Sabtu, April 24, 2021

Perbedaan pendapat Antara Bung Karno dan Mohammad Natsir

HAM, Nelayan, dan Bonus Demografi

Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 35 Tahun 2015 tentang Sistem dan Sertifikasi Hak Asasi Manusia pada Usaha Perikanan yang ditetapkan pada tanggal 8...

Unlogical Order

Landasan Ototritas Firman Allah : Lukas 6 : 35 Tetapi kamu, KASIHILAH MUSUHMU dan BERBUATLAH BAIK kepada mereka dan PINJAMKAN dengan tidak mengharapkan BALASAN,...

Kata Siapa New Normal itu Benar-Benar New?

Apakah anda kira, New Normal ini benar-benar New? Benar-benar baru? Siapa bilang? Selama ini kita saban waktu mengalaminya, koq. hanya butuh kepekaan sedikit saja....

Egoisme Pemerintah dalam Penegakan Hukum Lingkungan

Permasalahan lingkungan selalu menjadi persoalan yang sangat dinamis dan rumit. Bagaimana tidak, permasalahan lingkungan bukan hanya disebabkan oleh perubahan iklim secara alami. Banyak hal yang...
Raja Rogate Mangunsong
Semua info ada di instagram @RajaRogate

Pada saudara-saudaraku semua, baik kaum nasionalis ataupun kaum agamais, baik partai nasionalis ataupun partai islam, baiklah kita meniru dua tokoh bangsa kita yaitu Bung Karno dan Mohammad Natsir.

Mereka berdua adalah tokoh bangsa kita yang sering atau sangat sering bertentangan soal bagaimana seharusnya peran agama dalam suatu negara.

Bung karno dengan wataknya yang keras bersikukuh bahwa antara agama dengan negara haruslah dipisahkan, urusan agama menurutnya adalah urusan individu /privat, antara manusia dengan tuhannya.

Bung Karno tidak mau membawa agama di dalam perjuangannya. Sukarno menganggap cukup dengan nasionalisme saja, karena kalau membawa-bawa agama akan bercerai-berai.

Sementara itu Natsir memiliki pandangan yang berbeda dari soekarno, Natsir berpendapat bahwa agama dan negara tidak boleh dipisahkan, agama dan negara adalah dua hal yang harus sejalan. Natsir berpendapat untuk mencapai kemerdekaan, tidak cukup hanya dengan nasionalisme. Dorongan agama Islam, jauh lebih kuat.

Tapi dari perbedaan pendapat tersebut, Natsir dan Soekarno tetap berteman dekat, natsir tidak pernah menghujat soekarno denga menyebutnya atheis, begitu sebaliknya bung karno tetap menganggap natsir adalah kawan baiknya.

Waktu Sukarno ditangkap, diadili, dan dipenjara di Sukamiskin, yang pertama kali menjenguk Bung Karno di penjara adalah kelompok natsir. Kelompok yang tidak sepaham dengan gagasan Bung Karno. Bukan orang-orang PNI yang pertama kali menjenguk Bung Karno.

Ketika Bung Karno dibuang ke Ende, Nusa Tenggara Timur, kelompok Natsir pula yang mengirimi Bung Karno buku-buku bacaan. Dari tempat pembuangannya, Bung Karno intens berkorespondensi dengan pemimpin Persis, Ustadz A. Hassan.

Disini jelas sekali bagaimana kedua tokoh tersebut adalah dua orang yang sangat berkelas. Mereka bisa memisahkan antara urusan politik dan urusan perkawanan, antara kepentingan politik dan kepentingan pribadi, antara kepentingan rakyat dan kepentingan golongan.

Nah kemudian hari ini, bisakah kita meniru sikap kedua tokoh tersebut?

Bisakah kita tidak saling menghujat satu dengan yang lainnya?

Bisakah kita tidak saling menghujat antara kaum nasionalis dan kaum agamais?

Perbedaan pendapat adalah suatu hal yang wajar, selesaikan dengan pendapat-pendapat, bukan saling menghujat satu sama lain.

 

Sumber foto : google.com

Raja Rogate Mangunsong
Semua info ada di instagram @RajaRogate
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Toleransi, Kita Perlu Belajar dari Negeri Tolland

Sebelum mulai mendaratkan jemari diatas keyboard laptop, sejenak terlintas dalam pikiran saya sebuah kutipan yang menarik dari buku yang berjudul “Berjamaah (lagi) walau tak...

Terorisme Lahir dari Watak yang Retak

Salah satu musuh terbesar kemanusiaan adalah terorisme. Ia lahir dari watak retak manusia yang dikendalikan hasrat untuk membunuh. Dalam aksinya yang agresif, teroris tak...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mencari Teman Masa Pandemi? Why Not, Berikut Tipsnya

Sudah Satu Tahun Pandemi Covid-19 Melanda Indonesia. sekolah-sekolah, kampus, tempat yang bahkan kantor sekalipun harus berkegiatan online. Mahasiswa baru, murid baru dan orang-orang yang baru memulai...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

ARTIKEL TERPOPULER

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.