baik. Tanda-tanda orang mabuk tahta yaitu saat pemimpin menyerahkan jabatan menteri kepada orang yang sangat dibutuhkan. Jabatan itu tetap dipertahankan sampai keperluan penguasa terpenuhi. Setelah itu jabatannya dicopot dan mengangkat orang lain sebagai penggantimya.

Apakah baginda tidak mengetahui bahwa nikmat paling besar, setelah nikmat Islam adalah nikmat kesehatan dan ketentraman. Rasa aman ini dapat tercipta hanya dengan siyasat politik seorang pemimpin. Maka dari itu, seorang pemimpin mesti menggunakan siyasat politik yang harus dilaksanakan dengan cara yang adil. Seorang pemimpin adalah khalifah Allah di muka bumi.

Setiap pemimpin yang mengambil sesuatu dari rakyat dengan curang dan gashab, seperti seorang yang membangun fondasi sebuah pagar, tetapi ia tidak sabar hingga fondasi itu selesai, kemudian ia meletakan bangunan di atasnya, maka fondasi itu runtuh, begitu juga dengan bangunan di atasnya.

Seorang pemimpin sebaiknya bersifat tenang serta beribawa, tidak selayaknya raja menyenangkan hati serta tergesa-gesa. Menurut orang bijak ada tiga hal buruk tetapi tiga hal yang berikut ini lebih buruk lagi yaitu; marah bagi para raja, rakus terhadap dunia, dan kikir bagi para orang kaya.

Orang yang jujur ada tiga macam; para Nabi, para raja, dan orang yang gila. Sakr diartikan dengan gila, padahal arti yang sesungguhnya takut mabuk, karena mabuknya orang gila bersifat batin, sedangkan gilanya orang yang mabuk bersifat lahir. Celaka bagi orang selalu dalam keadaan mabuk dan lalai. Seperti dalam syair berikut ini:

Jika seorang mabuk karena meminum khamrIa tidak akan menanggung malu setelah kembali sehatSedangkan orang yang mabuk tahtaIa menjadi waras jika kekuasaan telah melayang darinya.

Ada empat hal kewajiban para pemimpin. Pertama, menjauhkan orang-orang bodoh dari pemerintahannya. Kedua, membangun negara, merekrut kaum intelektual, dan yang berpotensi. Ketiga, menjaga para ulama dan bijaksana. Keempat, melakukan uji coba dan meningkatkan kemajuan negara dengan melakukan penertiban dan pembersihan terhadap segala tindak sengaja.

Seorang pegawai para pemimpin, seharusnya bersikap seperti yang dikatakan penyair berikut:

Jika anda menjadi pembantu penguasa, maka pakailah pakaian takwa kebanggaandan jika anda masuk (istana), masuklah dengan mata terpejamdan jika keluar, keluarlah dengan mulut membisu.

Orang yang berfoya-foya bersama pemimpin, maka sesungguhnya telah menganiaya dirinya sendiri, walaupun dia anak seorang pemimpin. Dalam keadaan apapun, para pegawai pemerintahan, tidak dibenarkan berfoya-foya bersama para pemimpin. Sebagaimana kata syair berikut:

Jika dirimu terpaku oleh hidangan lezat seorang pemimpin,Hindarkanlah jika keselamatan dirimu lebih kau diutamakan.

Perumpamaan orang yang berfoya-foya bersama pemimpin, seperti seorang pengumpul ular yang selalu hidup bersama ular-ular, makan dan tidur bersamanya. Seumpama seorang yang dikepung buaya-buaya ganas ditengah lautan, sehingga dirinya selalu dalam keadaan terancam bahaya.

Celakalah orang yang terlena oleh persahabatan dengan para pemimpin. Sebab biasanya mereka adalah orang-orang yang tidak mengenal kawan, kerabat, pegawai, anak, dan tidak menghargi seseorang, kecuali yang mereka perlukan, baik karena ilmu maupun karena keberaniannya. Namun, setelah kebutuhan mereka terpenuhi maka tidak ada lagi bagi mereka rasa kasih sayang, tepat janji, maupun rasa malu.

Pekerjaan yang paling sering mereka lakukan adalah memandang kecil dosa besar yang mereka lakukan dan memandang besar dosa kecil yang dilakukan orang lain. Sufyan berkata, “Janganlah kamu bersahabat dengan pemimpin dan janganlah kamu menjadi pegawainya. Sebab jika kamu patuh kepadanya, maka ia akan membuatmu lelah. Sementara jika kamu menentangnya, ia akan membunuh dan memusnahkan kamu”.

Masa sekarang ini adalah zaman yang kurang menguntungkan. Manusia selalu berbuat kejahatan, sementara kaum intelektual dan para pemimpin menyibukan diri dengan urusan dunia, gemar menumpuk dan mencintai harta kekayaan, karena itu seseorang tidak dibenarkan lengah dan lari di tengah keburukan manuisa.

Rasulullah saw bersabda; “Adil adalah bagian dari agama, dan dalam keadilan terletak kebaikan seorang penguasa dan orang awam. Dalam keadilan juga terletak kebaikan rakyat, kesejahteraan, dan kesehatan mereka. Segala sesuatu akan ditimbang dengan timbangan keadilan.”

Allah berfirman; “Dan Allah telah meninggikan langit dan meletakan neraca (keadilan)” (QS. Ar-Rahman: 7).

Setiap pemimpin harus berlaku adil dan melakukan penyelidikan secara seksama mengenai keputusan politik yang ditetapkan sehingga keputusan itu dapat dilaksanakan secara merata. Betapapun siyasat pemimpin, keadilan dan ketajaman pemikirannya dapat saja terkalahkan oleh suap dan lenyaplah kekuasaan. Hal ini dapat terjadi sebab kelalaian dan kecerobohan pemimpin. Oleh karena itu, seorang pemimpin mesti berusaha sekuat tenaga untuk membenahi kekurangannya.

Sekiranya seorang pemimpin tidak mempersulit penjagaan, tentu tidak aka nada petugas pemerintahan berani berbuat zalim kepada rakyatnya. Rakyatpun tidak akan berani saling bertindak zalim.

Seorang pemimpin harus membantu rakyatnya yang dalam keadaan sulit dan sangat kesusahan, terutama dalam masa paceklik dan resesi ekonomi. Di mana rakyat terhimpit kesulitan hidup dan tidak mampu mengembangkan usaha. Dalam keadaan demikian seorang pemimpin harus memberikan bantuan kepada rakyat dalam bentuk pangan dan harta kekayaannya.

Referensi

Al Ghazali, Al-Tibr al-Masbuk fi Nasihat Al-Muluk. T. Munfaridah: 2006

Joko Yuliyanto
Penulis buku Kaum Minor. Penggagas Komunitas Seniman NU. Alumni Mahasiswa Universitas Sebelas Maret.
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.