Sabtu, Juli 20, 2024

Perubahan Iklim, Peraih Nobel Fisika 2021, KTT COP-26

Bayu Aji Setiawan
Bayu Aji Setiawan
Saya merupakan seorang mahasiswa pendidikan fisika disalah satu universitas yang ada di Indonesia. Keingintahuan saya akan menulis membuat saya sampai disini. semoga bisa bermanfaat... Aamiiin

Perubahan iklim terjadi dengan sangat signifikan.  Perubahan iklim global memiliki efek fatal yang dapat diamati pada lingkungan. Gletser telah mencair, percepatan kenaikan permukaan laut, dan gelombang panas yang lebih lama dan lebih intens. Contoh diatas hanyanyal sebahagian kecil akan dampak buruk yang terjadi akibat perubahan iklim.

Data yang dihimpun dari National Aeronautics and Space Administration (NASA) iklim bumi telah berubah sepanjang tahunnya, faktanya memberikan bukti bahwa CO2 atmosfer telah meningkat sejak revolusi industri yang dimulai sejak 1760. Aktivitas manusia menjadi penyumbang besar dalam kerusakan bumi contohnya penggunaan rumah kaca. Efek rumah kaca (Green House Effect), diartikan sebagai naiknya suhu bumi (Pratama, R .2019).

Meningkatnya suhu bumi disebabkan oleh terperangkapnya sinar matahari gelombang panjang (inframerah) oleh gas–gas rumah kaca. Selama abad terakhir pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara dan minyak telah meningkatkan konsentrasi karbon dioksida (CO2) di atmosfer.

Hal itu terjadi karena proses pembakaran batu bara atau minyak dengan menggabungkan karbon dan oksigen di udara untuk menghasilkan CO2. Pada tingkat yang lebih rendah, aktivitas pembukaan lahan untuk pertanian, industri, dan aktivitas manusia lainnya telah meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca.

Perubahan iklim terjadi bukan berarti tanpa perhatian dari para ilmuan dan pemimpin dunia. Ilmuan juga terus merumuskan formulasi terbaik atas adanya perubahan iklim yang terjadi.

Tiga peraih nobel fisika 2021 secara fokus berperan besar atas penemuannya dalam hal kefisikaan salah satunya adalah mengenai penanggulangan perubahan iklim bumi. Hadiah nobel fisika 2021 berfokus pada kompleksifitas sistem fisik dari skala terbesar yang dialami bumi, salah satunya adalah iklim bumi.

Dikatakan dalam file yang dirilis oleh nobelprize.org, urgensi dari nobel fisika 2021 menyatakan bahwa pemanasan global itu nyata dan disebabkan oleh manusia. Keserakahan manusia bisa saja berujung penyesalan pada akhirnya. Ilmuan terus berupaya mencari solusi atas permasalahan yang terjadi, pada kesempatan kali ini khususnya mengenai perubahan iklim.

Senin, 6 Oktober 2021 Komite Nobel Fisika secara resmi menganugerahkan nobel fisika 2021 kepada tiga orang ilmuan senior yang juga disiarkan pada kanal youtube nobel prize. Ketiganya dari 3 negara yang berbeda yaitu Syukuro Manabe, Klaus Hasselmann, dan Giorgio Parisi. Mereka dianggap memiliki kontribusi lebih akan evolusi sistem fisik yang begitu kompleks, salah satunya ialah iklim.

Dikutip dari phys.org kepada Associated Press (AP), Mannabe salah seorang ilmuan berkebangsaan Jepang menyatakan bahwa perubahan iklim saat ini disebut sebagai “krisis akbar”. Hasselman seorang ilmuan berkebangsaan Jerman menyatakan bahwa kalaulah boleh memilih “Mending tidak ada pemanasan global dan tidak ada pula hadiah nobel”. Parisi sendiri seorang ilmuan berkebangsaan Italia menyatakan bahwa akan pentingnya mengambil keputusan kuat, secepat mungkin!

