Sabtu, Mei 8, 2021

Pemilu, Prasangka, dan Perdamaian

Hari Raya Idil Fitri: Muhasabah Sosial

Berbeda dengan perayaan Hari Raya tahun tahun sebelumnya, lebaran tahun ini tepat setelah peristiwa politik paling penting dalam 5 tahun, yaitu Pemilu 2019 untuk...

Pemilu Ditengah Kewarasan Publik

Riuh gemuruh menuju perhelatan pesta demokrasi sudah mulai terasa dan begitu membahana di ruang publik. Pemilu 2019 yang dilaksanan secara serentak untuk memilih Anggota...

Ketika Golkar Kembali Mendengar Suara Rakyat

Sejak kemarin malam masyarakat dan warganet mendapatkan hadiah ‘kejutan’ tentang pencabutan rekomendasi untuk Ridwan Kamil dan Daniel Muttaqien menjadi Gubernur-Wakil Gubernur yang diusung Partai...

Denny Siregar Benar, Jokowi Bukan Soeharto

Denny Siregar kesal. Saat ini ada yang terang-terangan menyatakan Jokowi sama saja dengan Soeharto. Mengingat ketidaksanggupannya dalam membedakan antara sipil dan militer dalam konsepsi...
Baizul Zaman
Dosen Tetap di STMIK Kharisma Makassar.

Pemilihan Umum (Pemilu) yang diselenggarakan pada tanggal 17 April tahun 2019 ini setidaknya menghasilkan tiga hal. Yaitu, terpilihnya wakil rakyat yang akan duduk di lembaga legislatif,  pemimpin bangsa yang akan duduk di istana Negara serta prasangka publik yang bisa berpotensi berujung pada perpecahan bangsa.

Jika kita melihat hasil perhitungan suara berdasarkan versi hitung cepat yang dikeluarkan oleh beberapa lembaga survey beberapa saat setelah pencoblosan usai dilakukan beberapa minggu yang lalu, sebetulnya kita sudah punya gambaran siapa saja yang menjadi pemenang dalam kontestasi politik ini.

Khususnya untuk presiden dan wakil presiden yang terpilih. Pun demikian, jika kita mengacu pada hasil real count KPU yang saat ini sudah hampir rampung 100 persen. Di situ kita bisa melihat dengan jelas perolehan suara pasangan presiden dan wakil presiden nomor berapa yang sudah unggul. Hanya saja, oleh sebagian orang hal ini tidak diterima dengan berbagai alasan yang ada.

Sehingga, yang terjadi kemudian adalah muncul berbagai prasangka yang menganggap bahwa jangan-jangan proses Pemilu yang terjadi saat ini penuh dengan kecurangan yang sistematis dan terstruktur. Bahkan ada yang menganggap telah terjadi kongkalingkong antara KPU dan lembaga survey terkait dengan penetapan hasil perhitungan suara.

Prasangka seperti ini pun akhirnya mewabah begitu cepat dan menyebar seperti kanker lalu meracuni pikiran sebagian dari masyarakat kita hari ini. Padahal, kalau kita perhatikan metode yang digunakan baik itu lembaga survey dalam melakukan perhitungan cepat serta cara-cara yang dijalankan oleh KPU dalam proses perhitungan suara yang disajikan lewat aplikasi SITUNG sebetulnya sudah sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah yang bisa diuji kebenaranya.

Namun, sepertinya orang-orang ini sudah terlanjur larut dalam prasangkanya. Akhirnya, semua yang ada hubunganya dengan Pemilu direspon dengan cara-cara yang kurang baik. Alhasil, keadaan pun berubah menjadi runyam. Masyarakat banyak yang kembali meragukan proses pelaksanaan Pemilu. Kebenaran pun menjadi kabur dan sepertinya sulit untuk diwujudkan. Padahal, tanggal 22 Mei sudah semakin dekat.

Tentu saja kondisi ini patut untuk direspon dengan serius. Jangan sampai berlarut-larut dan akhirnya bisa menggagalkan proses Pemilu yang sudah diselenggarakan dengan biaya mahal dan menelan banyak korban jiwa. Segala macam prasangka yang tidak benar adanya harus segera mulai direduksi agar keadaan bisa lebih tenang menjelang diumumkannya hasil Pemilu oleh KPU.

Menyingkirkan Berbagai Prasangka

Benar bahwa, setiap orang punya hak untuk memenangkan pilihannya masing-masing. Akan tetapi, kita tidak boleh lupa bahwa dalam upaya untuk memperjuangkan pilihan itu ada aturan main yang harus dipatuhi. Kita punya lembaga yang bernama KPU sebagai pihak berwenang untuk menentukan hasil akhir dari Pemilu ini.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa terdapat sejumlah kekeliruan yang dilakukan oleh KPU saat melakukan proses rekapitulasi suara. Akan tetapi, sangat berlebihan juga rasanya jika kita terus menerus menaruh prasangka buruk terhadap lembaga ini setelah mereka mencoba untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang ada.

