Senin, April 19, 2021

Perempuan dalam Belenggu Bahasa

Pembakaran Transpuan, Hak Minoritas yang Termarjinalkan

Isu tentang minoritas seakan tak pernah usang, berbanding terbalik dengan penegakkan hukumnya yang nampak lusuh dan rapuh. Meskipun animo masyarakat pada isu ini bisa dibilang...

Dinamika Dibalik Kembali Turunnya Harga Penerbangan Domestik

Belum lama menghela nafas setelah maklumat penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) oleh PT Pertamina, masyarakat Indonesia sontak dibuat tertegun dengan melunjaknya harga tiket...

Relevansi Islam Keindonesiaan

Oleh M. Dudi Hari Saputra, MA. Pengurus Kahmi Samarinda Jujur, saya termasuk orang yang menolak anggapan bahwa Islam ini terkotak-kotak kedalam aliran atau kebangsaan tertentu (misal:...

Putusan Final dan Mengikat MK

Pilpres telah usai dan perdebatan panjang mengenai siapakah yang seharusnya menjadi Presiden dan Wakil Presiden Indonesia pun telah berakhir pada ucapan putusan Hakim Mahkamah...
Nuraini Dewi
a passionate writer who want to share knowledge and share stories. Have a big interest in gender, lifestyle, and culture.

Seperti yang telah kita semua ketahui, bahasa ialah instrumen penting dalam berkomunikasi. Bahasa juga merupakan bagian atau unsur dari sebuah kebudayaan. Bisa dibilang, bahasa yang digunakan oleh suatu masyarakat mengekspresikan konsep budaya yang relevan dengan masyarakat itu. Masyarakat yang menggunakan bahasa sebagai alat komunikasinya bisa kita sebut sebagai masyarakat bahasa.

Masyarakat bahasa sendiri adalah kelompok yang memiliki kesamaan, terutama kesamaan dalam hal bahasa atau variasi bahasa. Variasi bahasa dipengaruhi oleh berbagai perbedaan atau bahasa kerennya, heterogenitas yang ada di dalam masyarakat. Heterogenitas itu terdiri dari beberapa aspek seperti; kelas sosial, pekerjaan, tingkat pendidikan, usia, agama, ras, dan gender.

Bicara soal bahasa, ternyata bahasa punya kaitan yang erat dengan peran gender yang ada di masyarakat. Robin Lakoff menyebutkan, bahwa ternyata perempuan bisa mengalami diskriminasi bahasa pada dua hal, pertama pada bagaimana cara mereka diajari menggunakan untuk menggunakan bahasa, lalu kedua dalam hal bagaimana pada umumnya bahasa memperlakukan perempuan itu sendiri. Dalam menggunakan bahasa, kaum laki-laki dan kaum perempuan dipersepsi menggunakan cara berbahasa yang berbeda.

Berbagai perbedaan tersebut seringkali menyudutkan kaum perempuan dalam posisi yang lebih lemah dan subordinat, sedangkan kaum laki-laki ditempatkan dalam posisi yang lebih kuat dan lebih dominan.

Lakoff juga mengatakan, kedua hal yang mendiskriminasi perempuan dalam hal berbahasa tadi, bisa kita lihat pada posisi perempuan yang sering di degradasikan seperti menempatkan perempuan sebagai objek seksual atau pelayan, misalnya.

Dari berbagai studi yang dilakukan oleh peneliti mengenai relasi antara bahasa dan gender, terdapat adanya kesamaan atau kemiripan dari hasil penelitian mereka. Hasil penelitian itu dapat dikategorikan ke dalam empat kelompok masalah: (1) Masalah penggunaan bahasa atau fungsi bahasa.

Ditemukan bahwa perempuan pada umumnya lebih peka dengan apa yang diucapkannya. (2) Masalah yang berkaitan dengan hubungan keakraban antara masing-masing pembicara. (3) Masalah yang berkaitan dengan kekuasaan. Dalam beberapa penelitian menunjukkan bahwa laki-laki lebih sering mendominasi dan menginterupsi dalam pembicaraan.

Hal itu terjadi terutama ketika kekuasaan dan status perlu untuk ditonjolkan. (4) Masalah yang berhubungan dengan status. Ditemukan bahwa perempuan cenderung lebih sering menggunakan bahasa baku jika dibandingkan dengan laki-laki dalam konteks sosial yang sama. Perempuan lebih sering menggunakan bahasa baku tidak lain ialah untuk menaikkan status sosialnya.

Di dalam bahasa Indonesia sendiri, beberapa ungkapan menunjukkan seakan-akan perempuan ditakdirkan menjadi makhluk yang pasif dan seringkali diposisikan sebagai penerima.

Sebaliknya, laki-laki lebih sering diposisikan sebagai makhluk yang aktif. Bahkan, penggunaan kata wanita sendiri sebetulnya sudah merupakan representasi budaya patriarki di Indonesia.

Kata wanita diyakini berasal dari bahasa Sansekerta, dengan kata dasar wan yang memiliki arti nafsu, sedangkan kata wanita memiliki arti yang dinafsui atau sebagai objek seks. Kemudian dalam bahasa Jawa (Jarwa Dosok), kata wanita memiliki arti wani ditata yang artinya berani ditata.

Beberapa kosa kata dalam bahasa Indonesia juga memposisikan perempuan sebagai korban dan disalahkan, sebaliknya, laki-laki sering diabaikan kesalahannya. Misalnya Pekerja Seks Komersial (PSK) yang sering disebut sebagai wanita panggilan, namun kita hampir tidak pernah mendengar istilah pria atau laki-laki pemanggil. Sama halnya ketika keperawanan seorang perempuan sangat sering dipermasalahkan oleh lingkungan sosial daripada keperjakaan laki-laki.

