Senin, April 15, 2024

Pesan dari Sudan Menyambut 2024

Muhammad Utama Al Faruqi
Muhammad Utama Al Faruqi
Pemerhati isu-isu sosial keagamaan. Peminat dunia pendidikan dan sejarah.

Beberapa hari terakhir, berita internasional di berbagai media menampilkan pemberitaan terkait konflik saudara yang terjadi di Sudan. Sudan sendiri merupakan sebuah negara yang terletak di timur laut benua Afrika. Walaupun termasuk benua Afrika, dan penampilan rata-rata penduduk aslinya nampak seperti ras negro, sebenarnya penduduk Sudan termasuk dalam ras Arab dan mayoritas beragama Islam. Penduduk Sudan dengan ras negroid adalah penduduk Sudan Selatan, negara yang baru berdiri 9 Juli 2011 setelah konflik panjang dengan negara Sudan.

Penamaan Sudan sendiri berasal dari bahasa Arab : suudan-sawad-aswad, yang bermakna “hitam” merujuk pada kecenderungan warna kulit mayoritas penduduknya, dengan penamaan yang masyhur di kalangan masyarakat Arab sebagai “Bilaad as-Sudan” atau “negerinya orang-orang berkulit hitam”.

Pada era pemerintahan Utsman bin Affan, wilayah Sudan disebut sebagai wilayah “an-Noubah”. Penduduk Sudan mayoritas memeluk agama Islam lebih dari 90 persen. Sejarah Sudan modern lebih dikenal dengan banyaknya konflik yang terjadi. Walaupun cenderung lebih aman dibandingkan dengan negara-negara lain di sekitarnya seperti Suriah dan Iraq. Akan tetapi sepertinya konflik Sudan tidak terlalu diangkat menjadi isu publik seperti halnya Palestina, Suriah atau negara lainnya.

Selama sepekan sejak meletusnya konflik berdarah sejak hari Sabtu, 15 April 2023 atau bertepatan dengan 24 Ramadhan 1444 Hijriyah, tercatat sekitar 314 orang meninggal dunia, serangan ke arah lingkungan kampus, bandara internasional diambil alih kelompok pemberontak Rapid Support Force (RSF), beberapa pesawat dihancurkan, suasana hari raya Idulfitri yang sangat mencekam hingga Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dan beberapa negara lain mengambil respon cepat untuk mengevakuasi warga negara masing-masing dari Sudan.

Beberapa kalangan masyarakat Indonesia yang belum mengetahui seluk beluk Sudan akan mempertanyakan keberadaan sejumlah Warga Negara Indonesia di negeri yang seringkali terjadi konflik tersebut. Karena jika dengan melihat kondisi ekonomi Sudan, dibandingkan dengan kondisi ekonomi sekaligus sosial di tanah air, rasanya lebih layak untuk mensyukuri kondisi yang ada di tanah air dibandingkan dengan negara tersebut sekalipun dengan berbagai dinamikanya. Belum lagi karakter masyarakat Indonesia yang sudah biasa dengan keberagaman sekaligus kearifan dalam menyikapi perbedaan tentu menjadi pertanyaan tersendiri.

Di balik kondisi Sudan yang mencekam dalam bingkai pemberitaan akhir-akhir ini, Sudan menyimpan berbagai kearifan lokal yang unik dan berkaitan erat dengan tradisi keilmuan Islam yang kental. Jika di Indonesia terdapat TPA atau TPQ (Taman Pendidikan Al Quran) dan semisalnya, di Sudan terdapat program atau bahkan lebih layak disebut sebagai tradisi yang biasa disebut sebagai “Khalwah”. Di dalam Khalwah ini anak-anak hingga remaja Sudan menghafal Al Quran dan beberapa cabang keilmuan lain dengan metode yang unik pula.

