OUR NETWORK
Jumat, Juni 25, 2021

Perjuangan Dibalik Sosok dalam Uang Pecahan Rp.10.000

Pandhu Amartya
Seorang penulis artikel yang memiliki minat dalam membahas sejarah dan geografi. Sejarah yang ditekuni tidak hanya sejarah Indonesia, namun sejarah dunia pun juga. Dalam berbagai artikel, akan dijelaskan bagaimana umat manusia akan hidup di masa depan terkait dengan peninggalan mereka.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu menggunakan uang sebagai alat transaksi ketika belanja dan membeli barang di pasar.  Memang bukanlah suatu hal yang baru lagi kalau di setiap satu sisi pada uang kertas yang kita pegang terdapat gambar tokoh nasional. Dari sekian banyak nilai mata uang kertas keluaran Bank Indonesia pada tahun 2016, terdapat salah satu uang kertas yang menampilkan foto seorang tokoh Papua, yakni Frans Kaisiepo.

Frans Kaisiepo adalah salah satu tokoh yang penting dalam sejarah nasional NKRI. Beliau dapat ditemukan di satu sisi uang kertas pecahan Rp.10.000,00. Penetapan foto tokoh dalam uang kertas ini bertujuan untuk mengenang jasa Frans dalam memperjuangkan Negara Kesatuan Republik Indonesia, terutama bagi provinsi kelahirannya Papua atau dikenal juga dengan Irian Jaya. Jasa yang disumbangkan oleh Frans Kaisiepo adalah penggantian nama daerah Papua menjadi Irian, karena beliaulah yang pertama kali yang mengusulkan penggantian nama provinsinya.

Frans Kaisiepo lahir di Biak, Papua pada 10 Oktober 1921, dimana pada masa itu Indonesia masih bernama Hindia Belanda. Keluarga Frans merupakan keluarga yang tinggal dan hidup di pedalaman Biak. Meskipun ayahnya merupakan pandai besi sekaligus pemimpin dari suku itu, Frans Kaisiepo merupakan salah satu murid terpelajar yang termasuk di kelompok elit karena sekolahnya yang berdasarkan pada kurikulum pendidikan kolonial, yakni Papua Bestuur School.

Ketika masih muda, Frans tidak puas dengan nama Papua karena memiliki kesan yang negatif dan merendahkan bagi penduduk setempat. Beliau lebih memilih nama yang lain dari Papua yaitu Irian, karena kata “Irian” memiliki arti panas dalam bahasa Biak. Nama “Irian” ini memadai untuk wilayah Papua menurutnya karena letaknya yang berada di garis khatulistiwa, yang mana membuat Papua terpapar sinar matahari yang panas sepanjang tahun. Selain itu, sebutan “Irian” juga memberi harapan bagi Papua untuk membawa masa depan menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam perjuangannya, Frans Kaisiepo bergabung dengan Komite Indonesia Merdeka. Frans Kaisiepo menjadi satu-satunya wakil yang berasal dari Papua dalam konferensi Malino. Di dalam konferensi ini, beliau mengusulkan nama provinsi Papua diganti menjadi Irian. Usulan ini diterima oleh para wakil pada konferensi ini.

Nama Irian ini kemudian dibuat akronimnya oleh Soekarno menjadi “Ikut Republik Indonesia Anti Nederland”. Seiring berjalannya waktu, nama Irian diikuti dengan kata “Jaya” menjadi “Irian Jaya”. Akan tetapi, pada masa jabatan presiden K. H. Abdurrahman Wahid, nama provinsi Irian Jaya diganti kembali menjadi Papua kembali dengan alasan kata “Irian” mengandung unsur vulgar dalam bahasa Arab (Urryan, berarti telanjang).

Setelah Proklamasi Kemerdekaan, Frans Kaisiepo memproklamasi kemerdekaan di Papua pada 31 Agustus 1945 layaknya ketika Indonesia memproklamasi kemerdekaannya. Frans Kaisiepo tetap memperjuangkan Irian sebagai bagian dari Indonesia dengan mendirikan Partai Indonesia Raya satu tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Sementara itu, NICA (Belanda) ingin mengambil hati Frans agar dekat dengan Frans yang pada kala itu menjadi kepala daerah Biak, Papua, namun tidak berhasil.