Kita juga lebih sering mendengar istilah perempuan rusak karena pernah melakukan hubungan seksual dan dianggap nakal. Sebaliknya, kita hampir tidak pernah mendengar istilah laki-laki rusak karena melakukan hubungan seksual. Laki-laki yang nakal pun dianggap biasa dan lebih dapat diterima oleh lingkungan sosial daripada perempuan yang nakal.

Di dalam bahasa Indonesia sendiri, kata makian seperti “pelakor” (perebut laki orang) juga menandakan adanya budaya patriarki yang terbentuk. Di dalam hal itu perempuan di tempatkan pada posisi yang rendah, dipojokkan, dan disalahkan karena merebut pasangan perempuan lain. Hal itu tentu saja salah, karena yang menjalani hubungan kan dua-duanya, pihak laki-laki dan pihak perempuan. Jadi, yang seharusnya salah adalah dua-duanya, bukan hanya pihak perempuan saja.

Makian untuk perempuan yang bermakna negatif juga sangat banyak sebutanya, seperti jalang, pelacur, dan gundik yang memiliki arti hampir sama di KBBI, yaitu wanita tunasusila. Sedangkan makian untuk laki-laki dalam padanannya hanya ada satu yang paling terkenal, yaitu gigolo yang memiliki arti laki-laki bayaran.

Dari berbagai contoh itu saja, bisa kita lihat bahwa pada realitasnya, laki-laki dapat disebut sebagai tokoh pembentuk bahasa. Selain dari penempatan perempuan dalam posisi yang inferior hingga selalu disalahkan/disudutkan, makian yang digunakan dalam berbagai bahasa juga seringkali menjadikan perempuan sebagai objek. Namun, hal yang menyedihkan adalah tidak jarang makian yang merendahkan posisi perempuan sering digunakan oleh perempuan itu sendiri untuk memaki perempuan lain.

Penempatan posisi laki-laki dan perempuan dalam hal bahasa ini tidak terlepas dari perbedaan peran sosial keduanya. Lingkungan masyarakat menempatkan perbedaan itu sehingga mengharapkan berbagai pola perilaku yang berbeda pula dari keduanya. Bahasa mencerminkan fakta sosial itu.

Cara yang dapat kita lakukan adalah dengan tidak mereproduksi budaya patriarkis tersebut, tidak memproduksi bahasa baru yang bersifat patriarkis, serta menempatkan perempuan dan laki-laki pada posisi yang sama dalam bahasa.

Sumber:

Fakih, M. (2006). Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Handayani, C. S., & Novianto, A. (2011). Kuasa Wanita Jawa. Yogyakarta : LKiS Yogyakarta.

Hijriyah, U. (n.d.). Bahasa dan Gender. Media Neliti, 1-7.

Jupriono, D. (2010). Selayang Pandang Ketimpangan Gender dalam Bahasa Indonesia. Jurnal Untag-Sby, 33-38.

Kuntjara, E. (2003). Gender, Bahasa dan Kekuasaan. Jakarta: Gunung Mulia.

Lakoff, R. T. (2004). Language and Women’s Place. New York: Oxford University Press.

Wisnu, P. A. (2012). Bahasa dan Gender. Lite, 15-19.

Nuraini Dewi
a passionate writer who want to share knowledge and share stories. Have a big interest in gender, lifestyle, and culture.
Berita sebelumnyaMenata Mekanisme PAW
Berita berikutnyaTVRI, Televisi Tanpa Visi?
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Tadarus Etika: Konsep, Kerja, dan Tunjang

Allah memperkenankan kita bertemu sekali lagi dengan bulan suci umat Islam, Ramadan 1442 H. Kian tahun kebutuhan manusia akan etika semakin kuat. Integritas melangka:...

Belajar di Sekolah Kembali? Mari Kurangi Kekhawatiran Kita

Pemerintah Indonesia berencana membuka sekolah lagi di bulan Juli 2021. Ini kabar menggembirakan, mengingat bahwa bagi beberapa anak, pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar dari...

Terorisme Akan Selalu Dapat Tempat Jika Tokoh Islam Masih Ada yang Denial

Berkali-kali sudah esktremisme kekerasan dan kejahatan terorisme terjadi di negeri kita, sejak Bom Bali yang terjadi pada tahuan 2000an sampai tahun ini. Namun sikap...

Kubur Kosong (Refleksi Iman atas Banjir Bandang di Leuwayan)

Minggu, 04 April 2021, umat Katolik sejagat merayakan hari raya Paskah. Paskah adalah peristiwa kebangkitan. Karena itu merayakan Paskah berarti merayakan kemenangan Kristus atas...

Simbol Agama dalam Aksi Teroris

Di Indonesia dalam beberapa hari ini marak terjadi penyerangan oknum yang tidak bertanggung jawab pada wilayah agama dan kepolisian. Agama merupakan simbol kolektif dari...

ARTIKEL TERPOPULER

Masa Depan Peradaban Islam dalam Pandangan Ziauddin Sardar

Masa depan peradaban Islam dalam banyak tulisan selalu dikaitkan dengan ide kebangkitan Islam yang telah dimulai sejak abad ke-18 yang lalu. Meskipun sudah kurang lebih...

Kegiatan Di Bulan Suci Ramadhan Sesuai Pancasila

Indahnya bulan suci ramadhan tahun ini disambut suka cita oleh seluruh umat Islam dari Indonesia, luar negeri dan seluruh dunia setiap tahun. Dari hasil...

Definisi Kekuatan: Hard Power dan Soft Power

Konsep Dasar Power Kekuatan atau power dalam ilmu Hubungan Internasional adalah elemen utama, terutama dalam kaca mata realisme, Morgenthau menjelaskan bahwa perilaku negara pada dasarnya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.