Akan lebih baik rasanya jika kita memberi waktu kepada mereka untuk bekerja, sembari menunggu diumumkannya hasil perhitungan suara yang telah dirampungkan seluruhnya. Setelah itu, jika ada hal-hal yang dianggap tidak berkenan, barulah mulai menempuh langkah-langkah hukum sesuai dengan jalur yang sudah ditetapkan.

Lagipula, rasa-rasanya tidak salah jika kita sedikit berprasangka baik terhadap KPU. Agar, energy kita tidak habis terkuras serta emosi dan kejiwaan kita juga bisa menjadi tenang. Apalagi saat ini kita sedang berada dalam suasana bulan suci Ramadhan. Bulan yang pernuh rahma dan berkah. Menenangkan hati dan pikiran dari prasangka yang buruk tentu menjadi hal yang diprioritaskan agar ibadah puasa yang dijalankan tidak tercemar oleh dosa.

Saling Merangkul

Tidak ada yang lebih indah dari perdamaian. Karenanya, kita bisa saling berdampingan dalam perbedaan. Namun, hal ini bisa saja terkoyak jika dalam masa-masa yang krusial seperti saat ini kita sesama anak bangsa tidak bisa saling merangkul antara satu dengan yang lainnya. Kita tidak boleh membiarkan prasangka buruk terus menerus merasuki hati dan pikiran kita sampai akhirnya membuat kita menjadi gila dan lupa diri. Terlalu mahal harga yang harus kita bayar jika hal itu dibiarkan terus terjadi.

Sudah terlalu banyak contoh yang bisa kita jadikan sebagai pelajaran, terkait dengan kesudahan orang-orang yang mengabaikan perdamaian. Yang mereka rasakan bukan saja kepahitan hidup karena pecahnya konflik dan pertikaian.

Namun, mereka juga kehilangan sahabat dan sanak saudara yang dicintai serta tanah air sebagai tempat untuk bernaung. Hal ini bisa kita saksikan seperti apa yang dialami oleh beberapa Negara yang ada di Timur Tengah, Suriah dan Sudan. Konfliknya begitu mengerikan dan meninggalkan luka menganga yang entah sampai kapan bisa sembuh kembali.

Oleh karena itu, kita semua harus mampu mengesampingkan segala prasangka yang bisa mengikis rasa persaudaraan kita. Kembali bergandengan tangan dan merapatkan barisan adalah pilihan yang tidak boleh diabaikan.

Demi perdamaian, kita harus melakukanya. Apapun yang terjadi dengan hasil Pemilu tahun ini. Karena seyogianya kita adalah saudara sebangsa dan setanah air. Kita sama-sama dilahirkan dari Rahim ibu pertiwi yang bernama Indonesia. Sehingga, tidak ada alasan bagi kita semua untuk saling bertikai dan bermusuhan hanya kerena beda pilihan.

Baizul Zaman
Dosen Tetap di STMIK Kharisma Makassar.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Idealitas Tata Kelola Perpustakaan

Perpustakaan sebagai pusat informasi menjadi salah satu media yang dituju oleh masyarakat untuk mendapatkan informasi melalui literatur melalui bahan pustaka tercetak. Meskipun teknologi semakin...

Negara dan Usaha Pemajuan Kebudayaan

Indonesia dikenal dunia sebagai negara yang multikultural dengan pusparagam kebudayaannya yang sangat melipah ruah, dari ujung Sabang di Aceh sampai tanah Merauke di Papua...

Pembelajaran Jarak Jauh, Efektifkah?

Sejak ditetapkannya pandemi Covid-19 di Indonesia, banyak sektor yang terdampak, mulai dari ekonomi, pariwisata, sosial dan budaya termasuk sektor pendidikan. Pembelajaran tatap muka (offline) yang selama...

Memperkuat Proteksi Konstitusi

Akhir-akhir ini, diskursus mengenai perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode semakin menguat. Untuk masa sekarang, Pasal 7 UUD NRI 1945 menegaskan pembatasan masa...

Orientalisme, Prancis, dan Kita

Kita tentu masih ingat beberapa bulan lalu hebohnya sebuah kasus di Prancis mengenai gambar Nabi Muhammad yang dianggap melecehkan Islam, yang menuai reaksi keras. Dalam...

ARTIKEL TERPOPULER

Khotbah Idulfitri: Inikah Ramadan Terakhir Kita?

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا Ramadan berlalu dan kita masih duduk termangu. Apa saja yang telah kita lakukan...

Menjawab Ahmad Daryoko, Parasit 212

Sudah sejak lama orang ini kerap menyebarkan kabar bohong. Motif di balik itu sebenarnya karena sakit hati. Orang ini pernah jadi Ketua Serikat Pekerja...

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

Kartini-Kartini 4.0

“Habis bikin kopi, sachet nya jangan dibuang sembarangan, pilah ke tempat sampah plastik!” begitu kata istri. Alhasil, saya harus memungut ulang sachet plastik kopi...

Agility di Pertamina

Membaca berita mengenai pengangkatan direksi Pertamina dengan tagline lebih agile, fokus, dan cepat, menggoda penulis untuk kembali mengulas kebijakan-kebijakan pemerintah dari kacamata agile. Pertama kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.