Kamis, Juni 20, 2024

Nasionalisme Mualaf Tionghoa Indonesia

Bagus Supriadi
Bagus Supriadi
Suka menulis apa saja sejak menempuh pendidikan di Pesantren Nurul Jadid Probolinggo. Sejak 2002 hingga 2012. Sekarang tinggal di Jember, menyelesaikan studi pascasarjana IAIN Jember.

Diantara kekayaan budaya yang ada di Indonesia, terdapat satu budaya yang merupakan perkawinan dari budaya yang sudah ada di Nusantara sebelum abad ke-6 Masehi. Yakni perkawinan dengan budaya Tionghoa. Disebut peranakan Tionghoa. (Iwan Santosa, 2012:xiv).

Bagi Iwan, peranakan Tionghoa adalah bagian dari budaya bangsa Indonesia. Namun, masih banyak masyarakat yang belum memahami budaya ini secara utuh. Beberapa faktor penyebabnya karena gelombang politik dan ekonomi dalam perjalanan bangsa.

Di tengah munculnya kembali isu ras, masyarakat perlu mendapat pengetahuan tentang komunitas tionghoa ini. Kedatangan mereka secara historis sudah tercatat dalam sejarah. Apakah mereka yang hidup di Indonesia tidak menjunjung nilai-nilai ke Indonesiaan?

Salah satu peran yang tercatat dalam sejarah adalah saat perjuangan mengusir penjajah. Komunitas ini turut berjuang merebut kemerdekaan Indonesia. Bahkan salah satu warga Tionghoa yang memiliki peran penting namun terlupakan adalah John Lie atau Daniel Jahja Dharma.

Dia menjadi komandan kapal The Outlaw yang berulang kali menerobos blokade angkatan laut kerajaan Belanda. John Lie juga mengembangkan jaringan intelijen dari Karachi, Manila hingga Taiwan untuk mendukung kemerdekaan Republik Indonesia.

Banyak kisah yang tak terungkap, sehingga nasionalisme warga Tionghoa yang tinggal di Indonesia tak perlu diragukan. Pancasila menjadi landasan dalam hidup berbangsa dan bernegara.

Muslim Tionghoa sekarang tak menafikan sejarah tersebut.  Hal itu membentuk nasionalisme Hongjay yang juga tak perlu diragukan. Baginya, hidup di Indonesia yang memiliki kekayaan beragam merupakan berkah yang tidak ternilai. Tak ada negara lain yang ditemuinya dalam penghargaan pada keberagaman.

Dia bisa menjalankan ibadah tanpa harus merasa ketakutan, bergaul luas dengan berbagai kalangan. Tak pandang suku, agama dan ras. Semua bersatua dalam kebersamaan. Tak hanya itu, hidup di Indonesia bisa menikmati beragam jenis makanan, berpuasa  sekitar 12 jam.

Berbeda dengan muslim yang ada di Islandia, harus berpuasa sekitar 20 jam. Denmark, Norwegia, Swedia harus menahan haus dan lapar selama 19 jam. Di Mesir, tak semua makanan tersedia sepert di Indonesia.Maka tak ada negara yang kehidupannya lebih nikmat selain di Indonesia.

Dia merasa bangga bisa hidup di Indonesia. Semangat keberagaman begitu dijunjung tinggi. Meskipun terlahir dari komunitas Tionghoa, namun darahnya adalah darah nusantara. Pancasila menjadi dasar dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kendati demikian, Hongjay merasa prihatin dengan beberapa muallaf lainnya yang masuk pada wadah keliru. Saat memilih Islam, dia belajar pada salah satu ustaz yang memiliki pemahaman radikal. Hasilnya, muallaf tersebut merasa paling benar dan yang lain salah.

Dia tak mau bergaul dengan orang yang berbeda pemahaman. Bahkan memutus hubungan dengan keluarganya yang  tidak mengiku jejak langkahnya. Akhirnya, sikap saling menghargai, menjaga persatuan kehilangan makna.

Hongjay tak terlalu berani mengusik muallaf tersebut. Sebab, tak mudah untuk merubah keyakinan yang sudah mengakar. Untuk mencegah hal itu berulang, PITI Jember memberikan wadah bagi komunitas lain yang akan melakukan konversi agama.

Bagus Supriadi
Bagus Supriadi
Suka menulis apa saja sejak menempuh pendidikan di Pesantren Nurul Jadid Probolinggo. Sejak 2002 hingga 2012. Sekarang tinggal di Jember, menyelesaikan studi pascasarjana IAIN Jember.
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.