Mereka menyediakan satu papan dan pena atau kuas dengan tintanya. Para murid ini kemudian menulis ayat Al Quran atau materi hafalan yang akan dihafal saat itu pada sebuah papan yang disediakan lalu kemudian dibaca secara berulang. Metode ini menjadikan hafalan mereka lebih melekat dibandingkan dengan sekedar menghafal tanpa menulis ulang. Metode serupa juga ditemui di beberapa negara Afrika lain seperti Mauritania dan Eriteria.

Budaya menghafal materi, baik hafalan Al Quran, Hadits, hingga menghafal kamus menjadi menu harian yang biasa ditemui di Sudan dan sekitarnya. Seperti halnya tradisi menghafal sya’ir Alfiyah Ibnu Malik, Imriti, dan semisalnya yang biasa ditemui di pesantren-pesantren tanah air yang merawat dengan baik dan anggun nilai-nilai tradisi keilmuan selama berabad-abad.

Masyarakat Sudan juga dikenal sebagai orang-orang Afrika-Arab yang masih mampu berbahasa Arab secara fusha (formal), bahkan para pemulung di pasar sekalipun. Sedikit berbeda dengan yang ditemui di beberapa negara Arab lain seperti Arab Saudi yang dalam percakapan sehari-hari masih sering menggunakan bahasa ‘amiyah (non-formal). Pembacaan sya’ir bahasa Arab di tengah pasar bukan hal baru di Sudan. Di negeri ini banyak pula ulama berbagai bidang keilmuan dalam agama Islam yang mayoritas bermadzhab Maliki, sebuah magnet tersendiri bagi para mahasiswa dan mahasiswi dari Indonesia dan negara-negara lain untuk datang ke Sudan.

Selain itu pada dasarnya masyarakat Sudan yang sering bersentuhan dengan konflik juga memiliki jiwa solidaritas yang baik. Karena kesamaan nasib dan kondisi menjadikan mereka memiliki jiwa solidaritas yang tinggi. Selain itu di negara-negara tetangganya seperti Arab Saudi, tenaga kerja dari Sudan dikenal ulet dan disiplin dalam bekerja. Jika diperhatikan, dalam kondisi masyarakat yang kental dengan nilai agama dan solidaritas sosial yang kental seperti ini pun, konflik berdarah sesama putra bangsanya terjadi. Kerusakan meluas, korban berjatuhan dan penderitaan seolah tanpa henti.

Bukan tradisi ilmiah atau nilai agama dan solidaritas sosial yang kental, akan tetapi nafsu kekuasaanlah yang merusak segalanya. Suasana akhir Ramadhan yang sepantasnya tenang dan damai terpecah dengan pertempuran yang sulit diketahui dua ujung kubunya. Hari raya yang seharusnya menjadi hari bahagia bagi semua, menjadi hari berdarah bahkan bagi mereka yang tidak berdosa. Mereka yang menjadi pelaku sekaligus korban adalah darah daging dan bangsa mereka sendiri. Mereka tidak terlalu banyak ragamnya seperti Indonesia yang merangkum banyak ragam suku, bangsa dan agama menjadi satu negara yang rukun dengan kebhinekaannya.

Maka perlu menjadi sebuah pelajaran berharga bagi bangsa Indonesia untuk tetap menjaga nilai persaudaraan dan persatuan di tengah hari-hari dekatnya pemilihan umum tahun 2024 mendatang. Sekalipun terbilang jauh, akan tetapi atmosfer hangatnya berbagai isu pihak satu dengan yang lain telah dirasakan hari-hari ini. Baik Indonesia maupun Sudan, keduanya terdapat beberapa titik kesamaan.

Di bidang tradisi keislaman, solidaritas sosial, hingga sumber daya yang terbilang diperhitungkan oleh negara lain. Akan tetapi kekayaan tradisi dan sumber daya itu seolah lenyap tanpa bekas karena konflik,  hingga seolah sebuah negara yang sebenarnya hebat tidak dikenal kecuali hanya nama dan persepsi negatif tentangnya yang penuh dengan derita dan konflik.

Muhammad Utama Al Faruqi
Muhammad Utama Al Faruqi
Pemerhati isu-isu sosial keagamaan. Peminat dunia pendidikan dan sejarah.
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.