Frans menolak ikut menjadi wakil dari Konferensi Meja Bundar sebab tidak ingin didikte oleh Belanda dan lebih mempertahankan Indonesia, serta isinya yakni Papua akan dikelola setahun oleh Belanda (seharusnya Republik Indonesia yang seharusnya menangguh). Frans Kaisiepo pernah ditangkap oleh Belanda dan menjadi tahanan politik selama 5 tahun karena menolak untuk  melepaskan kesetiaannya pada Indonesia. Meskipun dibujuk dengan berbagai cara, Frans Kaisiepo tetap mempertahankan jiwa ke-Indonesiaannya.

Setelah wafat, Frans Kaisiepo dikenang sebagai salah satu Pahlawan Nasional Indonesia hingga sekarang. Bisa kita perhatikan, provinsi paling timur di Indonesia yang sebelumnya bernama Papua menjadi Irian dan Irian Barat (meskipun beberapa orang masih menyebutnya Papua) merupakan salah satu peninggalan dari Frans Kaisiepo. Tidak lupa juga bahwa beliau mempersatukan Irian Barat dengan Indonesia untuk terhindar dari penjajahan Belanda. Frans Kaisiepo tidak sendiri dalam memperjuangkan tanah kelahirannya, beliau juga ditemani oleh beberapa tokoh lainnya yang salah satunya adalah Soekarno.

Pada zaman sekarang ini, ada berbagai masalah politik yang harus diselesaikan terutama yang terjadi terhadap Papua dengan Indonesia. Akhir-akhir ini, terjadi kemunculan berbagai gerakan separatisme yang memiliki tujuan memerdekakan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia dan berdiri sebagai negara tersendiri.

Gerakan separatisme ini tidak hanya beredar di dalam Indonesia saja, namun di luar negeri juga ada. Yang mengerikan dari gerakan separatis dari Papua ini adalah mereka memiliki kelompok separatis bersenjata yang dapat mengancam persatuan dan kesatuan Indonesia. Kelompok ini sebenarnya ada tiga yang menyatu menjadi anggota militer yang mendukung kemerdekaan Papua dari Indonesia.

Kasus-kasus seperti ini akan berdampak sia-sia pada Indonesia kalau kita mengabaikan hal ini dan menganggapnya sebagai suatu kasus yang tidak serius, terutama bagi Frans Kaisiepo. Sebab, beliau telah memperjuangkan pulau dan bangsanya untuk bergabung dengan Indonesia demi terhindar dari Belanda yang menginginkan Papua dan agar bangsanya dapat hidup tanpa berada di tangan Belanda.

Namun, kalau sebagian masyarakat Papua tidak puas dengan Indonesia hingga ingin memisahkan diri, perjuangan Frans akan menjadi perjuangan yang percuma bahkan bisa saja dilupakan.

Dari kasus yang dihadapi oleh Indonesia dan Papua, ada salah satu jalan untuk memecahkan permasalahan tersebut. Frans Kaisiepo mengajarkan kita mengenai nasionalisme dan memperjuangkan kesatuan Rakyat Indonesia. Jangankan Persatuan bangsa di Indonesia terpecah belah karena ada suatu kekecewaan atau ketidakpuasan yang bersifat serius. Semboyan nasional Indonesia “Bhinneka Tunggal Ika” harus dipertahankan dalam kasus ini, jika tidak, semboyan tersebut hanyalah semboyan semata bagi rakyat Indonesia.

Pandhu Amartya
Seorang penulis artikel yang memiliki minat dalam membahas sejarah dan geografi. Sejarah yang ditekuni tidak hanya sejarah Indonesia, namun sejarah dunia pun juga. Dalam berbagai artikel, akan dijelaskan bagaimana umat manusia akan hidup di masa depan terkait dengan peninggalan mereka.
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERBARU

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.