Sejatinya perubahan iklim secara perlahan terus terjadi dalam beberapa abad terakhir dan mulai kita lihat dampaknya bagi bumi. Ilmuan terus mencari formula terbaik dan mendesak para penduduk bumi agar lebih peduli akan dampat negartif yang ditimbulkan akan adanya perubahan iklim. Selain memformulakan sistem fisik mengenai iklim, secara tegas ilmuan mendesak agar para pemimpin dunia bergerak cepat menghasilkan suatu keputusan yang dapat diterapkan.

Dilain pihak, dalam hal ini para ilmuan dunia, nyatanya para pemimpin dunia juga telah melaksanakan pertemuan secara rutin guna membahas perubahan iklim yang terjadi. Salah satu yang terbaru yakni United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) Atau disebut juga COP-26 World Leaders Summit yang baru saja diadakan pada tanggal 01-02 November 2021 di Glasgow, Skotlandia. Presiden Indonesia Ir.H.Joko Widodo turut hadir dalam agenda tersebut.

Dikutip dari laman resmi unfccc.int: “Conference of the Parties (COP), the sixteenth session of the Conference of the Parties serving as the meeting of the Parties to the Kyoto Protocol and the third session of the Conference of the Parties serving as the meeting of the Paris Agreement (COP 26/CMP 16/CMA 3), also referred to as the United Nations Climate Change Conference 2021, in Glasgow, the United Kingdom”.

Berdasarkan laman resmi diatas dikatakan bahwa agenda tersebut berfungsi sebagai pertemuan protokol kyoto dan perjanjian paris juga sebagai Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa 2021. Agenda COP-26 World Leaders Summit  menandakan pentingnya bagi para pemimpin dunia untuk memberikan tindakan nyata dan rencana yang kredibel yang bertujuan untuk mencapai tujuan COP yang sukses dan tindakan terkoordinasi untuk mengatasi perubahan iklim.

Pertemuan tahunan ini tentu diharapkan tidak hanya menjadi pertemuan tahunan tanpa adanya aksi nyata. Para aktivis lingkungan hidup tentu berharap agenda tahunan ini dapat menjadi kontribusi nyata para pemimpin dunia dalam mengatasi perubahan iklim dunia.

Salah satu Aktivis iklim Swedia, Greta Thunberg, menggunakan pidatonya di konferensi Youth4Climate pada (28/9) di Milan dengan mengunakan kata-kata satire yang ditujukan untuk pemimpin dunia. Dalam video yang diunggah dikanal youtube BBC News, Greta Thunberg berpidato dengan kata “Bla, bla, bla” youtu.be. Hal ini merupakan respos atas kelambanan para pemimpim dunia dalam mengatasi perubahan iklim yang mengkhawatirkan.

Efek perubahan iklim global memiliki sifat yang multisektoral serta mempengaruhi berbagai lini sektor (Putri Setiani, 2020). Lini sektor tersebut diantaranya ialah dalam bidang ekonomi, keehatan, dan sosial. Tiga sektor utama tersebut memiliki implikasi besar dalam kelangsungan hidup penduduk bumi.

Kita sebagai masyarakat dunia menaruh harapan besar agar formula-formula yang telah dihasilkan para ilmuan dapat segera diterapkan. Sehingga anugerah nobel fisika 2021 bukan hanya ajang pemberian penghargaan tahunan namun memiliki efek yang terasa. Begitupun dengan KTT UNFCCC yang diikuti hampir sebahagian besar pemimpin dunia, sekiranya menjadi forum yang terasa manfaatnya bagi kita semua.

Bayu Aji Setiawan
Bayu Aji Setiawan
Saya merupakan seorang mahasiswa pendidikan fisika disalah satu universitas yang ada di Indonesia. Keingintahuan saya akan menulis membuat saya sampai disini. semoga bisa bermanfaat... Aamiiin
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.