Minggu, Juli 14, 2024

Peran Filsafat dalam Praktek Pendidikan

Rif'an Hariri
Rif'an Hariri
Mahasiswa Magister Agribisnis, Guru Pengajar Program Keahlian Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian

Tak terasa dipenghujung bulan ini kita akan menatap Hari Guru Nasional pada tanggal 25 November 2021. Guru dan kependidikan adalah 2 hal yang tak bisa dipisahkan. Kependidikan tidak bisa berjalan tanpa adanya Guru, begitupun sebaliknya. Pendidikan di era saat ini telah mengalami perubahan dibandingkan zaman dahulu. Tugas utama seorang guru adalah membentuk manusia yang berbudi luhur dan berilmu.

Filsafat adalah suatu upaya memperoleh kebijaksanaan. Filsafat dan kependidikan merupakan mempunyai hubungan yang erat. Banyak ahli filsafat yang juga ahli dalam ilmu pengetahuan, sebagai contoh Immanuel Kant, atau Rene Des Cartes. Dari sinin bisa dipahami bahwa filsafat mempunyai peran dalam berkembangnya  ilmu pengetahuan. Guru sebagai penggerak dunia kependidikan alangkah baiknya memahami filsafat kependidikan sehingga bisa mewujudkan manusia yang berbudi luhur dan berilmu.

Salah satu ahli filsafat yaitu Socrates (470 SM), menyatakan bahwa salah satu hal penting dalam  kependidikan adalah dialektika. Sistem dialektika ini berhasil menghasilkan filusuf besar yaitu Plato. Dialektika ini merupakan komunikasi dua arah antara seorang guru dan murid.

Seorang guru sebaiknya tidak memaksakan suatu gagasan atau kehendak kepada siswa, melainkankan siswa didorong untuk berpikir kritis. Cara semacam ini relevan diterapakan dalam kependidikan saat ini. Hal ini dikarenakan dengan berkembangnya jaringan internet, maka seorang murid dapat memperoleh suatu informasi atau pengetahuan lebih cepat dan lebih terbaru dibandingkan seorang Guru.

Guru sebaiknya tidak menutup diri jika seorang murid mempunyai pendapat atau pemikiran yang berbeda. Dari perbedaan pendapat inilah terjadi dialog untuk menentukan titik temunya. Proses dialog ini akan membentuk pola pikir kritis dari seorang murid. Hal ini lebih baik dari pada murid hanya mendengar penjelasan dari seorang guru. Dengen terjadinya dialog maka akan mendorong murid berani mengungkapkan pendapat yang menurutnya benar.

Seorang filsafat John Dewey (1859–1952) menyatakan bahwa pengalaman adalah basis pendidikan. Menurut John dewey pendidikan adalah penggalian dan pengolahan pengalaman secara terus menerus. Pengalaman ini bisa  diperoleh ketika bereksperimen selama pembelajaran atau berasal dari kejadian yang dialami sehari hari.

Murid sebaiknya didorong untuk mengungkapkan fenomena atau pengalaman yang dialami dalam kehidupan sehari hari untuk dijadikan obyek pembelajaran. Pemahaman yang didapatkan seorang murid berdasarkan pengalaman atau eksperimen jauh lebih kuat dari pada sekedar mendengarkan penjelasan seorang guru.

Apa yang dikemukakan John Dewey relevan dengan pemikiran Socrates. Guru harus mampu mendorong murid untuk mampu berpikir kritis, bereksperimen sehingga mampu menarik kesimpulan secara benar. Pada akhirnya pendiidikan bukan hanya sekedar transfer pengetahuan dari guru ke murid, melainkan suatu proses yang mendorong murid untuk mengembangkan pemikirannya dengan  berpikir kritis.

Salah satu pemikiran filsafat Socrates adalah tentang budi luhur. Ungkapan yang paling terkenal dari pemikiran Socrates adalah “kenalilah dirimu” dan “Kehidupan yang tidak dikaji bukanlah kehidupan yang layak dijalani”. Maksud ungkapan Socrates adalah adalah bahwa manusia harus berpikir tentang apa yang menjadi tujuan hidupnya dan apa yang dicari dalam hidup.

Pemikiran lain Socrates adalah tentang etika. Ungkapan Socrates yang paling terkenal adalah “ Budi adalah tahu”. Maksud dari ungkapan ini adalah jika seseorang berpengetahuan maka dengan sendirinya akan berbudi baik. Pengetahuan disini bukan hanya tentang ilmu pengetahuan tetapi juga tentang baik buruknya sesuatu hal dalam hubungan sosial. Ungkapan Socrates ini jika ditelaah lebih lanjut ada kebenarannya. Fenomena yang terjadi saat ini banyak anak yang tidak mendapatkan pendidikan dengan layak terlibat dalam pelanggaran hukum seperti tawuran, balapan liar dan lain sebagainya.

Konsep etika dalam filsafat Socrates pada saat ini cenderung mulai diabaikan. Alangkah baiknya para guru juga mengedepankan etika dalam kependidikan. Jika cenderung mengejar nilai akademis para murid akan melakukan segala cara untuk mendapatkan nilai akademis yang baik, termasuk melakukan tindakan yang tidak jujur. Kebiasaan melakukan perbuatan tidak jujur inilah yang akan dibawa sampai dewasa jika tidak disikapi dengan benar.

Pada akhirnya tujuan suatu pendidikan adalah membentuk manusia yang berilmu dan berbudi luhur. Penerapan filsafat dalam pendidikan dapat membantu menyeimbangkan antara ilmu dan budi pekerti yang luhur. Oleh karena itu penerapan filsafat dalam pendidikan sudah selayaknya dimaksimalkan mulai saat ini

Rif'an Hariri
Rif'an Hariri
Mahasiswa Magister Agribisnis, Guru Pengajar Program Keahlian Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.